Kalau hidup memang sebuah sandiwara, ukuran adalah properti penting di atas panggung.
Ini bukan ukuran biasa — ukuran manusiawi — tapi ukuran yang dicipta demi memenuhi ekspektasi masyarakat.
Seakan-akan manusia harus punya ukuran yang tepat demi dapat peran.
Kalau ukuranmu gak sesuai, siap-siap saja dapat peran figuran.
Kalau ukuranmu pas, selamat, kau boleh jadi pemeran utama…
… ya, walau kadang peranmu gak lebih dari sebuah badut. 😂🔥
Makanya Masyarakat Mengirim Kode Sosial
Kalimat satir, pepatah, dan joke kreatif lahir dari kebutuhan manusia untuk menyampaikan masalah tanpa menyulut pertempuran terbuka.
Ini kayak sebuah “cheat code” di tengah game.
Kalau di GTA, kau boleh punya cheat code “HESOYAM” demi uang dan health.
Kalau di hidup, kau punya kalimat satir demi menjaga muka, menyelamatkan perasaan, dan pada saat yang tepat… menyenggol figur-figur yang memang pantas diberi peringatan.
Budaya Pop dan Kontestasi Sosial
Kalau kau perhatikan, kalimat satir sering diberangi referensi budaya pop.
Ini terjadi bukan demi keren-kerenan, tapi demi mencari bahasa bersama.
Ini kayak saat Deadpool bikin lelucon soal Wolverine, atau saat The Simpsons menyelipkan sindiran terhadap presiden Amerika — dari Bush, Obama, sampai Trump.
Ini terjadi karena budaya pop memang menjadi tempat pertemuan universal, tempat masyarakat belajar memahami masalah melalui humor dan sindiran.
Variasi, Konten, dan Sentilan
Kalau dulu kalimat satir sebatas ukuran kerja dan umur, sekarang ukuran-ukuran lain turut diberontaki.
Misalnya:
✅ “Jangan tanyakan influencer tentang konten orisinal.”
Saking sering bikin konten daur ulang, orisinalitas menjadi ukuran yang terlantar.
✅ “Jangan tanyakan politisi tentang janjinya.”
Kalau janjinya lebih sering di-ghosting, ukuran kejujuran memang gak relevan lagi.
✅ “Jangan tanyakan jomblo tentang jodoh.”
Ini kayak nanya Robin apa dia masih mencari Batman.
Dan yang paling menyengat:
✅ “Jangan tanyakan Jokowi tentang ijazah aslinya.”
Ini ukuran yang paling bikin geleng kepala.
Kalau ukuran kerja, ukuran umur, ukuran konten masih boleh diperdebat, ukuran ijazah kok tiba-tiba menjadi masalah sensitivitas bangsa?
Ini kayak nonton episode Black Mirror — saat ukuran manusia bergeser sesuai kepentingan, bukan kebenaran.
Sentilan Pedas: Antara Hypocrisy dan Transparansi
Ini bukan masalah selembar kertas.
Ini masalah transparansi.
Ini masalah ukuran kejujuran.
Kalau ukuran yang lain boleh diberdebat, ukuran ijazah kok diberi perlakuan istimewa?
Ini kayak sebuah episode The Boys, di mana superhero yang tampak luar sempurna, ternyata punya segudang rahasia gelap di balik kostum.
Kalau Homelander saja punya aib, apalagi manusia biasa yang tengah memangku jabatan?
Kalau ukuran memang ukuran, ya ukuran harus diterapin pada semuanya.
Bukan ukuran yang sesuai kepentingan.
Bukan ukuran yang bikin geleng kepala rakyat sambil bergumam: “Ini ukuran atau ukuran-ukuran?” 😂🔥
Penutup ( yang bukan penutup, tapi sebuah tamparan )
Ini bukan sebuah kesimpulan.
Ini sebuah pernyataan.
Kalau ukuran memang ukuran, terapin ukuran yang adil, ukuran yang manusiawi, ukuran yang transparan.
Kalau ukuran kerja, ukuran umur, ukuran konten, ukuran janji, ukuran ijazah…
… semuanya harus diberlakukan setara.
Jangan bikin ukuran spesial demi menyelamatkan muka.
Dan kalimat satir “Jangan tanyakan Jokowi tentang ijazah aslinya” nantinya bukan lagi sebuah sindiran.
Ini menjadi ukuran, ukuran integritas, ukuran kejujuran, ukuran kewibawaan.
Kalau ukuran itu tak dapat diberika, berarti ukuran bangsa memang tengah compang-camping.

Comments
Post a Comment