Indonesia itu negara yang luar biasa sabar.
Sabar melihat korupsi.
Sabar melihat salah tangkap.
Sabar melihat tanah dirampas.
Sabar melihat laut dipagar.
Sabar melihat hukum dipelintir kayak kabel charger murahan.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa ditoleransi.
“Gibran ngantuk, ya?”
Boom.
Demokrasi langsung kejang-kejang.
Lucunya, sebelum kalimat itu keluar, Panji sudah ngomongin segalanya. Dari pembunuhan, narkotika, politik balas budi, sampai kabinet gemuk yang kalau naik lift mungkin harus antre shift.
Semua itu lewat.
Sunyi.
Damai.
Netizen kalem kayak abis minum teh chamomile.
Begitu satu kata ngantuk keluar, tiba-tiba:
-
Timeline panas
-
Kolom komentar berdarah
-
Buzzer bangun lebih cepat dari azan Subuh
Padahal yang disebut ngantuk itu cuma kondisi biologis.
Bukan tuduhan makar.
Bukan penggulingan negara.
Bukan ancaman ideologi.
Tapi entah kenapa, lebih menyakitkan daripada:
-
Salah tangkap orang
-
Perampasan tanah
-
Ormas pegang tambang
-
DPR tidur berjamaah
Kayaknya, di Indonesia hari ini, lebih bahaya dibilang ngantuk daripada bikin rakyat susah tidur.
Logika Ternak: Disentuh Sistem? Santai. Disentuh Anak? Ngamuk.
Fenomena ini sebenarnya sederhana.
Ini bukan soal kritik.
Ini soal hierarki kesakralan.
Isu-isu seperti:
-
hukum rusak
-
tambang brutal
-
tanah rakyat digusur
itu dianggap abstrak. Terlalu jauh. Terlalu ribet. Terlalu “ah itu urusan negara”.
Tapi begitu menyentuh figur, apalagi figur yang:
-
punya nama besar
-
punya ayah legendaris
-
punya karpet merah politik
Langsung muncul mode Protect The Asset™.
Ini bukan lagi politik gagasan.
Ini fandom.
Kayak K-pop, tapi tanpa koreografi.
Kayak Marvel, tapi semua karakternya bilang, “Ini demi bangsa.”
Stand-Up Comedy Itu Bukan Ancaman Negara, Tapi Tes Mental
Stand-up comedy itu unik.
Dia bukan laporan investigasi.
Bukan jurnal akademik.
Bukan pidato DPR.
Dia cuma cermin.
Dan masalahnya, banyak orang di negeri ini takut bercermin.
Karena yang kelihatan bukan wajah pahlawan, tapi wajah…
ya… agak kosong.
Makanya kritik struktural aman.
Karena sistem itu kayak hantu: semua tahu ada, tapi pura-pura nggak lihat.
Tapi roasting personal?
Waduh.
Itu kayak nyalain flash di ruangan gelap.
Dan yang kaget bukan penontonnya, tapi yang selama ini nyaman dalam gelap.
Yang Marah Bukan Karena Dihina, Tapi Karena Takut
Coba jujur sebentar.
Kalau seseorang benar-benar percaya pada kapasitas pemimpinnya, dia nggak akan marah karena candaan receh.
Obama di-roast? Santai.
Macron di-meme-in? Ketawa.
PM Inggris jatuh dari sepeda? Jadi merchandise.
Di sini?
Satu kata: ngantuk
Efeknya kayak kudeta.
Itu bukan kemarahan.
Itu kecemasan kolektif.
Takut kalau candaan itu benar.
Takut kalau publik sadar.
Takut kalau kekuasaan ternyata rapuh.
Karena kekuasaan yang kuat tidak alergi ditertawakan.
Yang alergi itu legitimasi yang dipinjam.
Demokrasi Kita Bukan Retak, Tapi Baperan
Ironisnya, reaksi berlebihan ini justru membuktikan kritik itu tepat sasaran.
Kalau demokrasi kita sehat, satu komika tidak akan dianggap ancaman nasional.
Kalau kepemimpinan kita matang, satu roasting tidak akan dianggap penghinaan negara.
Tapi nyatanya, kita hidup di sistem di mana:
-
rakyat disuruh dewasa
-
kritik disuruh santun
-
tapi kekuasaan gampang tersinggung
Ini bukan negara hukum.
Ini negara perasaan.
Dan di negara perasaan, yang paling sakral bukan konstitusi —
tapi ego.
Penutup: Yang Perlu Dibela Itu Rakyat, Bukan Refleks
Masalahnya bukan Panji.
Masalahnya bukan kata ngantuk.
Masalahnya bukan stand-up comedy.
Masalahnya adalah kita sudah terlalu lama:
-
membiarkan ketidakadilan lewat
-
tapi marah saat simbol disentuh
Kalau kritik pada sistem tidak bikin kamu bangun,
tapi candaan bikin kamu ngamuk,
mungkin yang ngantuk bukan yang di-roasting.
Mungkin yang tertidur itu…
nalar publik kita sendiri.
Dan lucunya, itu bukan punchline.
Itu tragedi.

Comments
Post a Comment