Dulu tuh ya… Traveloka bukan cuma sekadar aplikasi buat nge-book tiket pesawat pas lagi war tiket promo jam 12 malam sambil deg-degan kayak nunggu doi bales chat.
Dia tuh lahir dari mimpi yang simpel, tapi dalem:
Gimana caranya biar orang Indonesia bisa terbang dengan lebih gampang.
Gimana caranya kursi pesawat yang tadinya kosong bisa keisi.
Gimana caranya hotel-hotel di daerah nggak cuma rame pas libur Lebaran doang.
Gimana caranya UMKM sekitar tempat wisata bisa ikut kecipratan rezeki.
Dan somehow… it worked.
Pariwisata yang dulu eksklusif jadi lebih inklusif. Orang yang tadinya mikir dua kali buat liburan, jadi: “Gas aja lah ya, mumpung ada promo.”
Bandara jadi rame. Hotel jadi hidup. Destinasi lokal naik daun. Dan yang paling penting: Ribuan anak muda Indonesia ikut ngebangun semua itu dari nol, nulis code, debugging sampe subuh, deploy fitur sambil ditemenin kopi sachet dan existential crisis ringan.
Itu bukan cuma produk. Itu kebanggaan.
Tapi hari ini? Ceritanya mulai beda vibe-nya.
Dan jujur aja… kali ini nyeseknya tuh bukan nyesek biasa. Ini nyesek level: “Lah kok… jadi gini?”
Kalau dulu tiap ada kabar PHK di dunia startup, kita udah lumayan kebal sama istilah-istilah corporate kayak:
“Efisiensi.”
“Profitability.”
“Market slowdown.”
“Strategic realignment.”
Yang kalau diterjemahin bebas artinya:
“Ya maaf ya guys…”
Tapi sekarang muncul istilah baru yang jauh lebih dingin:
Reduce to replace.
Bukan sekadar ngurangin tim karena kondisi bisnis. Tapi ngurangin… untuk diganti.
Pelan-pelan, tim teknologi di Indonesia, tim yang literally bangun backbone produk ini bertahun-tahun, mulai disingkirkan. Satu-satu. Nggak rame. Nggak dramatis.
Dan yang bikin makin pahit:
Bukan karena mereka nggak capable.
Bukan karena skill issue.
Bukan karena udah nggak relevan sama tech stack.
Tapi karena akan digantikan oleh tim di negara lain.
Ini tuh bukan sekadar berita layoff yang lewat di timeline LinkedIn terus kita scroll sambil bilang:
“Stay strong ya kak 🙏”
Ini pukulan emosional.
Karena:
Produk ini lahir di Indonesia.
Dibangun oleh anak-anak muda Indonesia.
Dipakai oleh jutaan orang Indonesia.
Dan selama ini… ikut ngehidupin pariwisata Indonesia.
Tapi pada akhirnya, teknologi yang jadi jantung dari semua itu… nggak lagi dipercaya untuk dibangun di negeri sendiri.
Dan itu sakit sih. Kayak kamu ngerjain tugas kelompok dari awal sampe akhir, terus pas presentasi, nama kamu diganti.
Yang kemudian bikin kita makin kepikiran adalah:
Kalau karya sebesar ini aja, yang udah unicorn, udah regional player, akhirnya bisa “diambil alih” secara pelan-pelan… Kalau talenta yang ngebangun dari nol bisa diganti begitu aja… Terus anak-anak muda Indonesia harus naruh harapan ke siapa?
Ke pasar?
Ke investor?
Ke regulasi?
Atau… ke mimpi yang dari awal kita disuruh percaya:
“Kalau kita kerja keras, kita bisa bangun sesuatu buat negeri sendiri.”
Karena sekarang rasanya kayak:
Kamu boleh bangun.
Kamu boleh capek.
Kamu boleh berdarah-darah di fase 0 to 1.
Tapi nanti pas udah gede?
Thanks ya.
We’ll take it from here.
Dan ketika teknologi, yang harusnya jadi backbone masa depan bangsa, pelan-pelan dipindahkan keluar,
yang ketinggalan itu bukan cuma kursi kosong di kantor.
Tapi harapan.
Harapan dari banyak anak muda yang dulu milih pulang ke Indonesia, yang nolak kerja di luar, yang percaya:
“Industri tech lokal worth fighting for.”
Hari ini rasanya campur aduk. Marah? Iya. Sedih? Banget. Bingung harus berharap ke siapa? Jujur… iya.
Semoga cerita kayak gini nggak jadi pola. Semoga ekosistem tech kita bisa tumbuh bukan cuma jago melahirkan unicorn, tapi juga cukup kuat buat melindungi talenta yang ngebesarin mereka.
Karena kalau nggak, karya anak bangsa bakal terus jadi:
cerita indah di awal, dan pahit di ending.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment