Skip to main content

Seekor Ikan dalam Ember


Di sebuah desa nelayan, ada seorang anak kecil yang menemukan ikan kecil di sungai. Ia merasa kasihan karena ikan itu terjebak di air yang dangkal, jadi ia memutuskan untuk membawa ikan itu pulang dan menaruhnya di sebuah ember kecil. Setiap hari, anak itu memberi makan ikan tersebut dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Waktu berlalu, dan ikan itu tumbuh sedikit lebih besar, tapi tetap hidup di dalam ember kecil itu. Suatu hari, paman anak itu, yang adalah seorang nelayan berpengalaman, datang berkunjung. Ia melihat ikan itu dan berkata, "Ikan ini bisa tumbuh lebih besar, tetapi ia tidak akan pernah mencapai potensinya di dalam ember ini. Jika kau membawanya kembali ke sungai atau lautan, ia bisa tumbuh jauh lebih besar dan bebas berenang ke mana pun ia mau."

Anak itu kaget mendengar hal tersebut. Ia tidak menyadari bahwa ikan kesayangannya hanya tumbuh sebesar ember tempat tinggalnya. Dengan berat hati, anak itu akhirnya membawa ikan itu kembali ke sungai dan melepaskannya. Beberapa bulan kemudian, ia kembali ke tempat itu dan melihat ikan yang dulunya kecil kini telah tumbuh menjadi ikan besar yang berenang bebas bersama kawanan ikan lainnya.

Pelajaran dari Cerita Ini:

Kita sering kali membatasi diri kita sendiri dengan "ember" berupa ketakutan, keraguan, atau lingkungan yang membuat kita merasa nyaman. Namun, jika kita berani melangkah keluar dari zona nyaman, kita dapat menemukan potensi sejati kita dan tumbuh jauh lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan. Terkadang, yang diperlukan hanyalah keberanian untuk keluar dari batas-batas yang kita buat sendiri agar kita bisa benar-benar berkembang.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...