Ada satu kalimat yang belakangan makin sering terdengar di Indonesia: “Ah, background itu enggak penting. Yang penting leadership.” Secara teori? Ya, valid. Memang enggak semua posisi harus diisi orang yang textbook banget. Banyak pemimpin hebat lahir dari lintas disiplin. Orang teknik bisa jago bisnis. Orang militer bisa bagus di birokrasi. Orang non-olahraga bisa sukses memimpin federasi olahraga. Itu bukan hal mustahil. Masalahnya, publik Indonesia sekarang sudah terlalu sering disuruh percaya pada eksperimen, sementara hasil akhirnya malah makin absurd. Dan lucunya, setiap hasilnya jelek, narasinya selalu sama: “Jangan salahkan satu orang.” “Masalahnya kompleks.” “Ada faktor global.” Yang bikin capek bukan penjelasannya, tapi polanya. Karena aneh aja gitu. Kalau hasilnya bagus, jabatan tinggi cepat-cepat dijadikan bahan pencitraan personal. Namun, kalau hasilnya mulai berantakan, tiba-tiba semuanya berubah jadi “kesalahan sistem.” Convenient sekali. Kasus yang paling fresh...