Skip to main content

Tentang Maag, Angin Duduk, dan Kantor yang Tetap Berjalan Tanpa Kita

 

Kalau lagi kumpul dengan orang-orang yang bekerja di penyiaran atau agency, atau yang pernah merasakan jungkir-baliknya dunia itu, topik yang entah kenapa sering muncul adalah soal penyakit apa yang pernah mampir ke tubuh kami. Ada yang cerita maag, tifus, bahkan ada yang mengisahkan temannya sampai kena stroke gara-gara ritme kerja yang absurd.

Saya sendiri, di awal-awal kerja, sempat mengalami sakit maag parah. Perut saya mau diisi atau tidak, rasanya tetap sakit, mual, dan seperti mau muntah. Sampai akhirnya, saat training di TVRI, salah satu instruktur memberi saran sederhana: makan telur asin sebelum makan berat. Aneh memang, tapi ternyata berhasil. Sejak itu, maag yang dulu setia menemani, menghilang tak pernah kembali.

Untuk penyakit seperti tifus atau stroke, alhamdulillah saya belum pernah mengalaminya. Yang lucu, justru istri saya, yang bekerja di Bank dan jadwalnya lebih manusiawi, malah kena tifus. Kadang saya berpikir, jangan-jangan pekerjaan dia sebenarnya lebih berat daripada pekerjaan saya yang katanya “dunia kreatif”.

Tapi penyakit paling berat yang pernah saya alami sebagai pekerja kreatif adalah ketika saya terkena angin duduk. Kejadiannya saat saya sedang mengedit sebuah program televisi sekitar jam 10 malam. Tidur kurang, minum kurang, dan tubuh dipaksa tetap fokus. Tiba-tiba saya roboh begitu saja. Untung rekan kerja saya bergerak cepat. Mereka membawa saya ke IGD dengan mobil kantor, syukurnya rumah sakit hanya berada di seberang jalan.

Alhamdulillah, nyawa saya tertolong. Beberapa tahun kemudian saya baru paham kalau angin duduk itu terkait gangguan jantung. Tidak heran setiap saya bercerita, orang-orang yang mendengarnya langsung terbelalak.

Dan lalu, saya lihat postingan Jobstreet itu…

Yang isinya: seorang karyawan meninggal kecelakaan jam 10 malam karena dipaksa balik ke kantor buat revisi laporan, padahal bisa dikerjakan besok pagi. Yang lebih bikin sesak, bosnya bahkan tidak datang ke pemakaman karena sibuk cari pengganti.

Bacanya bikin saya bengong: segampang itu kita diganti. Sesederhana itu posisi berpindah tangan. Tidak peduli berapa banyak malam yang kita habiskan, berapa banyak kesehatan yang kita gadaikan.

Momen saya hampir tumbang di ruang editing dulu terasa makin masuk akal: perusahaan itu bisa sangat membutuhkan kita… sampai detik mereka tidak membutuhkan kita lagi.


Sedikit Nasihat Buat yang Masih Baru Terjun ke Dunia Kreatif

Buat kalian yang baru mulai bekerja di dunia kreatif atau masih aktif di kegiatan kampus: jaga badan kalian. Serius, tubuh itu bukan alat produksi yang bisa dibanting seenaknya. Saya dulu merasa kebal, sampai lantai kantor membuktikan sebaliknya.

Kalian tidak perlu hidup super sehat ala influencer. Cukup hal yang sederhana: tidur yang layak, minum yang cukup, makan tepat waktu, dan dengarkan tubuh sebelum dia marah. Jangan merasa hebat karena bisa begadang dua hari. Jangan bangga kalau kalian lupa makan karena “keasyikan ngerjain proyek”. Itu bukan dedikasi, itu tagihan kesehatan yang tinggal tunggu jatuh tempo.

Kerja keras itu bagus, tapi ingat: perusahaan bisa mencari pengganti kalian dalam sehari. Sementara keluarga kalian… tidak punya kemewahan itu.

Kalau ada pelajaran dari pengalaman saya, mungkin cuma satu: jangan tunggu sakit dulu baru belajar sayang sama tubuh sendiri.


Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Strategi Teh Pucuk Harum Menggeser Teh Botol Sosro: Dari “Pucuk-pucuk” ke Puncak Pasar

Di dunia minuman teh dalam kemasan, satu nama pernah begitu sakral: Teh Botol Sosro . Tagline legendarisnya— “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” —menjadi mantra yang menggema di ruang makan, restoran, hingga warung-warung. Produk ini tak cuma minuman, tapi bagian dari budaya populer. Tapi cerita berubah. Menurut Top Brand Index fase 1 tahun 2022 , posisi puncak tak lagi dipegang Teh Botol Sosro, melainkan Teh Pucuk Harum , pemain yang terhitung baru tapi agresif dan taktis. Bagaimana bisa pemain yang baru diluncurkan pada tahun 2011 ini berhasil menggeser “raja” yang sudah bertakhta sejak 1970-an? Jawabannya adalah kombinasi cerdas antara diferensiasi, konsistensi branding, agresivitas pemasaran, serta kemampuan membaca perubahan perilaku pasar. Mari kita uraikan satu per satu. 1. Diferensiasi: Pucuk Daun, Pucuk Ingatan Teh Pucuk Harum tak datang dengan tangan kosong. Mereka datang dengan satu pesan sederhana tapi kuat: “Teh terbaik ada di pucuknya.” Kalimat ini bukan b...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...