Skip to main content

Superman Turun ke Gaza: Ilusi Kebenaran di Layar Hollywood

 


Bayangkan ini: langit mendung, kamera bergoyang, anak kecil berlari sambil membawa bendera berlogo huruf "S", lalu terdengar ledakan. Kamera perlahan memperlihatkan sesosok pria berjubah merah mendarat dengan wajah serius dan rahang tegas. Tangan mengepal. Musik dramatis. Judul film muncul.
"Superman: The Savior of the Oppressed."

Dan umat pun bersorak: Allahu Akbar! Akhirnya Hollywood berpihak!

Tapi tunggu dulu. Bukankah itu terlalu gampang?


✦ Satu-Satunya Kebenaran di Hollywood Adalah Layar Hijau

Kita hidup di era di mana simpati bisa di-render, dan penderitaan bisa di-generate dalam 4K. Ketika kabar bahwa film Superman terbaru “membela Palestina” mulai viral, banyak umat Muslim yang serasa dapat oase di tengah padang ilusi. Seolah-olah dunia hiburan yang selama ini menyejajarkan pejuang kemerdekaan Palestina dengan teroris, kini sadar diri dan bertobat.

Namun, di balik efek CGI dan jubah berkibar itu, kita harus bertanya:
Apa benar Superman peduli pada Gaza? Atau ini cuma algoritma yang sedang bekerja?


✦ Cinelytic AI: Tuhan Baru di Hollywood

Mari kenalkan satu entitas yang lebih sakti daripada Superman: namanya Cinelytic AI. Ini bukan tokoh fiksi, tapi alat canggih yang digunakan Warner Bros. untuk:

  • membaca tren sosial media,

  • menganalisis simpati publik,

  • dan memutuskan tema film apa yang paling cuan di masa depan.

Dengan algoritma ini, mereka tahu bahwa simpati dunia terhadap Palestina naik, dan citra Israel mulai usang. Dari universitas ke festival film, dari boikot ke demonstrasi—dukungan terhadap Palestina menjadi viral currency.

Dan Hollywood? Mereka tidak mau ketinggalan gerbong. Tapi bukan karena mereka peduli. Mereka hanya membaca pasar. Karena bagi mereka, moral adalah angka, dan empati adalah statistik.


✦ Plot Fiktif, Luka Nyata

Dalam film, Superman turun tangan menyelamatkan rakyat sipil yang tertindas oleh pasukan bersenjata di dua negara fiktif: Boravia dan Jarhanpur. Tapi jangan bodoh. Kita semua tahu siapa Boravia dan siapa Jarhanpur di dunia nyata.

Latar film ini begitu “secara kebetulan” menyerupai Gaza. Anak-anak terluka, drone terbang, bom meledak, dan sang penyelamat berkostum biru datang sebagai metafora harapan. Tapi para pembuat film buru-buru menyatakan, “Tidak, ini bukan tentang Israel-Palestina.”
Ya, tentu saja. Hollywood tidak mau kehilangan pasar Tel Aviv—mereka hanya ingin mencuri pasar Jakarta, Istanbul, dan Karachi.


✦ Dari Nakba ke Netflix

Agar tidak lupa, mari kita buka sedikit arsip:

  • Warner Bros. dan Aaron Sorkin sempat merencanakan film biopik tentang Al Schwimmer, pendiri Angkatan Udara Israel yang terlibat langsung dalam Nakba—pengusiran massal warga Palestina tahun 1948.

  • Dalam film itu, Al Schwimmer disebut sebagai “visioner”, bukan kolonialis.

  • Tapi proyek itu kini “dihentikan sementara”, bukan karena sadar sejarah, tapi karena takut boikot.

Dan di saat yang sama, mereka mulai membiarkan Superman tampil agak “pro-Palestina”—karena pasar butuh pahlawan baru yang bisa dijual dengan narasi pseudo-moral.

Jadi jika kamu pikir Superman berubah haluan demi kemanusiaan, percayalah: ia tidak berubah haluan. Ia hanya pindah target demografis.


✦ Oscar: Penghargaan untuk Siapa yang Bisa Menjadi Korban dengan Cantik

Selama puluhan tahun, Oscar adalah panggung pengakuan moral yang bisa diprediksi:

  • Jika kamu bikin film tentang Holocaust, kamu punya peluang emas.

  • Jika kamu bikin film tentang Palestina? Semoga dapat izin tayang saja sudah untung.

Leonardo DiCaprio bisa tenggelam dalam Titanic dan tetap pulang tanpa piala. Tapi ketika Kate Winslet bermain dalam The Reader, sebuah film tentang Nazi dan Holocaust, ia langsung menang Oscar.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah sistem: hanya penderitaan tertentu yang layak dikenang, dan hanya korban tertentu yang boleh diperjuangkan.


✦ “Pro-Palestina” di Hollywood: Branding, Bukan Berpihak

Mari kita tegaskan satu hal: Superman bukan bagian dari solidaritas. Ia adalah bagian dari branding.

Seperti brand sneakers yang menaruh logo pelangi saat Pride Month, lalu menggantinya dengan bendera militer di bulan berikutnya.
Seperti brand kopi yang tiba-tiba menulis “We stand with Gaza” setelah tren boikot, lalu tetap beriklan di saluran-saluran Zionis.

Superman bukan berubah menjadi Muslim. Ia hanya mengucapkan “salam solidaritas” seperti orang mabuk mengucapkan “Allahu Akbar” saat karaoke.


✦ Yang Tertipu adalah Kita

Sialnya, banyak umat Muslim yang langsung terharu. Menangis. Berkicau. “Hollywood akhirnya sadar!”
Padahal yang sadar itu bukan nurani, tapi big data.

Umat Islam terlalu lapar akan validasi. Sampai-sampai ketika penjajah memberikan ilusi empati dalam bentuk fiksi, kita menyambutnya seperti wahyu baru.

Sementara di dunia nyata, anak-anak Gaza masih tidur di bawah reruntuhan. Dan tak ada Superman yang datang. Yang datang hanyalah drone buatan AS dan veto dari PBB.


✦ Dari Kamera ke Kesadaran

Jangan tertipu layar. Jangan percaya pada jubah.
Karena dalam dunia sinema modern, kebenaran bukan ditulis dengan tinta, tapi dengan kode algoritma.

Superman hari ini bukan penyelamat. Ia adalah refleksi dari kita yang terlalu malas berpikir dan terlalu cepat percaya. Dan Hollywood tahu itu.

Mereka tahu bahwa umat yang lelah dan bingung akan mudah dikibuli oleh bendera dalam film fiktif. Dan selama kita menonton, membagikan, dan membeli popcorn—mereka menang.

Bukan Palestina.


Karena di Hollywood, bahkan penderitaan pun punya harga tiket.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...