Skip to main content

Kisah yang Dititipkan ke Pengadilan Tuhan

 

Bayangkan Hari Penghakiman, bukan hanya sebagai adegan dramatis yang sering dibayangkan dalam mimpi-mimpi kita atau digambarkan dalam film-film spektakuler. Namun, sebagai sebuah momen sangat nyata di mana seluruh semesta, dari ciptaan yang paling besar hingga yang paling diremehkan, diberikan kesempatan untuk bersuara. Hari ketika tiada satu pun suara yang dipaksa bungkam, tiada satu pun jeritan yang diredam, tiada satu pun luka yang tak mendapatkan ruang untuk menjadi bukti.

Hari itu adalah hari ketika Allah menegakkan keadilan mutlak, keadilan yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan, tidak bisa dinegosiasikan dengan status, tidak bisa dilobi oleh kekuasaan, tidak bisa dipelintir oleh retorika. Keadilan yang tidak pernah salah takar, tidak salah alamat, dan tidak akan pernah lupa pada kerusakan sekecil apa pun yang pernah dilakukan manusia.

Di dunia ini, mungkin suara mereka tidak terdengar. Mereka tidak membuat laporan polisi. Mereka tidak menulis surat aduan. Mereka tidak menyewa pengacara. Mereka tidak punya media untuk mewawancarai penderitaan mereka. Tetapi di Hari itu hewan, sungai, tanah, dan angin sekalipun, semuanya akan memperoleh hak untuk menuntut keadilan.

Mereka akan menyampaikan kisah yang selama ini tidak pernah kita dengar, atau mungkin sengaja kita bungkam.

Hewan-Hewan yang Menuntut Keadilan

Rasulullah menggambarkan suatu pemandangan yang membuat siapa pun seharusnya malu untuk merasa aman ketika menzhalimi makhluk lain:

“Hingga hewan tanpa tanduk akan menuntut kepada hewan bertanduk yang menanduknya.”

Itu bukan metafora puitis untuk menghias khutbah. Itu adalah pengingat bahwa tidak ada kedzaliman sekecil apa pun yang akan luput dari hisab. Jika satu hewan yang hanya ditanduk sesaat saja mendapatkan hak gugatnya di hadapan Allah, maka bagaimana dengan hewan-hewan yang kehilangan seluruh dunianya karena kerakusan manusia?

Hewan yang rumahnya dibakar dengan sengaja untuk membuka lahan.
Hewan yang keluarganya mati satu per satu oleh kepungan api yang disebut “pembangunan”.
Hewan yang habitatnya diratakan demi industri yang tidak pernah kenyang.

Burung-burung yang kehilangan sarangnya dan terbang tanpa arah hingga kelelahan.

Orangutan yang ditarik paksa keluar dari pohon terakhir yang masih ia genggam.

Harimau yang areanya menyempit seperti pesakitan yang menunggu ajal.

Gajah yang tersesat ke desa karena belantara sudah raib, lalu dianggap ancaman dan ditembak mati.

Semua makhluk itu, yang di dunia mungkin hanya dianggap angka dalam laporan perusahaan atau objek dalam proposal investor, berdiri di hadapan Sang Hakim Yang Maha Adil. Mereka tidak butuh juru bicara. Tidak butuh aktivis. Tidak butuh LSM. Karena yang mendengarkan adalah Dia yang mendengar bahkan detak serangga yang terinjak.

Dan mereka berkata dengan bahasa yang hanya Allah yang mengerti:

“Inilah kerusakan yang mereka tinggalkan pada kami, ya Rabb.”

Tidak ada ruang lagi untuk dusta.
Tidak ada celah untuk menghapus jejak rantai gergaji.
Tidak ada tombol undo untuk menutup lika-liku bor minyak.
Tidak ada cara menyembunyikan hawa panas dari api yang sengaja dinyalakan.

Apa yang tak kita dengar di dunia, terdengar lantang di langit keadilan Tuhan.

