Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2026

Negara vs Videografer: Ketika Ide Dihargai Nol, dan Logika Ikut Hilang

  So here's the thing, seorang videografer, Amsal Sitepu , didakwa korupsi karena dianggap nge-markup proyek video profil desa di Sumatera Utara. Angkanya? Rp30 juta per video. Totalnya 13 video. Semua disepakati di awal, dikerjakan, direvisi, diserahkan, dibayar. Clean. Done. Terus negara datang, lihat itu, dan bilang: “ini markup!”  And suddenly, we pretend this is corruption. Masalahnya bukan cuma di angka. Masalahnya ada di cara berpikir yang, frankly, feels outdated and borderline ignorant. Di persidangan, jaksa dan auditor menyimpulkan bahwa proses kreatif berupa pencarian ide, pengembangan konsep, sampai editing itu nilainya Rp0 di RAB. Literally dianggap enggak ada. Sebentar... Kalau kamu pernah kerja di industri kreatif kamu pasti tau ini bukan cuma salah, tapi insulting. Ini bukan sekadar beda persepsi harga. Ini denial terhadap eksistensi kerja kreatif itu sendiri. Ide itu bukan bonus. Konsep itu bukan dekorasi. Editing itu bukan tombol “export” doang. Dan negara, l...

PJJ Buat Hemat BBM?

Pemerintah mau hemat BBM dengan cara mengurangi mobilitas siswa lewat PJJ mulai April. Kedengarannya logis. The problem is, logika ini berhenti di permukaan. Konsumsi BBM terbesar di Indonesia itu bukan dari orang tua yang nganter anak sekolah. Itu datang dari sektor logistik, distribusi barang, industri, dan transportasi komersial. Truk-truk besar, rantai pasok, aktivitas ekonomi skala besar. Jadi ketika kebijakan penghematan energi justru menyasar siswa, ini already feels off target. Ini bukan soal mobilitas ke sekolah nol dampak. Tapi kontribusinya kecil dibanding sektor lain. Jadi kalau tujuan utamanya adalah saving BBM secara signifikan, PJJ bukan lever yang paling impactful. Ini lebih ke kebijakan yang “kelihatan kerja”, bukan yang benar-benar kerja. Pemerintah bilang skemanya nanti fleksibel. Enggak akan seketat pandemi. Praktikum tetap tatap muka. Ada penyesuaian. Fine. Namun, ini justru bikin satu hal jadi makin jelas: kebijakan ini setengah-setengah. Kalau memang mau mene...

Ucapan Maaf yang Semu di Hari yang Fitri

  Setiap Lebaran ada satu ritual yang selalu muncul: saling meminta maaf. Kalimatnya juga hampir selalu sama. “Mohon maaf lahir dan batin.” Diucapkan saat sungkeman, saat salaman setelah salat Ied, di grup WhatsApp keluarga, bahkan di broadcast message yang jelas-jelas copy–paste. The phrase travels everywhere. From living rooms to timelines. Masalahnya bukan di kalimatnya. Masalahnya di maknanya. Karena kalau kita jujur sedikit saja, sebagian besar ucapan maaf saat Lebaran itu tidak pernah benar-benar menyentuh masalah yang sebenarnya ada di antara orang-orang yang saling mengucapkannya. It’s more like a social script. Semacam template tahunan yang harus dijalankan supaya suasana Lebaran terasa lengkap. Kalau tidak ada sesi saling memaafkan, rasanya ada yang kurang. Tidak afdhol. Jadi ritual itu tetap dijalankan. Orang salaman. Orang sungkeman. Orang mengucapkan maaf. Lalu selesai. The problem is: konflik yang ada sebelumnya tidak ikut selesai. Orang yang sebelumnya salin...

Lebaran, Opor, dan Negara yang Tidak Pernah Sepakat Soal Besok

  Setiap tahun kita akan disuguhi drama ini. Padahal ini bukan kejadian langka, ini annual episode yang literally bisa dijadwalkan. Bedanya cuma tanggalnya doang, konfliknya sama: “jadi besok lebaran nggak?” Di satu sisi ada Muhammadiyah, very confident, very calculated, vibes-nya kayak orang yang sudah booking tiket dari 3 bulan lalu. Hisab, angka, data, selesai. Mereka sudah sampai tahap, “see you di 1 Syawal hari Jumat ya guys,” sementara yang lain masih, “hmm kita lihat nanti.” Di sisi lain ada Pemerintah dan NU, yang approach-nya lebih… situasional. Rukyat, observasi, nunggu hilal muncul kayak nunggu chat dibalas. Bisa cepat, bisa lama, bisa juga nggak muncul sama sekali. Jadi ya, keputusan diambil last minute lewat sidang isbat yang somehow selalu terasa kayak season finale. Dan di antara dua kubu yang very intellectually sound ini, ada kelompok yang paling tidak siap secara emosional: ibu-ibu yang pegang santan. Ini serius. Karena semua teori falak runtuh di depan satu perta...

