Ramadan itu idealnya momen buat nahan diri. Nahan lapar, nahan haus, nahan emosi, nahan buat nggak ngegas di Twitter. Namun, entah kenapa, tiap kita lagi disuruh menahan, politik di negeri ini justru hobi melepas.
Kali ini yang dilepas adalah… tanggung jawab.
Jadi ceritanya gini.
Beberapa hari lalu, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, ngomong soal revisi UU KPK tahun 2019. Revisi yang dulu sempat bikin mahasiswa turun ke jalan, dosen ikut demo, dan netizen mendadak ngerti fungsi legislasi lebih dalam dari biasanya. Dan menurut beliau, revisi itu dulu adalah inisiatif DPR.
Bahkan beliau sampai bilang:
“Jangan keliru ya, itu inisiatif DPR.”
Kalimat yang secara emosional setara dengan:
“Eh itu bukan ide aku ya waktu kita putus.”
Padahal kita semua tahu, bikin undang-undang itu bukan kayak bikin Spotify playlist. Nggak bisa satu pihak tiba-tiba compile lagu, terus besoknya udah rilis di Apple Music.
Ada proses.
Ada pembahasan.
Ada persetujuan.
Dan yang paling penting:
Ada pemerintah di situ.
Makanya waktu pernyataan ini keluar, reaksinya bukan cuma, “Oh gitu.”
Tapi lebih ke, “Lah?”
Yang bikin situasi makin menarik, topik UU KPK ini sebenarnya udah agak adem. Udah masuk folder memori nasional yang dibuka cuma kalau lagi nostalgia atau lagi debat di podcast. Sampai kemudian mantan Ketua KPK, Abraham Samad, muncul dan bilang kalau dia sempat ketemu Presiden Prabowo Subianto tanggal 30 Januari 2026.
Ngobrol-ngobrol, katanya.
Dan di obrolan itu, Abraham minta satu hal simpel: Balikin UU KPK ke versi sebelum direvisi di 2019.
Kayak:
“Mas, bisa nggak kita restore ke settingan pabrik?”
Permintaan yang sebenarnya udah lama banget disuarakan aktivis antikorupsi. Karena sejak revisi itu disahkan, banyak yang ngerasa KPK berubah vibe.
Dulu tuh KPK kayak ninja. Sekarang kayak pegawai kelurahan yang mau lembur tapi harus ngisi form izin dulu.
Mau nyadap? Izin dulu.
Mau OTT? Koordinasi dulu.
Mau gerak? Tanya dulu.
Dan menurut Indonesia Corruption Watch, ini bukan cuma perasaan. Kepala Divisi Hukum dan Investigasi mereka, Wana Alamsyah, bilang pelemahan KPK memang terasa sejak revisi itu berlaku.
Jadi waktu sekarang narasinya mulai terdengar kayak: “Itu dulu idenya DPR ya.”
Publik juga otomatis mikir: Ini lagi klarifikasi… atau lagi cari exit strategy?
Sementara itu, pemerintah sekarang merespons dengan kalimat paling sakral dalam kamus birokrasi Indonesia:
Akan dikaji.
Yang artinya bisa apa aja. Bisa dibahas. Bisa ditunda. Bisa juga disimpan rapi sampai semua orang sibuk bahas mudik.
Istana juga udah bilang belum ada rencana revisi UU KPK untuk saat ini.
Jadi sekarang situasinya kayak lagi nonton grup chat yang semua orang baca, tapi nggak ada yang mau jawab duluan:
Jokowi: Setuju balik ke versi lama
Aktivis: Dari dulu juga bilang gitu
DPR: Jangan nyalahin kita doang
Pemerintah: Kita kaji dulu ya
Dan kita semua?
Masih nunggu: Ini bakal beneran di-rollback… Atau cuma jadi obrolan ngabuburit politik yang hilang setelah takbir pertama.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment