Skip to main content

Generasi Sekarang Dibilang Lembek, Generasi Dulu Katanya Kaku. Emang Iya?

Kalau tiap ada perdebatan lintas generasi, pasti kalimatnya muter di situ-situ aja.

“Anak sekarang mentalnya lemah.”
“Orang dulu kaku banget, nggak fleksibel.”
“Gen Z kebanyakan overthinking.”
“Boomer nggak ngerti perubahan.”

Seolah-olah selalu ada satu generasi yang paling benar, dan generasi lain yang harus disalahkan.

Padahal kalau dipikir-pikir, tiap generasi itu cuma lagi survive dengan caranya masing-masing.

Manusia aja evolve dari dalam rahim. Lahir, tumbuh, dewasa, menua, terus selesai. Zaman juga sama. Dia jalan terus tanpa nunggu siapa pun siap atau nggak siap. Nggak ada tombol pause. Nggak ada opsi buat balik ke versi sebelumnya.

Dan kita semua, suka atau nggak suka, cuma bagian kecil dari perubahan itu.


Generasi Itu Nggak Pernah Lahir di Ruang Kosong

Satu hal yang sering banget dilupain waktu ngebandingin generasi adalah konteks.

Nggak ada generasi yang lahir di ruang hampa. Semua kebentuk sama krisisnya masing-masing.

Ada generasi yang ditempa perang.
Ada yang dibentuk kelangkaan ekonomi.
Ada yang tumbuh di tengah lonjakan teknologi.
Ada juga yang besar di era ketidakpastian yang konstan.

Karakter itu nggak muncul dari motivasi quotes atau thread self improvement di internet. Karakter lahir dari tekanan. Dari situasi yang maksa orang buat adapt atau ketinggalan.

Setiap zaman punya challenge sendiri. Dan setiap generasi develop skill set yang beda-beda buat ngadepin challenge itu.


Baby Boomers

(1946 sampai 1964)

Generasi ini tumbuh setelah dunia literally hancur karena perang.

Buat mereka, stabilitas itu privilege. Punya kerjaan tetap itu bukan beban, tapi pencapaian. Kerja keras itu harga diri. Loyalitas itu kehormatan.

Stay di satu perusahaan puluhan tahun bukan tanda kurang ambisi. Itu tanda konsistensi.

Mereka hidup di dunia yang ngajarin satu hal
Kalau mau hidup aman, ya harus tahan banting.

Dan dari mindset itu, mereka bangun banyak fondasi yang sekarang kita nikmati. Infrastruktur, sistem kerja, institusi, semua lahir dari generasi yang kebiasa hidup dengan prinsip delay gratification.


Gen X

(1965 sampai 1980)

Gen X hidup di masa transisi.

Mereka lihat dunia berubah, tapi belum sepenuhnya ngerti arahnya ke mana. Teknologi mulai masuk, tapi belum jadi pusat kehidupan. Ekonomi fluktuatif. Struktur sosial juga shifting.

Dan di tengah ketidakpastian itu, mereka belajar satu hal penting
Mandiri.

Mereka terbiasa figuring things out sendiri. Nggak terlalu expect sistem buat nolongin. Nggak terlalu percaya sama janji-janji institusi.

Makanya Gen X sering dikenal skeptis, tough, dan realistis.

Buat mereka, dunia itu unpredictable. Jadi yang bisa diandelin cuma kemampuan adaptasi diri sendiri.


Milenial

(1981 sampai 1996)

Kalau generasi sebelumnya fokus ke stabilitas, milenial mulai nanya
“Stabil buat apa kalau hidup nggak terasa berarti?”

Mereka ngejar makna. Nggak cuma gaji. Nggak cuma jabatan. Tapi purpose.

Work-life balance mulai jadi topik serius. Kesehatan mental mulai dibahas openly. Passion dianggap valid buat dikejar, bukan sekadar hobi yang harus dikorbanin demi kerjaan tetap.

Dan yang paling kelihatan
Mereka berani question the system.

Kenapa harus kerja 9 to 5 kalau produktivitas bisa fleksibel?
Kenapa loyal sama perusahaan kalau perusahaan bisa PHK kapan aja?
Kenapa sukses harus diukur dari rumah dan mobil?

Milenial mulai redefining success.


Gen Z

(1997 sampai 2012)

Gen Z lahir di tengah digital noise.

Informasi nggak pernah stop. Notifikasi nggak pernah tidur. Perbandingan sosial literally ada di genggaman tangan 24 jam.

Mereka tumbuh dengan akses ke semua hal
Berita buruk dari seluruh dunia
Standar kecantikan yang nggak realistis
Ekspektasi karier sebelum umur 25
Tekanan buat selalu produktif
Dan ketakutan ketinggalan tren

Mereka jadi generasi yang kritis, cepat belajar, dan socially aware.

Tapi di saat yang sama, mereka juga bawa anxiety yang sering nggak kelihatan. Overstimulated tapi tetap dituntut buat perform.

Dibilang lemah? Atau sebenarnya cuma capek?


Gen Alpha

(2013 sampai 2025)

Gen Alpha mungkin belum banyak ngomong sekarang.

Tapi mereka lagi nyerap semuanya.

Mereka tumbuh di dunia di mana AI bukan teknologi masa depan, tapi bagian dari keseharian. Perubahan iklim bukan isu debat, tapi realitas. Dan ketidakpastian ekonomi bukan anomali, tapi norma.

Mereka bakal nerusin dunia yang hari ini masih kita debatkan di timeline dan kolom komentar.

Dan kemungkinan besar, mereka juga bakal dikritik sama generasi setelahnya.


Jadi… Konflik atau Kolaborasi?

Perbedaan lintas generasi itu nggak bisa dihindarin.

Value beda. Cara kerja beda. Cara komunikasi beda. Bahkan definisi sukses aja beda-beda.

Tapi pertanyaannya sekarang bukan lagi
Siapa yang paling kuat?
Siapa yang paling benar?
Siapa yang paling tahan banting?

Pertanyaan yang lebih relevan adalah
Gimana tiap generasi bisa bridge the gap dan kerja bareng buat bikin masa depan yang lebih baik?

Apakah perbedaan ini bakal terus jadi sumber konflik?
Atau justru bisa jadi kesempatan buat saling melengkapi?

Karena kalau dipikir-pikir, mungkin yang kita butuhin bukan generasi yang seragam.

Tapi generasi yang beda-beda, dan tahu kapan harus saling dengerin.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...