Skip to main content

Seratus Hari Menyelamatkan Sumatra — atau Menyelamatkan Wibawa Negara?

 

Seratus hari. Itulah angka yang dilemparkan pemerintah ke publik, seolah-olah pemulihan Aceh, Sumbar, dan Sumut adalah tugas yang hanya menunggu tiga lembar kalender disobek. Di saat lebih dari satu juta orang masih mengungsi, negara berdiri di podium dan menyebut angka Rp51 triliun sebagai modal menuju “pemulihan awal”. Angka yang besar, tentu saja cukup besar untuk membuat headline, tetapi belum tentu cukup untuk membangunkan tiga provinsi yang separuh infrastrukturnya tenggelam.

Karena di negeri ini, kita sudah terbiasa: angka besar bisa terlihat meyakinkan, tapi kenyataan di lapangan tetap harus diselesaikan dengan cangkul, tenaga relawan, dan warga yang mencoba bertahan hidup dengan logistik seadanya.


Mari kita mulai dari Aceh. Ia menjadi provinsi dengan kerusakan paling luas, digelontor kira-kira Rp25,41 triliun, disusul Sumbar Rp13,52 triliun dan Sumut Rp12,88 triliun. Angka yang tampak serius, namun bila dibandingkan dengan ribuan rumah rusak berat, jembatan putus, jalan ambruk, dan usaha-usaha kecil yang berhenti total, rasanya seperti mencoba menambal kebocoran kapal tanker dengan lakban premium. Tentu ada niat baik. Tapi niat baik tidak pernah cukup ketika realitasnya adalah warga yang kehilangan tempat tinggal, trauma psikologis, dan ketidakpastian nafkah yang menghantui setiap malam.

Lalu pemerintah berkata: “Semua ditanggung sendiri. Tidak ada bantuan negara lain.”
Keputusan yang terdengar patriotik bila dibacakan dengan efek echo dan bendera raksasa di belakang presiden. Tapi di lapangan, keputusan ini punya terjemahan sederhana: beban yang seharusnya bisa dibagi kini dipikul sendiri—oleh negara yang selama ini masih bolak-balik tersandung saat mengurus hal-hal yang jauuuh lebih kecil dari tiga provinsi terendam.


Kalau dibawa ke ruang yang lebih sunyi, tempat pengamat dan ekonom bekerja dengan statistik, pertanyaannya berubah: apakah target 100 hari itu realistis?
Pakar manajemen bencana akan bilang bahwa pemulihan fisik saja tidak cukup. Ada trauma kolektif, ada tekanan psikologis, ada satu juta orang yang merasakan “hilang” bukan hanya sebagai kata sifat, tapi sebagai keadaan permanen. Dan waktu seratus hari tidak pernah didesain untuk itu. Seratus hari hanyalah angka politik, angka yang rapi untuk konferensi pers.

Sementara itu, ekonom akan menambahkan dimensi yang lebih pahit: pemulihan tanpa bantuan luar negeri berarti kecepatan rekonstruksi mengikuti kapasitas internal. Dan kapasitas internal kita selama ini, jujur saja, sering tersendat bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena birokrasi yang membutuhkan tiga rapat untuk memutuskan satu hal yang sudah jelas sejak awal. Bila negara memilih berdikari total, maka ia juga memilih konsekuensinya: pemulihan berjalan secepat kemampuan terburuk dari sistemnya.


Indikator pemulihan pun seharusnya tidak sekadar tol yang bisa dilewati dan jembatan yang bisa diresmikan. Indikator terbaik justru yang jarang disebut: stabilitas pendapatan warga, jumlah pengungsi yang benar-benar bisa pulang tanpa rasa takut, dan kemampuan anak-anak kembali belajar di sekolah yang tak lagi berbau lumpur. Barulah setelah itu kita boleh bicara angka setahun dan bertanya apakah angka itu masih masuk akal atau hanya menjadi slogan yang mati pelan-pelan.

Karena pemulihan bukan soal timeline. Ia soal apakah hidup benar-benar kembali bisa dijalani.


Pertanyaan akhirnya pun kembali ke kita:
Apakah keputusan pemerintah menangani semua ini sendiri sudah tepat?

Jika jawabannya “ya”, maka kita percaya negara ini mampu berlari cepat tanpa tersandung.
Jika jawabannya “tidak”, maka kita sedang menonton versi lain dari tradisi lama: negara menjaga muka, rakyat menjaga hidup.

Dan dua hal itu jarang bisa selesai dalam seratus hari.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...