Kalimat “pokoknya ada” itu bukan sekadar slip of the tongue. Itu problem komunikasi yang kelihatan banget di era sekarang, karena standar publik sudah naik, tapi cara jawabnya masih pakai pola lama. Waktu Teddy Indra Wijaya ditanya soal sumber anggaran, publik sebenarnya enggak minta hal yang aneh. Pertanyaannya straight forward: duitnya dari mana? Ini bukan pertanyaan filosofis, ini pertanyaan teknis. Jadi ekspektasinya juga simpel: kasih informational clarity . Yang terjadi malah sebaliknya. Jawaban yang keluar terasa seperti message avoidance , secara teknis menjawab, tapi secara substansi enggak address core question. Di sinilah publik langsung nangkep: ini bukan lack of information aja, tapi ada gap di cara framing jawabannya. Kalau ditarik ke belakang, pola kayak gini sebenarnya bukan hal baru. Di era Soeharto, komunikasi pejabat memang heavily structured. Figur seperti Moerdiono adalah contoh textbook dari high-context political communication . Semua kalimatnya clean, formal, da...