Saat kamu jadi karyawan baru di sebuah perusahaan, satu hal harus diterima sejak hari pertama: kamu tidak punya kekuatan apa pun. Bukan karena kamu tidak kompeten, tapi karena sistem memang tidak memberi ruang untuk itu. Kamu harus siap mengerjakan apa saja yang diminta orang lama—bahkan ketika itu tidak pernah tercantum dalam deskripsi pekerjaan. Menolak bukan pilihan. Mengeluh pun dianggap dosa kecil yang akan dicatat rapi dalam ingatan atasan.
Konsekuensinya sederhana tapi kejam: penilaian buruk. Label “tidak kooperatif.” Atau yang paling halus tapi mematikan, “kurang adaptif.” Kamu juga harus siap menerima janji-janji yang menguap. Aturan yang tiba-tiba muncul dari udara kosong. Dan ketika kamu bertanya sejak kapan itu berlaku, jawabannya selalu sama: “Kan sudah pernah disampaikan.” Bukan mereka yang lupa memberi tahu, tapi kamu yang dianggap lalai mengingat.
Mau perusahaan nasional atau luar negeri, pada akhirnya polanya mirip. Idealismenya beda bahasa, tapi praktiknya serupa.
Seperti yang saya alami sekarang.
Saya bekerja di sebuah kantor berita milik salah satu negara di Eropa. Bayarannya euro. Dari luar, semua tampak sempurna. Mereka sangat mengagungkan “work-life balance.” Tidak ada senior-junior, katanya. Semua setara. Usia bukan masalah—orang di atas 40 tahun masih diterima bekerja. Sistemnya hybrid. Di tiga bulan masa percobaan, empat hari kerja delapan jam, dan hanya dua hari wajib ke kantor. Lembur dikompensasi. Di masa percobaan, kompensasi berupa potongan jam kerja; setelahnya baru uang. Kerja di hari libur? Dibayar dua kali lipat.
Tempat kerja ideal, bukan?
Setidaknya begitu narasi yang dijual di awal.
Enam bulan kemudian, barulah gambaran aslinya muncul ke permukaan. Semua setara? Omong kosong. Suara orang lama tetap lebih berat timbangannya di hadapan bos. Saya memang diberi ruang untuk menjelaskan kritik atau komplain yang diarahkan kepada saya. Tapi ironisnya, semakin banyak saya menjelaskan, semakin dalam pula saya terperosok. Perusahaan tetap memilih membela mereka yang lebih dulu datang, bukan mereka yang sedang berusaha bertahan.
Belum lagi kejutan-kejutan kecil yang datang bertahap, seperti cicilan kekecewaan. Kewajiban masuk kantor berubah dari dua hari menjadi empat hari. Kompensasi lembur baru dibayarkan jika sudah mencapai delapan jam—seolah waktu satu sampai tujuh jam sebelumnya bukan bagian dari hidup yang terpotong. Posisi stand by menunggu materi diunggah atau hasil kerja diperiksa tidak dianggap sebagai jam kerja aktif. Waktu menggantung tidak dihitung sebagai kerja, tapi tetap mengikat.
Dan puncaknya datang tanpa aba-aba.
Saya diberi tahu bahwa posisi saya di perusahaan ini belum sepenuhnya aman. Ternyata, setelah tiga bulan masa percobaan, masih ada tambahan enam bulan masa percobaan lagi. Informasi yang tidak pernah disampaikan sejak awal. Bahkan tidak disebutkan saat appraisal tiga bulan pertama selesai. Seolah itu detail kecil yang tak penting, padahal bagi saya, itu menyangkut rasa aman dan masa depan.
Jika itu belum cukup, ada satu aturan tak tertulis yang paling absurd: karyawan baru tidak boleh meminta bantuan kepada karyawan lama. Meminta tolong dianggap kelemahan. Bertanya dianggap kesalahan. Padahal, di tempat lain, itu disebut proses belajar.
Untuk saya—yang sebelumnya menganggur bertahun-tahun—semua ini hanya bisa diterima dengan pasrah. Bukan karena setuju, tapi karena tidak punya pilihan lain. Umur sudah hampir menyentuh lima puluh. Di usia seperti ini, pasar kerja tidak lagi melihat potensi, tapi angka. Dan angka itu terlalu tua untuk diberi kesempatan kedua.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment