Desember 2023.
Jakarta sibuk dengan lampu, diskon, dan suara tahun yang mulai letih. Tapi saya punya urusan lain yang lebih personal: kembali ke gedung Trans TV, tempat yang dulu saya tinggalkan dengan reputasi yang, entah bagaimana, masih belum ikut pergi bersama saya.
Saya datang bukan untuk reuni, apalagi melamar kerja. Hanya ada urusan kecil dengan salah satu tim di CNN Indonesia yang kini menempati sebagian lantai gedung itu. Di sana, saya bertemu lagi dengan beberapa kawan seangkatan saya, wajah-wajah yang dulu saya kenal sebagai rekan seperjuangan, kini sudah menjelma jadi para karyawan dengan jabatan lumayan tinggi. Kami duduk melingkar di meja salah satu dari mereka, bertukar cerita tentang masa lalu, tentang siaran yang kacau, proyek yang gagal, dan bos yang dulu kami kira abadi.
Mereka menatap saya dengan senyum hangat, sebagian masih mengingat gaya saya yang dulu: blak-blakan, nyaris tanpa filter, dan selalu siap berdebat untuk hal-hal yang mungkin tidak penting bagi orang lain. Saya bercerita sedikit tentang hidup setelah keluar dari Trans TV di tahun 2012, tentang kerja serabutan, dunia freelance, dan bagaimana saya akhirnya belajar berdamai dengan diam.
Lalu tiba-tiba, seorang staf CNN Indonesia datang tergesa-gesa menghampiri meja kami. Saya tidak mengenalnya, tapi dia tahu saya. “Wah, ternyata beneran, Mas Arnest balik ke sini!” katanya dengan ekspresi campuran antara kaget dan kagum.
Saya hanya tertawa kecil. “Emangnya kenapa kalau aku ke sini?”
Dia menjawab cepat, “Mas, udah heboh dari kemarin! Katanya Che Arnest mau kerja di sini lagi.”
Kawan-kawan saya tertawa keras. Saya ikut tertawa, tapi dalam hati saya merasa aneh, bahkan sebelum saya sempat menginjakkan kaki di gedung ini, nama saya sudah lebih dulu datang. Seolah ia menyalip saya di pintu depan, naik lift duluan, dan mulai berbisik ke seluruh ruangan: “Dia kembali.”
Bahkan satpam di lobi masih mengenali saya. Salah satunya menyapa ramah, “Cuti panjang, ya, Mas?”
Saya tersenyum. Andai dia tahu, cuti saya sudah berjalan sebelas tahun.
Saya memang meninggalkan sesuatu di gedung itu, bukan penghargaan, bukan prestasi, tapi semacam reputasi yang sulit dijelaskan. Saya dulu dikenal keras kepala, sering mengkritik tanpa basa-basi, dan punya kebiasaan aneh mencari gara-gara ketika bosan. Surat peringatan sudah seperti bonus tahunan. Tapi meski begitu, saya tidak pernah melanggar hukum, hanya melanggar kesabaran orang-orang di sekitar saya.
Sekarang saya sadar, mungkin itu yang membuat saya berhenti naik jabatan: saya lebih suka melawan daripada menyesuaikan. Tapi saya tidak menyesalinya. Karena di masa muda, pemberontakan adalah satu-satunya cara agar kita merasa hidup.
Kini, duduk di antara teman-teman lama yang sudah jadi petinggi, saya hanya bisa tersenyum mendengar mereka menyebut nama saya dengan nada nostalgia. Saya sadar, reputasi saya masih hidup di sana, seperti cerita lama yang terus diceritakan ulang oleh generasi baru.
Reputasi, rupanya, seperti bau kopi yang menempel di udara kantor. Ia tidak butuh tubuh untuk hadir, cukup kenangan untuk terus hidup.
Saya tidak bangga dengan masa lalu itu, tapi juga tidak ingin menghapusnya. Karena di situlah saya belajar, bahwa karakter tanpa arah bisa jadi batu pijakan bagi kebijaksanaan nanti.
Dan kalau ada yang bertanya bagaimana rasanya kembali ke tempat lama setelah sebelas tahun, saya akan menjawab begini:
Rasanya seperti menonton film lama di bioskop yang baru direnovasi. Lampunya berubah, tapi wajahmu di layar masih sama, dan penonton masih mengingat setiap dialognya.
Karena di industri ini, bukan hanya berita yang cepat menyebar.
Reputasi juga.
Dan kadang, namamu bisa tiba lebih dulu daripada dirimu sendiri.

Comments
Post a Comment