Di negeri ini, kelas sosial tidak sekadar realitas — ia adalah pertunjukan. Sebuah drama besar yang lakonnya sudah dibagi sejak lahir: kelas bawah jadi figuran, kelas menengah jadi pemain pengganti, dan kelas atas jadi sutradara yang juga memegang hak siar. Semua punya peran, tapi tidak semua punya suara.
Di atas panggung, naskahnya sederhana:
Kelas menengah dimatikan pemasukannya.
Kelas atas dimuliakan posisinya.
Kelas bawah dipelihara untuk mendulang suara.
Dan seperti semua naskah propaganda yang baik, ia berjalan mulus — karena setiap lapisan percaya bahwa mereka sedang berjuang di pihak yang benar.
1. Kelas Bawah: Mereka yang Dihidupi oleh Ketidakberdayaan
Kelas bawah adalah fondasi piramida sosial, tapi bukan yang menopang; mereka adalah bagian yang ditahan agar piramida tetap berdiri. Mereka dijaga agar cukup hidup, tapi tidak cukup sadar. Mereka diberi bantuan, bukan kebebasan. Dikasih janji, bukan akses.
Setiap beberapa tahun sekali, mereka jadi rebutan. Disapa dengan bahasa rakyat, dibelikan kaus dan sembako, dijanjikan masa depan seperti sinetron dengan ending yang bahagia. Setelah itu? Kembali ke kehidupan “day by day” — di mana berpikir tentang masa depan dianggap kemewahan.
Ironisnya, di antara kesempitan itu, mereka menemukan musuh yang salah: kelas menengah. “Udah syukur hidup lebih enak, masih aja nyalahin pemerintah,” kata sebagian dari mereka. Mereka tidak tahu, yang mereka benci bukan orangnya, tapi bayangannya — proyeksi tentang hidup yang sedikit lebih nyaman, tapi masih bisa salah arah.
Itu sebabnya kelas bawah lebih mudah marah pada yang sedikit di atas mereka daripada pada yang jauh di atas. Karena yang jauh terlalu tak terjangkau untuk dibenci, dan yang dekat terlalu nyata untuk diabaikan.
2. Kelas Menengah: Mereka yang Terjepit di Tengah dan Tersesat di Arah
Kelas menengah, di negeri ini, adalah spesies langka: bekerja keras, berpikir kritis, tapi tetap miskin secara struktural. Mereka membayar pajak paling banyak, tapi menerima manfaat paling sedikit. Mereka jadi sumber stabilitas negara — tapi justru diperlakukan seperti ancaman. Karena suara mereka tidak bisa dibeli dengan sembako, tapi juga tidak cukup berkuasa untuk memaksa perubahan.
Mereka ini unik: terlalu pintar untuk ditipu, tapi terlalu sibuk untuk melawan. Hidup mereka seperti treadmill ekonomi — terus berlari tanpa pernah benar-benar maju.
Mereka bicara tentang masa depan, tapi masa kini menagih cicilan. Mereka ingin sistem yang adil, tapi sistem memintanya bersabar. Mereka membela rakyat, tapi rakyat bertanya, “bela rakyat yang mana?”
Di sinilah absurditasnya: kelas menengah adalah kelompok paling sadar tapi paling tak berdaya. Mereka membaca, menulis, berdiskusi, mengeluh di media sosial — dan setiap langkah itu memberi sensasi semu bahwa mereka sedang bergerak. Padahal, secara politik dan ekonomi, mereka hanya berputar di tempat.
Di dunia kapitalisme modern, kebebasan mereka tidak dibungkam dengan kekerasan, tapi dengan kenyamanan. Asal masih bisa liburan ke Bali setahun sekali dan beli kopi seharga makan siang buruh harian, mereka akan tenang. Ini jebakan halus yang disebut “middle trap”: mereka tidak cukup sengsara untuk berontak, tapi juga tidak cukup makmur untuk melawan.
3. Kelas Atas: Mereka yang Mengatur Lampu Panggung
Sementara itu, kelas atas tersenyum. Mereka tidak perlu ikut debat di Twitter, tidak perlu teriak soal keadilan sosial. Karena mereka punya hal yang lebih berharga: akses. Mereka tak perlu menunggu negara — mereka bisa membeli negara dalam paket investasi.
Mereka menciptakan sistem di mana dua lapisan di bawahnya sibuk bertengkar, agar mereka bisa tidur nyenyak di penthouse. Mereka memberi sedikit kepada kelas bawah agar tampak dermawan, dan memeras sedikit dari kelas menengah agar tampak efisien. Itulah keseimbangan sempurna: ketika dua lapisan terbawah sibuk berjuang mempertahankan hidup, sementara lapisan teratas sibuk memperluas makna hidupnya.
