Skip to main content

Enam Kata, Sepasang Sepatu, dan Dunia yang Membiarkan Anak-Anak Mati Sebelum Belajar Berjalan


Konon, Ernest Hemingway pernah menerima tantangan konyol: menulislah sebuah cerita utuh hanya dalam enam kata. Tantangan yang terdengar seperti hiburan bar—sebelum akhirnya menghasilkan salah satu kalimat paling memukul dalam sejarah sastra:

“For sale: baby shoes, never worn.”

Sebuah iklan baris. Tidak ada tokoh, tidak ada nama, tidak ada air mata yang dipaparkan secara eksplisit. Hemingway tidak menjelaskan apa pun; ia hanya meninggalkan lubang menganga yang harus diisi oleh imajinasi pembaca. Dan ironinya—lubang itu justru hadir lebih gelap dari novel tebal mana pun.

Enam kata itu berhasil karena satu hal: ia tidak berusaha menyedihkan; ia cuma jujur tentang absennya kehidupan, dan kita yang mengisi sisanya.

Namun, yang membuat cerita itu terasa semakin pahit adalah ketika kita melihat dunia hari ini, dan menyadari bahwa Hemingway sedang menulis tragedi dari sebuah keluarga—sementara di tempat lain, tragedi serupa menjadi produksi massal. Bukan lagi satu pasang sepatu yang tak sempat dipakai, tapi ribuan. Bukan lagi satu bayi tanpa masa depan, tapi satu generasi yang dipatahkan oleh roket, blokade, dan kekuasaan yang percaya bahwa keadilan bisa dimatikan tombolnya.

Di Gaza, cerita enam kata itu bukan eksperimen literer. Ia laporan harian.


Hemingway menumpuk kesedihan melalui keheningan. Tetapi di Gaza, keheningan itu dihancurkan oleh suara ledakan, dan justru di situlah absurditasnya: dunia ribut ketika seorang penulis bermain dengan enam kata, namun nyaris bisu ketika ribuan anak bahkan tidak diberi enam detik untuk hidup.

Kalimat Hemingway bekerja karena ia menyentuh sesuatu yang universal: kehilangan yang tidak sempat memiliki kenangan. Tapi kehilangan di Gaza tidak abstrak. Ia konkret, bernama, bersuara. Ia punya alamat rumah yang kemudian berubah menjadi koordinat serangan. Ia punya tas sekolah yang kini hanya berfungsi sebagai bukti forensik. Ia punya sepatu kecil—sering kali ditemukan di bawah puing—yang tak pernah sempat disentuh tanah.

“Never worn.”
Di tangan Hemingway, itu adalah patah hati.
Di Gaza, itu adalah dakwaan.

Hemingway bermain dalam metafora; Gaza hidup dalam statistik yang tak berhenti bertambah.
Hemingway memotong narasi sengaja; IOF memotong hidup anak-anak tanpa alasan yang bisa dibenarkan.


Ada yang bilang sastra membantu kita memahami kemanusiaan. Mungkin benar. Tapi yang lebih ironis: terkadang sastra juga menjadi cermin betapa absurdnya dunia. Kita memuja kepiawaian Hemingway menanam tragedi dalam enam kata—padahal tragedi yang jauh lebih brutal sedang berlangsung di depan mata, dalam ukuran yang tidak muat lagi disebut “kisah”.

Di Gaza, jika ada versi kontemporer dari cerita Hemingway, mungkin bentuknya tidak sehalus itu. Mungkin lebih jujur, lebih telanjang, dan lebih dekat pada apa yang sebenarnya terjadi:

“Found under rubble: baby shoes, never worn.”

Tidak puitis. Tidak estetis. Tidak mencari pujian.
Tapi itulah kenyataan yang ditolak dunia untuk dihadapi.

Enam kata Hemingway mengajak kita merenung. Enam kata dari Gaza memaksa kita berhenti berpura-pura bahwa tragedi bisa diperlakukan seperti wacana sastra yang aman, steril, dan jauh dari kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, kisah paling menyakitkan bukanlah yang ditulis di atas kertas, tetapi yang ditinggalkan oleh dunia yang memilih menutup mata.

Dan di suatu tempat, di bawah puing yang ditinggalkan perang, ada sepatu kecil yang tidak pernah dipakai—bukan karena takdir, tetapi karena manusia lain memutuskan untuk menghentikan langkah pertama yang seharusnya menjadi haknya.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...