Skip to main content

Ketika Negara Bilang “Terkendali”, Warga Mengibarkan Bendera Putih

 

Ada satu kata yang belakangan terdengar sangat elastis: terkendali.

Kata ini bisa berarti apa saja. Bisa berarti situasi aman. Bisa berarti negara sudah bekerja. Bisa juga berarti: “tolong berhenti ribut, kami sudah capek menjelaskan.”

Presiden bilang, penanganan bencana di Sumatra terkendali. Tiga provinsi dari tiga puluh delapan. Angka yang terdengar kecil, hampir remeh. Seolah penderitaan bisa dipersentasekan. Seolah duka bisa diringkas dalam tabel Excel.

Tapi di Aceh, warga mengibarkan bendera putih.

Bukan bendera partai. Bukan simbol politik. Bukan provokasi asing seperti yang sering dicurigai negara setiap kali ada jeritan dari bawah.

Bendera putih itu bahasa paling purba manusia: tanda menyerah. Tanda sudah tidak sanggup lagi.

Dan di titik ini, kita perlu jujur bertanya: siapa sebenarnya yang terkendali?


Matematika Kekuasaan vs Realitas Lumpur

Dalam logika negara, bencana itu soal skala. Soal jumlah. Soal persentase. Tiga provinsi dianggap kecil. Masih ada tiga puluh lima yang “baik-baik saja”. Maka kesimpulannya sederhana: tidak perlu drama.

Masalahnya, logika alam tidak bekerja dengan cara itu.

Bagi orang di Bener Meriah yang akses jalannya putus, dunia itu hanya selebar desanya. Bagi warga Aceh Tamiang yang kekurangan logistik, Indonesia tidak seluas peta di dinding Istana. Ia menyempit menjadi posko yang kosong, menjadi dapur umum yang kehabisan beras.

Ketika negara bicara “tiga dari tiga puluh delapan”, warga bicara soal “hari ketiga belum makan layak”.

Ini bukan sekadar beda sudut pandang. Ini beda semesta moral.


Bendera Putih Itu Bukan Drama

Ada kebiasaan buruk rezim mana pun: menganggap ekspresi putus asa sebagai ancaman stabilitas.

Warga teriak, dicap lebay. Warga protes, dibilang ditunggangi. Warga pasang simbol, dicurigai ada aktor asing.

Padahal bendera putih di Aceh itu tidak mengancam siapa pun. Ia tidak menggulingkan negara. Ia tidak menurunkan presiden. Ia bahkan tidak meminta kekuasaan.

Ia cuma bilang satu hal: kami capek.

Dan ironisnya, justru simbol paling damai itu yang membuat negara gelisah.

Karena bendera putih tidak bisa dilawan dengan pidato. Tidak bisa dibantah dengan konferensi pers. Tidak bisa ditenggelamkan dengan jargon nasionalisme.

Ia terlalu jujur.


“Terkendali” Menurut Siapa?

Kalau situasi benar-benar terkendali, kenapa masih ada kabupaten yang akses daratnya putus?

Kalau terkendali, kenapa pemerintah daerah sampai mengirim surat ke UNICEF dan UNDP?

Tidak ada daerah yang dengan bangga mengaku tidak mampu. Surat ke PBB itu bukan gaya. Itu sinyal darurat. Itu pengakuan bahwa kapasitas lokal dan nasional sedang kewalahan.

Tapi negara punya refleks lama: alergi pada bantuan asing.

Bantuan sering dianggap bukan solidaritas, tapi ancaman kedaulatan. Seolah satu truk logistik bisa meruntuhkan republik. Seolah selimut dan air bersih datang bersama agenda geopolitik.

Ini paranoia yang mahal biayanya. Mahal karena dibayar dengan nyawa manusia.


Negara yang Takut Terlihat Lemah

Masalah utama kita bukan bencana alam. Kita negara cincin api, banjir, gempa, longsor itu keniscayaan.

Masalahnya adalah ego kekuasaan.

Negara kita lebih takut terlihat lemah daripada melihat rakyatnya lemah. Lebih khawatir citra jatuh daripada warga jatuh kelaparan.

Dalam filsafat politik klasik, negara ada untuk melindungi warganya. Tapi dalam praktik modern, sering terbalik: warga diminta memahami keterbatasan negara, bersabar demi stabilitas, menahan diri demi nama baik pemerintah.

Bendera putih Aceh adalah kritik telanjang terhadap logika ini.

Ia berkata: “Kami tidak butuh narasi. Kami butuh bantuan.”


Ketika Data Menjadi Penghibur Diri

Seribu lebih meninggal. Ratusan hilang. Lebih dari setengah juta mengungsi.

Angka-angka ini dibacakan seperti laporan cuaca. Netral. Dingin. Aman.

Data memang penting. Tapi ketika data hanya dipakai untuk menenangkan elite, ia berubah menjadi morfin politik, membuat penguasa merasa sudah cukup peduli, padahal belum cukup bertindak.

Di lapangan, angka tidak menghangatkan badan. Statistik tidak mengenyangkan perut.

Yang dibutuhkan warga bukan klaim “terkendali”, tapi kehadiran yang terasa.


Satir Paling Kejam Bernama Kenyataan

Bayangkan ironi ini:
Presiden bilang terkendali.
Mendagri bilang akan dipelajari.
Pemerintah daerah bilang butuh bantuan.
Warga bilang menyerah.

Empat suara, satu negara. Tapi tidak bertemu di satu titik.

Yang paling menyakitkan dari bendera putih Aceh bukan simbolnya, tapi fakta bahwa warga harus melakukan itu agar didengar. Seolah penderitaan baru sah jika divisualkan. Seolah negara baru menoleh jika rakyat menyerah dulu.

Ini satir yang tidak ditulis oleh penulis mana pun. Ini satir yang diciptakan oleh sistem.


Akhirnya, Pertanyaannya Sederhana

Kalau negara masih bilang terkendali, sementara warga sudah mengibarkan tanda menyerah, mungkin yang perlu dievaluasi bukan kondisi lapangan, melainkan definisi “terkendali” itu sendiri.

Karena bagi rakyat, terkendali bukan soal pidato tenang.
Bukan soal angka kecil di antara angka besar.
Bukan soal gengsi menerima bantuan.

Terkendali itu ketika tidak ada warga yang merasa sendirian di tengah bencana.

Dan selama bendera putih masih berkibar di Aceh, mungkin yang sebenarnya belum terkendali adalah cara kita memahami penderitaan orang lain, terutama ketika kita duduk jauh dari lumpur, tapi dekat dengan kekuasaan.


Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...