Skip to main content

Memberi Kepastian kepada Kandidat: Profesionalisme yang Sering Terlupakan

Dalam dunia rekrutmen, ada satu hal sederhana yang sering diabaikan: memberi kepastian kepada kandidat yang tidak lolos seleksi. Padahal, ini bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga cerminan profesionalisme dan integritas sebuah perusahaan.

Bayangkan seseorang telah meluangkan waktu untuk menyusun CV, menulis surat lamaran, menunggu panggilan wawancara, lalu datang dengan penuh harapan. Mereka melewati tahap demi tahap seleksi dengan harapan mendapatkan kesempatan, tetapi kemudian, hening. Tidak ada kabar. Tidak ada email. Tidak ada kepastian. Lama-kelamaan mereka menyadari bahwa ketidakjelasan itu adalah jawabannya.

Di sisi lain, perusahaan mungkin merasa tidak perlu menginformasikan hasil seleksi kepada kandidat yang tidak terpilih. Alasannya beragam, mulai dari keterbatasan waktu, jumlah pelamar yang terlalu banyak, atau sekadar menganggap bahwa diam adalah jawaban yang cukup. Namun, sebetulnya ini bukan hanya soal memberikan kabar, melainkan juga membangun citra dan kredibilitas perusahaan.

Memberikan informasi kepada kandidat, meskipun sekadar pesan singkat yang menyampaikan bahwa mereka belum berhasil kali ini, memiliki dampak besar. Pertama, ini menunjukkan rasa hormat terhadap usaha dan waktu yang telah mereka investasikan. Kedua, ini mencerminkan budaya profesional yang menghargai komunikasi terbuka dan transparan. Dan ketiga, ini membantu membangun hubungan baik antara perusahaan dan para profesional di industri yang sama.

Tidak sedikit orang yang mungkin merasa kecewa ketika tidak mendapatkan kepastian setelah proses rekrutmen. Sebaliknya, ketika sebuah perusahaan memberi tahu hasilnya—walaupun itu bukan kabar baik—setidaknya ada penutupan yang jelas. Kandidat bisa melanjutkan perjalanan mereka tanpa terus bertanya-tanya.

Tentu, dengan jumlah pelamar yang banyak, menghubungi satu per satu mungkin terasa berat. Namun, ada banyak cara yang bisa dilakukan, seperti email otomatis yang tetap terdengar manusiawi atau template komunikasi yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan. Yang terpenting, tetap ada komunikasi.

Bukan tidak mungkin, kandidat yang saat ini belum lolos bisa menjadi aset berharga di masa depan. Mereka bisa berkembang, mendapatkan pengalaman lebih, dan suatu saat kembali dengan kualifikasi yang lebih matang. Jika perusahaan telah menunjukkan integritas sejak awal, hubungan baik itu bisa tetap terjaga.

Jadi, alih-alih membiarkan ketidakpastian menjadi jawaban, mengapa tidak memilih untuk bersikap lebih profesional dan menghargai mereka yang telah berusaha? Bagaimanapun juga, komunikasi yang baik bukan hanya tentang etika, tetapi juga tentang membangun ekosistem kerja yang lebih sehat dan saling menghargai.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...