Ada satu hal yang selalu berubah setiap Ramadhan, tapi jarang disadari sampai kita benar-benar keluar rumah menjelang Maghrib.
Lingkungan.
Jalan yang biasanya sore-sore sepi, yang paling cuma dilewati tukang galon atau anak kecil main sepeda, tiba-tiba berubah jadi jalur lalu lintas manusia dengan tujuan yang hampir sama. Trotoar yang biasanya kosong mendadak penuh. Bahu jalan yang biasanya dipakai parkir motor, sekarang dipakai meja lipat.
Dan di atas meja lipat itu, biasanya sudah berjejer:
bakwan
tahu isi
pisang goreng
risol
tempe mendoan
yang baru diangkat dari minyak beberapa menit lalu.
Ngabuburit di Indonesia tuh jarang benar-benar tentang jalan santai. Pada praktiknya, itu lebih mirip ritual scouting lokasi takjil. Orang keluar rumah dengan niat awal cuma mau “lihat-lihat dulu”, tapi langkahnya pelan-pelan melambat begitu mulai tercium aroma tepung yang lagi ketemu minyak panas.
Yang menarik, Ramadhan bukan cuma bikin orang lapar. Ramadhan juga bikin orang berani ambil keputusan karier yang selama 11 bulan sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Masuk ke bisnis gorengan.
Setiap tahun selalu ada wajah-wajah baru di industri ini.
Rumah yang biasanya sore-sore cuma buka pagar sedikit, sekarang pagarnya terbuka lebar dan di depannya ada kompor portable. Meja plastik muncul entah dari mana. Banner seadanya mulai digantung. Kadang bahkan tanpa banner, cuma andalkan posisi strategis dan aroma.
Yang biasanya jual minuman sachet sekarang punya bakwan.
Yang kesehariannya buka jasa print sekarang punya risol.
Yang sebelumnya tidak pernah jualan apa pun, tiba-tiba punya tiga jenis pisang goreng dengan topping berbeda.
Ramadhan itu semacam musim migrasi, tapi bukan burung.
Penghuninya: calon pengusaha gorengan.
Karena entry barrier-nya memang rendah. Tepung, minyak goreng, resep keluarga dan meja seadanya.
Dan demand-nya hampir guaranteed ada.
Di tengah lonjakan supply seperti ini, perilaku pembelinya juga jadi makin kelihatan polanya.
Ada yang kalau beli gorengan itu approach-nya kayak lagi stock up sebelum badai. Semua jenis masuk. Bakwan, tahu isi, pisang goreng, risol, diambil satu-satu sampai plastiknya mulai berat sendiri. Biasanya tipe ini nggak mau ambil risiko. Takut nanti di rumah kepikiran kenapa tadi nggak sekalian beli.
Ada juga yang kebalikannya. Datang dengan preferensi yang sangat spesifik. Dari hari pertama sampai hari ke-25 Ramadhan, pilihannya nggak berubah. Kalau bukan bakwan, ya pisang goreng. Kalau bukan pisang goreng, ya risol. Konsisten sampai penjualnya pun sudah hafal.
Mendekati jam 6 sore, dinamika di sekitar lapak mulai berubah.
Orang yang tadinya santai mulai berdatangan hampir bersamaan. Jarak antar pembeli makin rapat. Stok di meja mulai kelihatan bolong di sana-sini. Pisang goreng tinggal beberapa. Risol mulai berkurang. Bakwan yang tadi menumpuk sekarang tinggal di satu sisi.
Di sinilah takjil war pelan-pelan terasa.
Nggak ada yang ngomong.
Nggak ada yang deklarasi.
Tapi semua orang jadi sedikit lebih cepat.
Mata mulai scan meja.
Tangan mulai ambil tanpa terlalu banyak mikir.
Keputusan diambil dalam hitungan detik.
Dan yang bikin menarik, crowd di situ bukan cuma mereka yang puasa.
Ramadhan di Indonesia itu selalu punya efek spillover. Orang yang nggak menjalankan puasa tetap keluar rumah di jam yang sama. Tetap lihat-lihat takjil. Tetap beli sesuatu. Kadang buat dibawa pulang, kadang cuma buat dimakan sore itu juga.
Pasar takjil jadi semacam shared space musiman.
Semua orang datang untuk alasan berbeda, tapi sering berakhir di titik yang sama. Berdiri di depan meja yang isinya gorengan yang secara kesehatan mungkin bisa diperdebatkan, tapi secara tradisi sudah terlalu embedded untuk ditolak.
Dan setiap tahun, tanpa banyak diskusi, siklus ini terulang lagi.
Setidaknya sampai Ramadhan selesai, dan jumlah pengusaha gorengan kembali ke baseline semula.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment