Skip to main content

Bancakan di Tanah Suci

 

Setiap tahun, jutaan umat Islam menabung belasan tahun demi satu cita-cita spiritual: pergi ke Tanah Suci. Tapi di balik lantunan doa dan air mata haru di bandara, ada sekelompok orang yang ikut menatap ke langit, bukan untuk berdoa, tapi menghitung komisi.

Baru-baru ini, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut ada potensi kebocoran 20–30 persen dari total dana haji Rp17 triliun. Artinya, sekitar Rp5 triliun bisa hilang di tengah jalan. Hilang bukan karena dicuri jin atau angin gurun, tapi karena bocor di antara “sekitar sepuluh proses bisnis” yang katanya menggerakkan ekosistem ekonomi haji, mulai dari kuota, transportasi, katering, sampai pengadaan jasa di Arab Saudi.
Semuanya terdengar sah-sah saja, kecuali satu hal: yang dikorbankan adalah uang umat, bukan uang negara.

Tapi yang lebih menarik bukan di mana uang itu bocor, melainkan siapa yang lebih dulu menyeka tangannya sebelum airnya menetes.


Marwan Dasopang, Ketua Komisi VIII DPR, buru-buru berkata lantang,

“Kami mulai sekarang declare, kami nggak ikut apa-apa. Bocornya di Kemenhaj!”

Begitulah republik ini bekerja. Setiap kali ada bau bangkai, yang pertama muncul bukan penyelidikan, tapi deklarasi cuci tangan.
Pernyataan “kami nggak ikut apa-apa” selalu muncul lebih cepat daripada niat memperbaiki apa pun.
Padahal, kalau fungsi pengawasan dijalankan dengan benar, uang jamaah tak seharusnya lenyap lewat pintu yang sama setiap tahun.


Yang lebih aneh lagi, meski sudah tahu ada potensi kebocoran Rp5 triliun, biaya haji 2026 hanya turun Rp1 juta. Dari total Rp17 triliun, negara hanya berani memangkas satu lembar rupiah yang bisa jadi sama nilainya dengan tips bellboy hotel Mekkah.
Seakan-akan, setelah audit, mereka menyimpulkan: “Iya sih bocor, tapi biarin aja. Jamaah juga nggak bakal nanya.”

Padahal, kalau “bancakan” itu disetop, biaya seharusnya bisa ditekan sampai Rp5 triliun.
Tapi kita hidup di negeri yang punya logika unik:
potongan Rp1 juta disebut keberhasilan, sementara potensi bocor Rp5 triliun dianggap “masih wajar dalam sistem besar.”


Fenomena dana haji ini bukan sekadar korupsi biasa. Ini adalah ironi spiritual tingkat tinggi: ibadah paling sakral dalam Islam dijadikan lahan paling profan. Di atas kertas, dana haji dikelola oleh BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji), di bawah koordinasi Kemenag.
Namun, di lapangan, yang mengelola justru semangat oportunisme berjamaah. Semua pihak mengaku ingin mempermudah ibadah umat, sampai-sampai mereka ikut “beribadah” lewat rekening masing-masing.

Setiap rupiah yang bocor di situ bukan cuma uang, tapi juga kepercayaan. Karena orang menabung untuk haji bukan untuk bisnis, tapi untuk menebus dosa. Kini dosa mereka justru ditukar dengan dosa baru, yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memfasilitasi jalan menuju Tuhan.


Bagi sebagian pejabat, mungkin ibadah haji adalah sekadar jadwal dinas berlabel spiritual. Mereka bisa mondar-mandir antara hotel bintang lima dan tenda VIP, sambil membicarakan “efisiensi biaya umat”.
Di sisi lain, jutaan calon jamaah menabung puluhan tahun untuk mendapat kursi yang belum tentu tiba sebelum ajal.
Di antara dua kutub itu, uang Rp5 triliun melayang-layang, seperti doa yang tidak pernah sampai ke langit.


Kalau mau jujur, kebocoran dana haji bukan karena sistem rumit, tapi karena moral yang sederhana: rakus. Rakus itu tak mengenal agama, tapi di republik ini sering pakai baju putih dan kalimat pembuka “Bismillah”.
Dan ketika rakus diselimuti kesalehan, ia jadi tak tersentuh hukum. Karena siapa yang berani memeriksa orang yang mengaku “melayani tamu Allah”?


Yang ironis, dalam setiap skandal haji, yang diadili selalu pegawai rendahan, bukan pengambil keputusan. Yang disalahkan mungkin staf lapangan, bukan mereka yang menetapkan harga kamar hotel dua kali lipat dengan alasan “standar pelayanan jamaah”.
Lalu kita disuruh percaya bahwa pengawasan sudah dilakukan, laporan sudah diaudit, dan semua transparan, padahal yang transparan cuma cara bocornya.


Kalau saja Sumpah Pemuda dulu berbunyi “Kami bersumpah tidak akan membiarkan uang rakyat dijarah atas nama Tuhan,” mungkin generasi sekarang tidak perlu bersusah payah mencari Tuhan di antara laporan BPKH.

Kita hidup di masa di mana ibadah adalah proyek, dan proyek adalah ibadah. Maka jangan heran kalau doa yang naik ke langit disertai slip setoran. Dan ketika jamaah bersyukur bisa berangkat ke Mekkah,
di Jakarta, ada pejabat yang bersyukur bisa pulang dari rapat dengan “berkah tambahan”.


Pertanyaannya bukan siapa yang harus bertanggung jawab, karena di negeri ini, tanggung jawab selalu bersifat kolektif sampai tak ada yang benar-benar bertanggung jawab.
Yang lebih pantas ditanya adalah:
apakah ibadah yang dibiayai dari uang bocor masih bisa disebut suci?

Kalau jawabannya masih “iya”, maka mungkin yang perlu dimurnikan bukan dana hajinya, tapi nurani bangsa yang sudah terlalu lama beribadah kepada kekuasaan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...