Skip to main content

AI, Jurnalisme, dan Ilusi Penyelaras Akhir: Ketika Etika Tak Cukup, dan Empati Tak Dijamin


Di zaman ketika algoritma menulis lebih cepat dari jari manusia, dan kecerdasan buatan bisa menyusun laporan investigatif dari gunungan data dalam hitungan menit, dunia jurnalisme menghadapi pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda: masih adakah ruang bagi manusia di tengah banjir kecerdasan buatan?

Tentu saja ada yang mencoba menjawabnya dengan elegan. Dalam sebuah tulisan reflektif di LinkedIn, seorang jurnalis televisi menyebut bahwa peran jurnalis kini bergeser menjadi penyelaras akhir. Sebuah frasa yang terdengar puitis—nyaris spiritual—namun jika dikupas lebih dalam, bisa jadi justru menyembunyikan krisis yang lebih dalam.

1. Penyelaras dari Narasi Siapa?

Apa artinya menjadi “penyelaras akhir” jika yang menyusun struktur, memilih diksi, dan bahkan membentuk narasi besar adalah mesin? Di titik ini, jurnalis bukan lagi penulis, tapi pengoreksi; bukan lagi penggali, melainkan pengarsip. Yang diselaraskan bukan lagi realitas, tapi simulasi realitas yang telah disajikan dalam format nyaris final. Maka, peran “penyelaras akhir” sebenarnya adalah alarm dini: profesi ini sedang didorong ke pinggiran proses kreatif dan investigatif.

Dan di sinilah muncul ironi. Kita meyakini bahwa AI bisa menggantikan kerja teknis jurnalis—menulis cepat, mengedit otomatis, bahkan memverifikasi data dasar. Tapi yang jarang dibicarakan adalah bagaimana AI juga mulai membentuk kerangka berpikir editorial itu sendiri. Apa yang dianggap penting, siapa yang dianggap layak dimuat, bahkan gaya narasi seperti apa yang dianggap “menjual”—semua kini bisa diputuskan oleh algoritma berdasarkan pola klik dan engagement.

Jadi, ketika jurnalis menyebut dirinya “penyelaras akhir”, perlu dipertanyakan: narasi siapa yang sedang ia selaraskan? Apakah ia masih menyusun narasi publik, atau sekadar mempercantik cetakan awal dari mesin prediktif?


2. Empati, Intuisi, dan Bahaya Romantisasi

Dalam menghadapi AI, banyak orang menggantungkan harapan pada kemampuan manusia yang konon “unik”—empati, intuisi, dan kreativitas. Ini terdengar nyaman, bahkan filosofis. Tapi apakah benar jurnalis secara umum memiliki empati dan intuisi yang tajam? Atau itu hanya harapan ideal dari profesi yang juga telah lama dikompromikan oleh industri?

Dalam praktiknya, banyak jurnalis bekerja dalam sistem yang membunuh empati secara sistematis. Mereka diburu tenggat, diberi KPI berdasarkan page views, dan didorong untuk membuat berita yang viral, bukan yang bernilai. Maka, empati bukanlah fitur default manusia. Ia adalah pilihan sadar yang harus dirawat—dan di ruang redaksi modern, tak semua jurnalis punya kemewahan itu.

Demikian pula dengan intuisi. Dalam ekosistem media yang dikendalikan oleh oligarki, intuisi sering dianggap gangguan. Jurnalis yang terlalu tajam membaca celah kekuasaan bisa segera disingkirkan, dipindahkan, atau dipaksa diam. Maka jangan buru-buru percaya bahwa “manusia tetap unggul karena bisa merasakan”. Yang sering terjadi adalah: manusia justru dibentuk untuk tidak merasakan terlalu dalam.


3. Deepfake, Etika, dan Laba

Tulisan reflektif itu juga menyinggung pentingnya jurnalis menjaga etika sebagai benteng terhadap ancaman seperti deepfake dan disinformasi. Ini adalah gagasan yang layak dihormati—namun lagi-lagi, tak cukup. Masalahnya bukan pada jurnalis sebagai individu, tapi pada ekosistem media sebagai institusi.

Etika jurnalisme tak tumbuh di ruang hampa. Ia bertumbuh (atau layu) di tengah tekanan modal, politik redaksi, dan relasi kekuasaan. Deepfake memang mengerikan, tapi lebih mengerikan adalah media arus utama yang sadar menyebarkan hoaks karena itu menguntungkan secara bisnis atau politis. Dalam situasi seperti ini, AI bukan ancaman utama—manusialah yang berbahaya, jika tak lagi berkomitmen pada kebenaran.

Jadi, mengandalkan jurnalis sebagai "benteng terakhir etika" hanya akan berhasil jika sistem medianya juga dibangun di atas nilai, bukan hanya kapital. Tapi sayangnya, banyak media hari ini justru lebih takut kehilangan iklan daripada kehilangan integritas.


4. Keterampilan yang Tak Bisa Dipelajari AI (dan Tak Semua Jurnalis Miliki)

Lalu pertanyaan kuncinya: apa yang benar-benar tak bisa dilakukan AI?

Jawaban populernya: storytelling yang menggugah, wawancara mendalam, verifikasi tak kenal kompromi. Tapi jujur saja—semua itu bisa dipelajari. AI bisa dilatih untuk meniru gaya tulisan Hemingway, membuat podcast yang terdengar seperti manusia, bahkan menelusuri sumber berita lebih cepat daripada reporter magang.

Yang sulit ditiru bukan teknik, tapi keberpihakan. Keberanian untuk menggugat narasi dominan, menyuarakan yang terbungkam, dan membongkar hipokrisi sistemik. AI bisa menganalisis data, tapi ia tidak bisa—atau tidak diizinkan—memihak kepada keadilan. Karena keberpihakan bukan soal akurasi, tapi soal moral dan keberanian.

Inilah keterampilan paling krusial di era AI: kesadaran kritis. Dan ironisnya, ini juga yang paling jarang diajarkan di ruang-ruang redaksi dan sekolah jurnalistik. Banyak jurnalis dibesarkan untuk jadi netral, bukan adil; untuk jadi cepat, bukan tajam; untuk jadi viral, bukan benar.


5. Penutup: Menolak Jadi Operator

Zaman AI bukan hanya zaman efisiensi, tapi juga zaman kontemplasi. Jurnalis tak bisa lagi bersandar pada slogan lama tentang empati dan etika. Mereka harus bertanya ulang: apakah saya jurnalis, atau sekadar operator dari sistem produksi konten yang digerakkan oleh logika modal dan mesin?

Jika jawabannya yang kedua, maka AI memang akan menang. Tapi jika masih ada jurnalis yang berani menulis untuk yang dibungkam, bukan yang membayar; yang menulis karena gelisah, bukan karena disuruh—maka jurnalisme masih punya harapan.

Karena pada akhirnya, bukan soal siapa yang menulis lebih cepat, tapi siapa yang masih berani berkata benar di tengah dunia yang penuh kebohongan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...