Skip to main content

Controlled Awakening: Kita Dikasih Spill, Tapi Tetep Nggak Bisa Nge-Do Anything

 

Di dunia intel tuh ada satu rule yang sebenernya simple banget:
Kalau infonya udah dilempar ke publik secara gratis… ya berarti itu bukan barang inti.

Itu cuma potongan yang aman. Safe to consume. Safe to outrage.

Yang bener-bener bisa bikin kursi kekuasaan goyang? Please. Itu nggak mungkin nongol di HP kita sambil kita scroll sebelum tidur.

Kalau filenya bisa kamu download, baca, share ke story sambil bilang “gila sih ini”, itu artinya menurut mereka itu udah nggak dangerous.

Dan lucunya, filenya dibikin tebel banget. Ribuan halaman. Nama artis, politisi, sosialita. Kita sibuk ngecek, “Eh dia ada nggak? Eh kok dia nggak ada?”

Padahal pertanyaan paling basic cuma satu:
Siapa yang actually fund semuanya?

Kalau nama yang bayar nggak muncul, ya itu cuma drama panjang. Bukan real accountability.

Terus ada yang bilang, “Ini kan udah dibongkar, berarti transparan dong?”

No babe. Bisa jadi bukan karena transparan. Tapi karena mereka tau kita nggak bisa ngapa-ngapain juga.

Paling mentok:
Marah.
Bikin thread.
Bikin konten analisis 12 slide.
Debat di komentar.

Habis itu? Besok kerja lagi. Meeting lagi. Hidup lanjut.

Ini tuh kayak controlled awakening. Kita dibikin sadar, tapi nggak dikasih power. Tau sistemnya busuk, tapi nggak punya akses buat beneran nyentuh akarnya.

COVID dulu kayak tes kepatuhan fisik.
Sekarang ini lebih ke tes mental.

“Masih peduli nggak sih kalian kalau moralitas dihancurin terang-terangan?”

Jawabannya: peduli.
Tapi cuma sebatas rage digital.

Dan itu yang paling aman buat sistem:
Masyarakat yang sadar semuanya kacau, tapi responnya cuma, “Yaudah lah, mau gimana lagi.”

Bukan karena nggak ngerti.
Bukan karena bego.

Tapi karena ngerasa kecil banget dibanding sistem.

Dan honestly?
Orang yang merasa powerless itu jauh lebih gampang di-manage daripada orang yang masih percaya mereka bisa bikin perubahan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...