Skip to main content

Sekelumit Cerita yang Tersisa dari Perjalanan Saya ke Malang

 

Cerita dimulai dari 2 malam sebelumnya. Kami bertiga, saya dan dua orang yang ada di foto, melakukan check-in online bersama. Dengan group call di Teams, kami saling bantu mengisi kolom-kolom di situs GA. Hebohnya seperti anak-anak SMP yang mau study tour, sampai istri saya komentar begitu.
Awalnya saya memilih kursi dekat jendela. Tapi teman saya, sebut saja W, harus duduk di dekat jendela karena… dia minum obat. Entah apa korelasi antara minum obat dan melihat awan, tapi ya sudahlah. Saya mengalah dan pindah ke kursi aisle.
Dua hari kemudian, kami akhirnya terbang ke Malang. Begitu mau duduk, tiba-tiba teman saya yang lain, sebut saja bro H, yang seharusnya duduk di tengah malah ingin duduk di pinggir. Alasannya: dia akan sering ke kamar kecil, yang tidak pernah terjadi selama di penerbangan kami.
Awal penerbangan semua baik-baik saja. Sampai pesawat mendekati kota Malang. Langit gelap, awan tebal, dan turbulensi mulai mengguncang. Rasanya seperti naik wahana Kora-kora di Dunia Fantasi. Kedua teman saya langsung panik; W bahkan tidak berhenti berzikir. Saya yang awalnya khawatir justru mendadak tenang, karena memang begitu kebiasaan saya. Kalau banyak orang panik, saya otomatis berubah jadi yang paling kalem.
Di tengah turbulensi, saya masih kesal karena kursi saya “diambil” bro H. Lalu muncul ide iseng.
Saya colek dia, lalu berbisik, “Bro, lo tau gak kalau sebenarnya kita gak boleh tukeran kursi? Ini bagian dari manifest pesawat.”
Bro H hanya melirik, wajahnya pucat.
“Lo bayangin, kalau beneran pesawat jatuh, terus mayat kita dikirim ke rumah masing-masing. Lucu gak sih? Istri gue bakal bingung, ‘Ini kenapa suami gue jadi gede begini?’”
Bro H menatap saya dengan sisa keberanian yang tersangkut. “Apaan sih, Bro?”
“Iya, kan semuanya berdasarkan nomor kursi kita, Bro.”
Dia mengembuskan napas. “Udahan ah, Bro.”
Entah dia menyesal mendengarkan cerita saya… atau menyesal bertukar tempat duduk.
Akhirnya pesawat mendarat juga, setelah setengah jam berputar-putar di udara. Alhamdulillah. Dan kedua teman saya itu, yang tadi panik bukan main, justru menceritakan ulang semua kejadian kepada teman-teman lain… termasuk cerita iseng saya ke bro H, dengan sangat riang.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...