Skip to main content

Dari Fancam ke Front Bersama: ASEAN Lagi Masuk Arc Persatuan

 

Internet Asia Tenggara minggu lalu itu kayak nonton Avengers: Endgame, tapi yang assemble bukan superhero, melainkan netizen + fandom K-pop. Dan seperti semua konflik besar di abad ke-21, semuanya dimulai dari sesuatu yang sangat mulia: Seseorang pengin menikmati konser.

Masalahnya, orang di depan dia pengin menikmati konser itu lewat lensa Canon 400mm yang panjangnya kayak harapan mantan.

Tanggal 31 Januari 2026, band Korea Selatan DAY6 konser di Kuala Lumpur. Venue sudah bilang dari awal:

“No professional camera allowed.”

Simple. Jelas. Tidak ambigu. Tapi beberapa fansite asal Korea Selatan tetap masuk dengan DSLR + lensa tele yang kalau dijatuhin bisa unlock side quest.

Fans Malaysia yang view-nya ketutup akhirnya komplain di internet. Nothing dramatic. Nothing violent. Just:

“Please respect the rules.”

Fansite-nya bahkan sempat minta maaf. Harusnya selesai di situ. Tapi internet bilang:

“Nah, we can make this worse.”

Beberapa netizen Korea kemudian ngebela dengan argumen yang vibe-nya kurang lebih:

“Kalau kalian mau suka artis Korea, ya harus hormati budaya Korea.”

Dan dalam waktu kurang dari satu episode Running Man, diskusi soal kamera berubah jadi:

  • Asia Tenggara miskin

  • cuma punya sawah

  • artis lokal nggak niat

  • standar visual rendah

Indonesia bahkan ikut kena stray karena MV girl group lokal dibilang:

“Ini syuting di sawah?”

Dan di titik itu, seluruh Asia Tenggara collectively said:

“Oh jadi gitu ya?”


Biasanya kalau Indonesia dan Malaysia ketemu di internet, energinya tuh kayak:

“Aku sayang kamu sebagai tetangga, tapi batik tetap punya aku.”

Tapi kali ini?

Indonesia:

“Malaysia, kamu gapapa?”

Malaysia:

“Enggak.”

Thailand:

“Siapa yang ganggu?”

Filipina:

“Link thread-nya mana?”

Vietnam:

“Aku baru login.”

Dan dalam hitungan jam, timeline di X berubah jadi:

ASEAN Defense Force

Tagar #SEAblings pun lahir. Southeast Asia siblings. Karena ternyata, kita boleh ribut soal rendang, klaim budaya, atau siapa yang bikin Indomie versi paling cursed, tapi kalau ada outsider yang mulai lempar stereotip? Full squad mode langsung aktif.


Yang menarik, ini bukan pertama kalinya solidaritas digital lintas negara kayak gini muncul.

Dulu ada Milk Tea Alliance, yang awalnya cuma meme soal preferensi minuman manis, tapi berkembang jadi jaringan solidaritas prodemokrasi lintas Thailand, Hong Kong, Taiwan, Myanmar, sampai Indonesia.

Internet pelan-pelan jadi tempat identitas regional dibentuk. Dan sekarang, mungkin, Asia Tenggara lagi ngalamin soft-launch versi pop culture-nya.


Karena jujur aja:

Selama ini kita nyaman jadi consumer. Stream K-pop. Nonton drakor. Follow fashion Korea.

Tapi begitu ada yang bilang:

“Ya memang kalian cuma market.”

Baru kerasa juga ya.

Dan mungkin itu kenapa respons #SEAblings kemarin bukan cuma soal konser. Bukan cuma soal kamera. Tapi soal satu kawasan yang mulai mikir:

“Kenapa kita selalu jadi penonton?”

Apakah ini cuma drama timeline yang bakal hilang minggu depan? Atau ini awal dari generasi yang mulai melihat dirinya bukan cuma sebagai bagian dari negara masing-masing, tapi sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar kayak:

Association of Southeast Asian Nations… but make it digital.

Dan kalau iya?

Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, ASEAN akhirnya bersatu… karena fancam.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...