Skip to main content

Mengedit Bencana, Menyunting Diri Sendiri

 

Sepanjang karier saya sebagai video editor di stasiun televisi, saya sudah berkali-kali mengedit liputan bencana alam. Tapi ada dua peristiwa yang menetap paling lama di kepala dan perasaan saya: tsunami Aceh 2004, dan banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat pada 2025.

Saat tsunami Aceh terjadi, saya baru tiga tahun bekerja sebagai video editor di Trans TV. Itu adalah liputan bencana pertama yang pernah saya tangani. Pengalaman yang benar-benar mengguncang. Tugas saya sederhana sekaligus kejam: memilah gambar yang dikirim kawan-kawan di lapangan. Beberapa di antaranya sangat brutal—terlalu dekat dengan kematian. Gambar-gambar itu tidak berhenti di timeline editing. Mereka ikut pulang, menempel di kepala.

Efeknya perlahan terasa. Saya sering terbangun di malam hari dengan mimpi buruk. Tidur tidak pernah benar-benar nyenyak. Nafsu makan menghilang. Tapi anehnya, saat itu saya belum menangis. Ada jarak emosional yang masih terjaga, mungkin karena usia, mungkin karena shock yang belum sempat diterjemahkan oleh perasaan.

Dua puluh satu tahun kemudian, bencana kembali datang. Banjir bandang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Saya masih bekerja sebagai video editor. Bedanya, kini saya berada di kantor berita asing. Polanya sama: memilah gambar dari lapangan, menjahitnya menjadi cerita yang utuh sesuai naskah. Secara teknis, tidak ada yang berubah.

Tapi saya yang berubah.

Kali ini saya menangis. Menangis melihat wajah-wajah korban saat mereka bercerita tentang kehilangan, tentang rumah yang hilang, tentang hidup yang tiba-tiba runtuh. Tangisan yang datang tanpa aba-aba, tanpa bisa ditahan. Dan bersamaan dengan itu, muncul kemarahan.

Di satu sisi layar ada manusia-manusia yang benar-benar menderita. Di sisi lain, ada atraksi sirkus para pejabat: datang, meninjau, berpose, lalu pergi. Kontras itu terlalu telanjang untuk diabaikan. Dan kali ini, saya tidak lagi punya jarak emosional untuk pura-pura kebal.

Mungkin karena usia. Mungkin karena pengalaman. Atau mungkin karena akhirnya saya sadar: yang berubah bukan hanya cara saya memandang bencana, tapi juga kesabaran saya terhadap kepalsuan yang selalu mengikutinya.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...