Video “Lempar Cadar” di Masjid Itu: Feels Powerful, Tapi Datanya… Kosong

  Beredar di media sosial, video tentang jamaah perempuan di Masjid Fatih yang melemparkan cadar ke arah jamaah laki-laki di bawahnya. Narasinya langsung intense: ini bentuk protes karena Masjid Al-Aqsa “ditutup”, lalu dibungkus dengan pesan yang quite aggressive, soal kehormatan laki-laki, tanggung jawab, dan semacam moral pressure yang hard to ignore. At first glance, it works. Dramatic, symbolic, emotionally loaded. Very shareable. Namun, begitu dicoba dipikir sedikit, baru mulai terasa ada yang off. Karena anehnya, tidak ada satu pun media kredibel yang cover. No Turkish media, no international coverage, nothing. Padahal ini bukan kejadian kecil. Ini masjid besar, public space, Ramadan, dan aksinya cukup confrontational. Kalau ini real, it should be everywhere. Tapi kenyataannya? Cuma muter di sosmed, dari satu akun ke akun lain, dengan caption yang… suspiciously mirip semua. It’s giving template, bukan reporting. Terus videonya sendiri juga agak too perfect. Aksinya kol...

Ketika Foto Pelaku Viral, Tapi Kita Tidak Lagi Tahu Mana yang Nyata

  Foto dua orang yang diduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus tiba-tiba viral di TikTok. View-nya tembus 22 juta. Like lebih dari satu juta. Narasinya simpel, bahkan sedikit provokatif: satu Indonesia sedang mencari dua pelaku, dan wajah mereka sudah kelihatan jelas. At that point, internet langsung melakukan apa yang internet selalu lakukan: investigasi sendiri. Ada yang langsung percaya. Ada juga yang langsung skeptis. Komentarnya predictable. “Kalau udah se-HD ini kok belum ketangkap?” Di sisi lain, muncul juga kubu yang bilang foto itu jelas AI. Terlalu jernih. Terlalu detail. Terlalu “perfect” dibanding rekaman CCTV Indonesia yang biasanya lebih dekat ke kualitas 144p daripada 1080p. Perdebatan ini sebenarnya bukan soal foto semata. Ini soal sesuatu yang lebih fundamental: di era AI, publik makin sulit membedakan mana bukti visual yang autentik dan mana yang sudah dimodifikasi. Dan kasus ini jadi contoh textbook. Polisi kemudian memberikan klar...

Teror Lama dengan Metode Lama: Kasus Andrie Yunus dan Pesan yang Ingin Dikirim

  Kamis malam, 12 Maret 2026. Sekitar pukul 23.37 WIB. Jalan Salemba I, Jakarta Pusat. Andrie Yunus sedang mengendarai motor setelah pulang dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia . Beberapa menit sebelumnya, dia baru saja selesai rekaman podcast dengan tema yang clearly not exactly comfortable for certain people: “Remiliterisme dan Judicial Review UU TNI.” Lalu datang dua orang dengan motor matic dari arah berlawanan. Penumpang di belakang menyiramkan cairan kimia ke wajah dan tubuh Andrie. Air keras. Result? Luka bakar serius sekitar 24 persen . Wajah, dada, kedua tangan, dan mata terdampak. Bajunya bahkan sempat meleleh karena zat korosif tersebut. Korban jatuh dari motor dan berteriak kesakitan sampai warga sekitar berdatangan. Pelaku kabur ke arah Salemba Raya. Kalau cerita ini terasa familiar, yes, you're not imagining things. Karena Indonesia sudah pernah melihat film yang sama sebelumnya. Deja Vu: Publik Langsung Ingat Kasus Novel Begitu berita ini mun...

APBN Lagi Tipis. Harga Minyak Memutuskan Ikut Naik

Per Februari, defisit APBN sudah Rp135,7 triliun . Tahun lalu di periode yang sama cuma sekitar Rp30 triliun . Artinya dalam setahun naik hampir 4,5 kali lipat . Secara hukum, pemerintah masih technically safe. Indonesia punya aturan defisit maksimal 3% dari PDB dalam setahun. Posisi sekarang sekitar 0,5% PDB . Jadi kalau lihat angka mentahnya saja, masih kelihatan aman. Namun, fiskal negara itu bukan soal snapshot satu bulan. Yang dilihat selalu momentum . Dan momentum awal tahun ini jelas: belanja naik cepat, ruang fiskal mulai kepakai lebih awal . Sekarang masuk variabel kedua yang bikin situasinya jadi lebih tricky: harga minyak dunia . APBN disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sekitar $70 per barel . Semua hitungan subsidi energi basically berdiri di angka ini. Problemnya, situasi geopolitik lagi messy. Konflik di Timur Tengah bikin harga minyak bergerak jauh di atas asumsi itu. Banyak proyeksi sekarang menaruhnya di sekitar $90–$92 . Kalau ini bertahan, APBN l...