Lucunya, sebagian kelas menengah masih berusaha mendekat ke sana — bukan dengan meritokrasi, tapi dengan mimpi. Mereka menatap ke atas sambil berkata, “kalau kerja keras, suatu hari saya juga bisa seperti itu.” Padahal, sistem ini tidak dibuat untuk menaikkan siapa pun, hanya untuk mempertahankan yang sudah di atas. Yang naik, hanya mereka yang dibutuhkan untuk memperpanjang pertunjukan.
4. Ilusi Mobilitas dan Kapitalisme Emosional
Kita hidup di zaman ketika ketimpangan ekonomi disamarkan dengan ilusi akses. Semua orang bisa tampil sukses — asalkan punya angle foto yang bagus. Kapitalisme sudah tidak hanya menjual barang, tapi juga perasaan: rasa berdaya, rasa keren, rasa layak dihormati.
Kelas menengah dijual mimpi bahwa mereka “selangkah lagi” menuju kemapanan. Dan ketika mimpi itu gagal, mereka disalahkan karena kurang berusaha. Sistemnya gagal, tapi yang malu selalu individunya.
Kapitalisme modern tidak lagi berbicara dalam angka, tapi dalam estetika. Yang penting bukan seberapa kaya, tapi seberapa kelihatan berhasil. Inilah yang membuat kelas menengah terus bekerja — bukan untuk hidup lebih baik, tapi agar tidak tampak gagal.
Dan di titik inilah, semua garis kelas kabur oleh gaya hidup, bukan realitas. Kelas bawah bermimpi hidup seperti menengah, menengah bermimpi seperti atas, dan kelas atas? Mereka meniru gaya hidup orang biasa di Instagram agar terlihat rendah hati.
5. Kelas Menengah sebagai Korban yang Elegan
Mereka tahu mereka dimanfaatkan. Tapi mereka tidak bisa berhenti. Karena jika berhenti, semua rasa “berarti” dalam hidup mereka akan ikut runtuh. Maka mereka bekerja, membayar pajak, membeli asuransi, menyicil rumah, menonton berita, dan sesekali mengeluh tentang negara — sambil tetap memastikan tagihan internet tidak telat.
Kelas menengah tidak punya revolusi. Yang mereka punya hanyalah kesadaran — dan itu, sialnya, terlalu sunyi untuk mengguncang apa pun.
Mereka tidak akan berperang, karena tidak punya waktu. Mereka tidak akan berteriak, karena sedang rapat. Mereka tidak akan menolak, karena sedang menabung.
Mereka hidup di antara dua ketakutan: takut miskin seperti di bawah, dan takut tidak diterima oleh yang di atas. Dan di antara dua ketakutan itulah, mereka kehilangan arah — dan, mungkin, kehilangan makna.
6. Akhir yang Tak Pernah Usai
Jadi, begitulah naskahnya: kelas bawah dijaga untuk memilih, kelas menengah ditekan untuk membayar, kelas atas dimuliakan untuk memerintah. Semuanya bekerja sesuai peran. Tak ada yang benar-benar menang, kecuali sistem itu sendiri.
Mungkin benar, seperti kata seseorang di LinkedIn itu:
“Layer atas yang bisa ngangkat layer low ke mid. Jadi sebagai layer mid, kita cuma bisa ke layer atas.”
Kalimat itu pahit, tapi jujur. Karena dalam struktur yang dirancang untuk vertikalitas, solidaritas horizontal adalah ancaman. Satu-satunya cara “naik” hanyalah dengan tunduk pada mereka yang sudah di atas.
Dan di sinilah ironi paling filosofis dari peradaban modern:
Kita hidup dalam sistem yang mendorong setiap orang naik, tapi tidak pernah benar-benar ingin siapa pun sampai di puncak. Karena kalau semua naik, siapa yang akan menopang panggung?
Epilog: Tentang Panggung yang Tak Pernah Gelap
Negeri ini tidak akan runtuh karena korupsi, tapi karena keterbiasaan. Karena semua orang sudah terbiasa dengan perannya. Kelas bawah terbiasa menerima, kelas menengah terbiasa menanggung, dan kelas atas terbiasa berkuasa.
Kita semua jadi bagian dari harmoni yang absurd: orkestra yang dimainkan dengan nada sumbang, tapi tetap mendapat tepuk tangan karena semua orang di panggung sudah menulikan telinga.
Dan begitulah, pertunjukan berlanjut.
Lampu tetap menyala.
Kita tetap menonton — dan membayar tiketnya dengan pajak, waktu, dan sedikit harapan yang tersisa.

Comments
Post a Comment