Skip to main content

Tuhan, Republik, dan Pemberontak yang Tak Menyerah

 

Nama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo sering muncul dalam buku sejarah dengan nada dingin: pemberontak, pemimpin DI/TII, ancaman bagi kedaulatan negara. Namun, di balik label itu, ada ironi yang menggigit. Ia bukan hanya pemimpin laskar bersenjata di pedalaman Jawa Barat; ia juga intelektual yang pernah menulis tajam melawan kolonialisme, sekretaris pribadi H.O.S. Tjokroaminoto, dan pengagum gagasan keadilan sosial yang bersumber dari Islam. Ia bukan pengkhianat bangsa, setidaknya tidak di awal. Ia adalah pejuang yang tersesat di persimpangan antara iman dan politik.

Kartosoewirjo muda lahir di zaman ketika Indonesia belum ada. Ia tumbuh di tengah kolonialisme yang menyayat harga diri pribumi, saat kaum terdidik pribumi mencari bentuk identitas baru: apakah mereka harus menjadi modern seperti Barat, atau berpegang pada akar Islam dan tradisi sendiri. Ia memilih jalan kedua. Bergabung dengan Jong Islamieten Bond dan Sarekat Islam, ia percaya bahwa kebangkitan bangsa tak mungkin terwujud tanpa kebangkitan iman. Bagi Kartosoewirjo, kemerdekaan bukan sekadar mengganti bendera, tapi menghapus segala bentuk penindasan, termasuk penindasan moral yang datang dari sistem sekuler Barat.

Namun, idealisme yang murni sering kali gagal berdamai dengan realitas. Setelah Indonesia merdeka, politik tidak lagi sesederhana “melawan penjajah.” Perjanjian Renville pada 1948 menjadi titik patah: TNI harus mundur dari Jawa Barat, sementara Kartosoewirjo memilih bertahan. Di matanya, itu bukan sekadar strategi militer, melainkan ujian iman. Ia menilai Republik yang baru lahir terlalu kompromistis terhadap Belanda. Dan dari kekecewaan itulah tumbuh keyakinan baru, bahwa Islam harus berdiri sebagai sistem negara, bukan hanya moral pribadi.

Pada 7 Agustus 1949, di Cisayong, Tasikmalaya, ia memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Tindakan itu bukan sekadar deklarasi politik, tapi pernyataan teologis. Ia melihat republik sekuler sebagai tubuh tanpa ruh; merdeka secara fisik, tapi kosong secara spiritual. Dalam benaknya, ia bukan pemberontak terhadap Republik, melainkan pelanjut jihad yang belum selesai. Ironisnya, semangat yang sama yang dahulu melawan Belanda kini diarahkan kepada sesama bangsa sendiri.

Sejarah kemudian mencatat, DI/TII menjelma menjadi gerakan bersenjata yang panjang, melahirkan kekacauan di berbagai wilayah dan memaksa TNI melakukan operasi besar-besaran. Kartosoewirjo bersembunyi di hutan-hutan pegunungan, memimpin pasukan yang makin lama makin kehilangan arah politiknya. Ketika ia akhirnya ditangkap di Gunung Rakutak tahun 1962, perjuangannya telah kehilangan makna awalnya. Ia masih mengaku teguh pada cita-cita Islam, tapi realitas menunjukkan darah sesama Muslim telah tertumpah atas nama negara yang katanya “beriman.”

Ada sisi tragis yang sering luput dari pelajaran sejarah sekolah. Kartosoewirjo bukan sekadar fanatik; ia adalah korban dari kegagalan komunikasi antara idealisme agama dan politik negara muda. Republik yang baru lahir belum mampu menampung gagasan Islam politik secara sehat; sementara Kartosoewirjo sendiri tidak mau mengakui pluralitas realitas sosial Indonesia. Ia percaya bahwa Tuhan punya satu sistem politik yang sempurna, dan manusia cukup tunduk saja. Dari situlah kesalahan fatalnya: ketika keyakinan berhenti menjadi sumber etika, dan berubah menjadi alat pembenaran kekerasan.

Presiden Soekarno sendiri, yang dulunya sahabat seperguruan di bawah Tjokroaminoto, disebut-sebut merasa berat hati menandatangani hukuman mati untuk Kartosoewirjo. Tapi negara tak bisa dibiarkan memiliki dua proklamasi. Keadilan politik kadang menuntut kekejaman hukum. Pada akhirnya, Soekarno menandatangani surat itu, bukan karena benci, melainkan karena negara tak boleh membiarkan dua kebenaran hidup berdampingan dalam satu bendera.

Namun sejarah, seperti biasa, tidak selesai di pengadilan. Beberapa dekade setelahnya, gagasan tentang negara Islam kembali muncul dalam berbagai rupa: NII faksi-faksi kecil, Jemaah Islamiyah, bahkan Khilafatul Muslimin. Semua menelusuri jejak spiritual ke sosok yang dieksekusi di tahun 1962 itu. Tapi yang sering dilupakan: Kartosoewirjo bukan sekadar ingin kekuasaan agama, ia ingin menegakkan keadilan sosial. Ia hanya gagal memahami bahwa keadilan sosial membutuhkan ruang dialog, bukan monolog ideologi.

Kisah Kartosoewirjo memberi pelajaran yang lebih luas daripada sekadar catatan pemberontakan. Ia mengingatkan bahwa setiap idealisme yang menolak kompromi dengan realitas akan cepat membusuk. Ketika iman berubah menjadi ideologi, maka surga pun bisa dijadikan alasan untuk menyalakan api. Di situlah letak tragedi seorang Kartosoewirjo, ia ingin menegakkan kebenaran Tuhan, tapi lupa bahwa kebenaran Tuhan tidak butuh senapan manusia.

Kini, lebih dari tujuh dekade setelah proklamasi NII, kita hidup di negeri yang masih mencari keseimbangan antara iman dan kebangsaan. Kartosoewirjo sudah lama mati, tapi pertanyaannya belum: bagaimana menjaga agama agar tetap menjadi sumber moral publik tanpa menjadikannya alat kekuasaan? Mungkin jawabannya bukan pada Kartosoewirjo, bukan pula pada Soekarno, melainkan pada keberanian bangsa ini untuk terus berdialog antara langit dan bumi. Karena sejarah Indonesia, sejak awal, memang selalu berputar di antara keduanya.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...