Skip to main content

Sudah Amankah Ekosistem Gim Online untuk Anak Indonesia?

Indonesia hari ini bukan cuma negara dengan bonus demografi. Kita juga negara dengan bonus player base. Sekitar 185 juta orang bermain gim, dan mayoritas lewat ponsel. Mobile gaming sudah jadi default setting kehidupan sehari-hari. Bangun tidur cek HP, sebelum tidur grind sebentar, di sela-sela hidup cari hiburan di layar lima inci.

Namun, yang jarang dibahas adalah, hampir setengah unduhan gim online datang dari usia 0 sampai 18 tahun. Anak-anak dan remaja bukan sekadar penonton atau casual player. Mereka adalah MVP dalam industri ini. Tanpa mereka, grafik unduhan langsung drop.

Di titik ini, muncul pertanyaan: apakah ekosistem gim online di Indonesia ini sudah aman buat anak? 


Roblox: Dari “Game Anak” ke Open World Tanpa Moderator

Roblox sering dipromosikan sebagai gim kreatif. Visualnya ramah, karakternya lucu, gameplay-nya katanya edukatif. Anak bisa build map, bikin avatar, bahkan belajar logika coding. Kedengarannya seperti safe zone.

Masalahnya, Roblox bukan cuma game. Ia open world social space. Ada chat, ada voice, ada DM, ada komunitas. Dan setiap ruang sosial, cepat atau lambat, akan kena toxic spill kalau tidak dijaga.

Ketika Densus 88 mengungkap penangkapan lima tersangka teroris yang diduga menyebarkan paham radikal ke 110 anak di 23 provinsi lewat ruang digital, termasuk gim online seperti Roblox, narasi “ini cuma game anak-anak” langsung game over.

Radikalisme hari ini enggak datang pakai seragam atau teriak slogan. Ia datang pelan-pelan. Lewat obrolan santai. Lewat role-play kepahlawanan. Lewat rasa “kita satu tim”. Dari sekadar chat basa-basi, lalu naik level jadi ideologi.

Ini bukan teori konspirasi. Ini mekanik sosial yang sangat dikenal di dunia gim: bonding dulu, baru push objective.


Anak Online, Orang Dewasa Banyak yang Idle

Data KPAI menunjukkan 89 persen anak usia lima tahun ke atas sudah terhubung ke internet. Artinya, dunia digital bukan masa depan, ini current patch kehidupan mereka.

Ironisnya, banyak orang dewasa masih memperlakukan dunia digital sebagai ruang sampingan. Selama anak “di rumah” dan “tidak keluyuran”, dianggap aman. Padahal rumah digital sering kali no minimap, no radar, dan no guard.

Orang tua sering late join. Negara lebih sering spectator mode. Kita baru panik ketika ada headline, angka, dan konferensi pers. Sebelumnya, semua dianggap aman-aman saja. Seolah enggak ada warning sign.

Padahal risiko enggak muncul mendadak seperti boss fight. Ia lebih mirip slow poison. Tidak kelihatan, tapi HP terus berkurang.


Negara: Jago Ultimatum, Lemah di Early Game

Rencana pemerintah memblokir Roblox kalau enggak patuh aturan soal konten kekerasan terdengar tegas. PP Tunas juga terdengar progresif. Negara seolah masuk arena dengan ultimate skill.

Tapi internet bukan arena satu lawan satu. Ini multiplayer chaos. Blokir sering terdengar heroik di judul berita, tapi di lapangan sering cuma jadi temporary debuff. Anak-anak hari ini belajar VPN lebih cepat daripada kita belajar setting privasi.

Satu platform diblokir, mereka pindah server. Satu pintu ditutup, muncul jalur alternatif. Tanpa literasi digital, tanpa pengawasan konsisten, tanpa in-game moderation yang serius, kebijakan hanya jadi kosmetik, bagus di tampilan, minim efek.

Negara sering lupa: anak-anak enggak butuh larangan total, mereka butuh sistem yang dirancang aman sejak awal. Bukan patch darurat setelah bug fatal ditemukan.


Platform: “Kami Sudah Punya Fitur Keamanan” (Tapi Default-nya Off)

Platform digital sering bilang, “Kami sudah sediakan parental control.”
Masalahnya, fitur keamanan itu sering tersembunyi di menu panjang, default-nya mati, butuh literasi teknis dari para orang tua, dan baru aktif kalau ada yang melaporkan.

Dalam logika industri gim, engagement adalah raja. Semakin lama pemain online, semakin bagus metriknya. Keselamatan sering jadi side quest, bukan misi utama.

Anak-anak tentu memilih yang seru. Yang bebas. Yang ramai. Mereka enggak salah. Mereka cuma main sesuai desain sistem.

Yang patut ditanya adalah: siapa yang mendesain sistem ini, dan untuk siapa sebenarnya?


Radikalisasi Itu Bukan Boss Fight, Tapi Grinding

Kesalahan besar kita adalah membayangkan radikalisasi sebagai ledakan. Padahal ia lebih mirip grinding panjang. Pelan. Konsisten. Tanpa suara.

Anak-anak yang sedang mencari identitas, pengakuan, atau komunitas gampang terpikat. Dunia gim menawarkan itu semua: role, misi, leaderboard, rasa “dipilih”.

Narasi ekstrem bisa masuk lewat bahasa yang akrab: hero vs musuh, kita vs mereka, benar vs sesat. Dibungkus seperti lore, bukan ceramah.

Dan ketika anak sudah merasa satu tim, kritik terasa seperti serangan. Logika kalah oleh loyalitas. Di titik ini, log out tidak semudah menutup aplikasi.


Jadi, Sudah Aman atau Masih Trial Version?

Jawaban jujurnya: ekosistem ini masih beta.

Bukan karena anak-anak terlalu polos, tapi karena orang dewasa terlalu sering AFK. Kita menyerahkan ruang bermain pada algoritma dan pasar, lalu kaget ketika isinya enggak ramah anak.

Kita ingin platform bertanggung jawab, tapi ogah mengatur desainnya. Kita ingin negara tegas, tapi enggak mau repot memahami dunia digital. Kita ingin anak aman, tapi berharap semuanya selesai dengan tombol blokir.

Padahal, keamanan digital itu bukan soal ban atau kick player. Ini soal game design, server rules, dan siapa yang jadi admin.

Kalau terus begini, kasus 110 anak itu bukan akhir cerita. Itu cuma notifikasi awal. Warning pop-up yang seharusnya dibaca, bukan langsung di-skip.

Karena di dunia gim online, bahaya jarang datang sambil teriak. Ia datang sambil ngajak mabar, kirim chat ramah, lalu pelan-pelan mengubah cara berpikir.

Dan saat kita sadar, bar HP sudah tinggal sedikit.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...