Per Februari, defisit APBN sudah Rp135,7 triliun. Tahun lalu di periode yang sama cuma sekitar Rp30 triliun. Artinya dalam setahun naik hampir 4,5 kali lipat.
Secara hukum, pemerintah masih technically safe. Indonesia punya aturan defisit maksimal 3% dari PDB dalam setahun. Posisi sekarang sekitar 0,5% PDB. Jadi kalau lihat angka mentahnya saja, masih kelihatan aman.
Namun, fiskal negara itu bukan soal snapshot satu bulan. Yang dilihat selalu momentum. Dan momentum awal tahun ini jelas: belanja naik cepat, ruang fiskal mulai kepakai lebih awal.
Sekarang masuk variabel kedua yang bikin situasinya jadi lebih tricky: harga minyak dunia.
APBN disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sekitar $70 per barel. Semua hitungan subsidi energi basically berdiri di angka ini.
Problemnya, situasi geopolitik lagi messy. Konflik di Timur Tengah bikin harga minyak bergerak jauh di atas asumsi itu. Banyak proyeksi sekarang menaruhnya di sekitar $90–$92. Kalau ini bertahan, APBN langsung kena pressure.
Menurut perhitungan Kementerian Keuangan, setiap kenaikan $1 harga minyak bisa menambah beban sekitar Rp6,8 triliun ke APBN. Sebagian besar datang dari subsidi BBM dan kompensasi energi.
Sekarang kita hitung simpel saja.
Asumsi APBN = $70
Potensi harga pasar = $92
Gap-nya $22.
$22 × Rp6,8 triliun.
Hasilnya sekitar Rp149 triliun tambahan tekanan ke APBN. Yes, hampir Rp150 triliun. Dan itu cuma dari satu variabel: minyak.
Kenapa efeknya bisa segede itu? Karena struktur energi Indonesia masih heavily subsidized. Begitu harga minyak dunia naik, pemerintah basically punya dua pilihan.
Pertama, subsidi dinaikkan supaya harga BBM domestik tetap stabil. Konsekuensinya: defisit APBN makin lebar.
Kedua, harga BBM dinaikkan supaya subsidi tidak jebol. Konsekuensinya: masyarakat yang kena dampak langsung.
There is no painless option here.
Kalau BBM naik, efeknya biasanya cepat kelihatan. Ongkos transport naik. Biaya logistik ikut naik. Harga bahan makanan biasanya ikut creep up beberapa bulan kemudian. Yang paling terasa tentu kelas menengah bawah, terutama yang pengeluarannya sensitif ke transportasi dan harga pangan.
Lalu pemerintah bisa apa?
Realistically, opsinya tidak banyak.
Pertama, pangkas belanja. Ini langkah paling cepat kalau pemerintah ingin menjaga defisit tetap di bawah batas 3%. Program yang dianggap kurang produktif biasanya jadi kandidat pertama buat dievaluasi.
Beberapa diskusi fiskal belakangan juga menyebut kemungkinan meninjau ulang sebagian belanja dalam program makan bergizi gratis (MBG). Bukan berarti programnya dihentikan, tapi komponen yang tidak langsung berdampak, misalnya pengadaan peralatan tertentu, bisa saja dipangkas.
Kedua, adjust harga BBM. Ini opsi klasik kalau subsidi sudah terlalu mahal. Pemerintah biasanya menahan langkah ini selama mungkin, tapi kalau tekanan fiskal terlalu besar, opsi ini hampir selalu muncul.
Ketiga, nambah utang. Secara teknis ini yang paling gampang. Pemerintah tinggal menerbitkan obligasi lebih banyak. Tapi obviously ini bukan solusi jangka panjang karena beban bunga juga ikut naik.
Ada satu hal yang interesting, banyak negara biasanya juga mencoba mengurangi konsumsi energi ketika harga minyak melonjak. Misalnya lewat kampanye hemat energi, pembatasan kendaraan, atau bahkan dorongan WFH sementara untuk menekan konsumsi BBM.
Indonesia hampir tidak pernah serius memakai instrumen ini. Padahal secara fiskal dampaknya bisa cukup besar kalau konsumsi energi turun sedikit saja.
Jadi posisi kita sekarang sebenarnya cukup clear. Defisit APBN memang masih jauh dari batas 3% PDB. Tapi kombinasi antara belanja yang naik cepat dan harga minyak yang melonjak membuat ruang fiskal semakin sempit.
Kalau minyak benar-benar stabil di sekitar $90, pemerintah hampir pasti harus mengambil keputusan yang politically uncomfortable.
Biasanya pilihannya cuma dua: pangkas belanja atau naikkan harga BBM. Dalam ekonomi politik energi, ending-nya hampir selalu sama.
Ketika harga minyak naik, somebody always pays.
Pertanyaannya cuma satu: APBN yang bayar, atau masyarakat.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment