Skip to main content

She Said

 

Ada sesuatu yang menyesakkan dalam menonton She Said (2022). Bukan karena adegannya menampilkan kekerasan eksplisit — justru sebaliknya, karena film ini tak menampilkan sama sekali. Tak ada visual tubuh yang dilecehkan, tak ada teriakan di lorong hotel, tak ada sosok Harvey Weinstein yang ditonjolkan di layar. Yang ada hanya suara, cerita, dan diam — diam yang berat, lama, dan penuh ketakutan. Diam yang menjadi saksi bagaimana kekuasaan bisa membuat kejahatan terasa legal.

Disutradarai oleh Maria Schrader dan ditulis oleh Rebecca Lenkiewicz, She Said mengikuti dua wartawan The New York Times, Jodi Kantor (Zoe Kazan) dan Megan Twohey (Carey Mulligan), dalam mengungkap kasus pelecehan seksual oleh produser film ternama, Harvey Weinstein. Tapi ini bukan film tentang satu orang jahat. Ini film tentang sistem yang memungkinkan seseorang menjadi jahat selama puluhan tahun tanpa pernah disentuh hukum. Ini bukan kisah tentang predator — ini kisah tentang dunia yang memelihara diam.

Yang paling menghantam dari film ini bukan ketegangan jurnalistiknya, tapi keheningan para korban. Mereka yang dulunya calon aktris, asisten, sekretaris, pekerja muda dengan mimpi dan keberanian yang akhirnya dipatahkan oleh satu ruang hotel dan satu kekuasaan yang tak bisa disentuh. Weinstein hanya satu nama di antara ribuan. Yang lebih menyeramkan justru adalah cara dunia menatap mereka setelah semuanya terjadi: dengan curiga, dengan meremehkan, dengan bertanya “kenapa tidak bicara dulu?” — seolah mereka yang salah karena diam, bukan karena dunia tak mendengar.

Film ini pelan. Sangat pelan. Tapi justru di situ kekuatannya. Schrader tidak menjual sensasi, ia memaksa kita mendengarkan. Ia menunjukkan bagaimana jurnalisme bekerja bukan dengan teriakan, tapi dengan keberanian untuk sabar, menulis, mengonfirmasi, dan mengulang pertanyaan yang sama meski berkali-kali dijawab dengan air mata. Di balik layar, kamera Natasha Braier bergerak tenang dan penuh empati — seakan dunia di sekitarnya tak sadar sedang ada kejahatan besar yang dibungkus rapih dalam kontrak rahasia dan kebisuan bersama.

Carey Mulligan dan Zoe Kazan tidak berperan sebagai pahlawan yang disorot lampu sorot. Mereka hanya bekerja — menulis, menelepon, mengetik, menunggu balasan email. Tapi justru di sanalah heroisme sejati terasa. Bukan di panggung penghargaan, bukan di momen dramatis, tapi di meja kerja, di panggilan tengah malam, di saat seorang korban berkata pelan, “I was scared,” dan seorang wartawan hanya menjawab, “I understand.”

She Said mengingatkan kita bahwa kebenaran sering kali tak terbit karena kekurangan bukti, tapi karena terlalu banyak orang yang takut kehilangan posisi nyaman. Hollywood, seperti banyak sistem kekuasaan lain, hidup dari relasi: siapa yang bisa menolong siapa, siapa yang berani menyingkirkan siapa. Di dunia semacam itu, keadilan sering lahir bukan karena sistem bekerja, tapi karena seseorang memutuskan untuk berhenti diam.

Ketika laporan Kantor dan Twohey akhirnya terbit, itu bukan sekadar berita. Itu dentuman sejarah. Itu suara perempuan yang selama ini hanya bergema di kamar-kamar sunyi, akhirnya terdengar di ruang publik. Dari situ, lahirlah gelombang #MeToo — bukan sebagai slogan, tapi sebagai ledakan moral: bahwa tubuh perempuan bukan alat tukar, dan kesuksesan tak seharusnya dibeli dengan ketakutan.

Namun ironisnya, She Said juga memperlihatkan betapa lambatnya dunia berubah. Gerakan #MeToo datang, tapi patriarki tidak pergi. Kekuasaan masih punya wajah lama, hanya ganti pakaian. Dunia masih lebih percaya pada “keberhasilan” pria daripada luka perempuan. Korban masih ditanya “mengapa tidak menolak?” alih-alih “mengapa dia melakukannya?”. Seolah trauma itu harus punya logika agar bisa dianggap sah.

Film ini, pada akhirnya, bukan sekadar tentang Weinstein, atau jurnalisme, atau Hollywood. Ini tentang kita semua — tentang bagaimana kita memelihara budaya yang terlalu lama menutup mata demi kenyamanan. Tentang bagaimana dunia baru percaya setelah perempuan tersakiti terlalu banyak kali.

Ada satu momen kecil dalam film yang terasa paling jujur: saat Megan Twohey menatap layar komputer setelah berita mereka tayang. Tak ada tepuk tangan, tak ada sorak kemenangan. Hanya sunyi. Karena keadilan, bahkan setelah tiba, selalu datang terlambat. Tapi setidaknya, kali ini, ia datang.

Dan mungkin, bagi sebagian perempuan di luar sana, itu sudah cukup untuk mulai bicara.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...