Transisi Energi, Tapi Logistiknya Masih Nongkrong di Dunia Minyak

  Beberapa tahun terakhir pemerintah punya satu storyline besar yang terus diputar: hilirisasi nikel . Narasinya keren. Indonesia berhenti jadi penjual bahan mentah, mulai naik kelas, bangun smelter, masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Dari tambang di Sulawesi sampai mobil listrik yang nanti dipakai orang di Los Angeles atau Berlin. Kalau didengar sekilas, ini terdengar seperti plot film ekonomi yang perfect. Dunia lagi sibuk ngomongin transisi energi. Negara-negara berlomba meninggalkan bahan bakar fosil. Mobil listrik diposisikan sebagai masa depan transportasi. Dan Indonesia, yang kebetulan duduk di atas cadangan nikel besar, tiba-tiba punya tiket masuk ke permainan global itu. Sounds like a jackpot. Tapi seperti banyak cerita industrial policy, bagian yang terlihat di panggung biasanya bukan seluruh cerita. Karena di balik semua talk tentang baterai, EV, dan green economy, ada satu bahan kimia yang hampir tidak pernah muncul di diskusi publik: sulfur . ...

Bahlil Bilang Cadangan Minyak Aman 20 Hari. Okay… Terus Habis Itu?

  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang cadangan minyak Indonesia aman. Aman sampai 20 hari . Kalau kamu dengar kalimat itu sekilas, kedengarannya menenangkan. Kayak, ya udah, masih ada buffer. Hidup masih jalan. SPBU masih buka. Mobil masih bisa jalan. No big deal. Tapi kalau dipikir sedikit lebih lama… 20 hari itu sebenarnya sebentar banget . Apalagi kalau kita ingat satu hal kecil yang sering terlupakan, Indonesia sekarang itu negara pengimpor minyak . Kebutuhan minyak kita sekitar satu juta barel per hari, dan sebagian besar harus datang dari luar negeri. Jadi sistem energi kita basically bergantung pada satu hal yang sangat simpel, kapal tanker terus datang, minyak terus mengalir. Selama rantai itu lancar, semuanya kelihatan normal. Tapi kalau ada gangguan di jalurnya, situasinya bisa cepat berubah. Dan kebetulan, dunia lagi ngomongin satu jalur yang sangat sensitif, Selat Hormuz . Sekitar 20% perdagangan minyak dunia lewat situ . Kalau jalur itu sampai terganggu, apalag...

Ketika Dunia Dipimpin Aki-Aki Baperan

Katanya si Terompah lagi ngambek karena Spanyol allegedly nggak kasih wilayahnya dipakai buat kepentingan serangan ke Iran. Dramanya sih belum tentu se-epik timeline Twitter, tapi vibe-nya kebaca: geopolitik sekarang makin terasa kayak group chat keluarga yang admin-nya sudah sepuh semua dan sensiannya minta ampun. Well. Kalau kamu zoom out sedikit dan lihat panggung dunia hari ini, line-up-nya memang senior-senior semua. Raja Salman sudah 90. Mahmoud Abbas juga 90. Khamenei 86. Terompah 79. Anwar Ibrahim 78. Raja Charles 77. Netanyahu 76. Modi 75. Prabowo dan Shehbaz Sharif 74. Putin 73. Xi Jinping dan Erdogan 72. Al-Sisi 71. Ini bukan daftar tamu resepsi emas pernikahan. Ini adalah orang-orang yang literally menentukan arah perang, ekonomi global, sampai harga beras di dapur kamu. Dan saya nggak sedang age-shaming. Pengalaman itu valuable. Wisdom itu mahal. Tapi ada satu pertanyaan yang uncomfortable namun perlu diajukan: ketika usia sudah di ujung karier, bahkan di ujung hidup, ...

Anak di Bawah 16 Mau Diblokir dari Medsos. Kedengarannya Baik. Sampai Kamu Tahu Realitanya.

  Pemerintah Indonesia lagi punya ide baru: anak di bawah 16 tahun mau dibatasi aksesnya ke media sosial. Nggak setengah-setengah, platform seperti Instagram , TikTok , YouTube , sampai Roblox nantinya diwajibkan menerapkan verifikasi usia. Kalau akun pengguna terdeteksi milik anak di bawah 16 tahun, aksesnya bisa dibatasi. Bahkan ada rencana menonaktifkan akun-akun tersebut mulai 28 Maret 2026 . Alasannya? Perlindungan anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid , mengatakan ancaman di ruang digital makin nyata. “Anak-anak kita menghadapi ancaman yang semakin nyata.” Kalimat ini sulit dibantah. Internet hari ini memang bukan playground yang polos lagi. Ada cyberbullying, konten ekstrem, predator online, sampai algoritma yang bikin anak scroll tanpa henti. So yes, niatnya kedengarannya sangat baik. Namun, masalahnya adalah,  kebijakan digital biasanya cuma keren di niat, dan selalu gagal di implementasi.  Rencana pembatasan ini akan diatur lewat Peraturan Menter...