Ketika Gunung dan Bumi Bersaksi

Al-Qur’an sudah memberi peringatan jauh sebelum manusia merasa dirinya terlalu pintar:

“Pada hari itu, bumi akan menceritakan beritanya.”
(QS. Az-Zalzalah: 4)

Para mufasir menjelaskan: bumi akan menjadi saksi. Ia akan bersaksi tentang setiap langkah yang menginjaknya, setiap luka yang diciptakan di tubuhnya, dan setiap kerusakan yang dipaksa ia tanggung tanpa sanggup menjerit.

Bayangkan seandainya tanah yang selama ini kita pijak akhirnya diberikan kesempatan bicara:

“Di sinilah aku dipaksa menelan racun.”
“Di sinilah pohon-pohonnya dicerabut hingga ke akar.”
“Di sinilah sungai mengalir hitam dan ikan-ikan mati bergelimpangan.”
“Di sinilah manusia membiarkan banjir merenggut nyawa makhluk lain hanya karena mereka buta oleh keuntungan.”

Dan langit mengiyakan.
Dan malaikat mengangguk.
Dan alam yang selalu kita diamkan kini berbicara sebagai saksi yang sangat kredibel.

Lalu manusia berkata pelan:

“Saya hanya menjalankan perintah…”

“Saya cuma bekerja…”

“Saya… tidak tahu…”

Namun pada Hari itu, alasan-alasan yang terdengar logis di dunia menjadi omong kosong yang rapuh. Karena ketidaktahuan tidak menyelamatkan siapa pun jika kehancuran sudah menjadi jejak langkahnya.

Keadilan yang Tidak Pernah Meleset

Di dunia ini, keadilan bisa miring. Bisa disuap. Bisa dilupakan. Bangku terdakwa bisa digeser tergantung siapa yang membayar. Hukuman bisa ditawar dengan nominal yang pas. Banyak perkara yang berakhir bukan dengan keadilan, melainkan kesepakatan gelap.

Tapi di Pengadilan Tuhan, tidak.

Tidak ada oligarki.
Tidak ada pemilik modal yang mendadak kebal hukum.
Tidak ada lobi-lobi yang meredakan hukuman.
Tidak ada aparat yang bisa diarahkan.
Tidak ada PR agency yang membersihkan citra.
Tidak ada buzzer yang membelokkan opini publik.

Semua manusia kembali menjadi makhluk sederhana: seorang hamba dengan amalnya. Tidak peduli gelarnya apa, jabatannya setinggi apa, rekeningnya sepanjang apa.

Lalu pertanyaan itu datang, tajam namun adil:

Berapa hutan yang engkau habiskan?
Berapa sungai yang engkau biarkan mati?
Berapa makhluk yang hilang tempat tinggalnya karena keputusanmu?
Berapa spesies yang lenyap tanpa sempat tertulis dalam buku ilmiah?
Berapa tanah yang engkau jadikan korban untuk hidup lebih mewah?

Tidak ada jawaban yang bisa direkayasa.
Amal baik dan buruk menjadi satu-satunya saksi material yang otentik.

Pada Hari Itu…

Tidak ada lagi quote bijak yang ditulis hanya untuk tampil peduli.
Tidak ada lagi caption “turut prihatin” yang hanya mempercantik feeds.
Tidak ada lagi post Instagram yang memancing simpati.

Yang tersisa hanya satu: pertanggungjawaban.

Seorang publik figur menulis, saat mengunggah foto anak gajah yang mati karena banjir bandang:

“Titip cerita ya, pas kamu ketemu sama Penciptamu.”

Kalimat itu terdengar puitis. Tapi juga pedih. Sebab mungkin kitalah pelaku kisah duka itu.

Dan pada akhirnya, manusia boleh menutup telinga di dunia ini. Mereka boleh menganggap jeritan alam hanya statistik dalam dokumen. Mereka boleh memelintir bencana menjadi sekadar “dampak sampingan pembangunan”.

Namun ketika manusia tidak lagi mau mendengarkan jeritan alam di dunia,
alam akan menceritakannya sendiri di hadapan Tuhannya.

Dan kita mau atau tidak, siap atau belum harus berdiri untuk menjawab.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...