Setiap Lebaran ada satu ritual yang selalu muncul: saling meminta maaf.
Kalimatnya juga hampir selalu sama. “Mohon maaf lahir dan batin.” Diucapkan saat sungkeman, saat salaman setelah salat Ied, di grup WhatsApp keluarga, bahkan di broadcast message yang jelas-jelas copy–paste. The phrase travels everywhere. From living rooms to timelines.
Masalahnya bukan di kalimatnya. Masalahnya di maknanya.
Karena kalau kita jujur sedikit saja, sebagian besar ucapan maaf saat Lebaran itu tidak pernah benar-benar menyentuh masalah yang sebenarnya ada di antara orang-orang yang saling mengucapkannya.
It’s more like a social script. Semacam template tahunan yang harus dijalankan supaya suasana Lebaran terasa lengkap.
Kalau tidak ada sesi saling memaafkan, rasanya ada yang kurang. Tidak afdhol. Jadi ritual itu tetap dijalankan. Orang salaman. Orang sungkeman. Orang mengucapkan maaf.
Lalu selesai.
The problem is: konflik yang ada sebelumnya tidak ikut selesai.
Orang yang sebelumnya saling mendiamkan tetap saja saling mendiamkan. Yang punya masalah warisan tetap saling menyimpan curiga. Yang sakit hati tetap menyimpan sakit hati.
Lebaran hanya membuat semuanya pause sebentar. A temporary ceasefire. Begitu suasana Lebaran selesai, semuanya kembali ke setting awal. Back to normal conflict.
Dan semua orang sebenarnya tahu itu. Kita semua pernah melihatnya. Bahkan mungkin pernah mengalaminya sendiri.
Ada keluarga yang saat Lebaran terlihat sangat harmonis. Saling peluk, saling minta maaf, bahkan sampai menitikkan air mata. Tapi dua minggu kemudian, mereka kembali tidak saling bicara. Chat tidak dibalas. Pertemuan keluarga berikutnya terasa canggung.
So what exactly happened during Lebaran?
Nothing really changed. Yang berubah hanya atmosfernya.
Lebaran punya kekuatan sosial yang besar. Ada tekanan budaya yang sangat kuat untuk terlihat rukun. Tidak enak kalau Lebaran masih kelihatan bermusuhan. Jadi semua orang menekan konflik itu sebentar.
Not resolve it. Just suppress it. Dan ketika konflik hanya ditekan, bukan diselesaikan, ya tentu saja dia akan muncul lagi.
Ini sebenarnya problem yang lebih besar dari sekadar tradisi sungkeman. Ini soal bagaimana budaya kita memahami kata “maaf”. Dalam banyak kasus, “maaf” di Lebaran tidak dipakai sebagai mekanisme rekonsiliasi yang serius. Ia dipakai sebagai gesture sosial.
Gesture ini penting secara budaya. Tapi seringkali kosong secara substansi. Karena meminta maaf yang sebenarnya itu tidak pernah sesederhana satu kalimat.
Real apology usually involves uncomfortable things.
Mengakui kesalahan secara spesifik. Mengakui dampaknya. Mengubah perilaku. Dan kadang juga menerima bahwa orang yang kita sakiti belum tentu langsung memaafkan.
It’s messy. It takes time. Sementara budaya Lebaran kita justru mendorong proses yang super cepat. Hari itu semua orang harus saling memaafkan. Hari itu semua orang harus selesai. Hari itu semua orang harus kembali rukun.
Padahal konflik manusia jarang bekerja seperti itu.
Kadang masalahnya sudah menumpuk bertahun-tahun. Kadang ada luka yang belum pernah benar-benar dibicarakan. Kadang ada ketidakadilan yang belum pernah diakui. Tapi begitu Lebaran datang, semuanya dipaksa masuk ke satu kalimat: “Mohon maaf lahir dan batin.”
It sounds nice. But it doesn't fix anything.
Ada juga ironi lain.
Banyak orang mengaitkan tradisi saling memaafkan ini dengan tujuan Ramadan: supaya manusia menjadi bertakwa. Tapi kalau kita lihat praktiknya, proses menuju takwa itu sering berhenti di level simbolik.
Takwa dalam teks keagamaan bukan hanya soal ritual. Ia juga soal perubahan karakter. Soal menahan ego. Soal membersihkan hati dari hasad dan dendam.
In other words, internal transformation.
Kalau setelah satu bulan Ramadan seseorang masih menyimpan ego yang sama, masih memelihara konflik yang sama, masih menghindari percakapan yang seharusnya dilakukan… then the ritual clearly didn't go that deep.
Lebaran hanya menjadi closure simbolik.
Padahal yang dibutuhkan sebenarnya adalah closure yang nyata.
Dan mungkin di sinilah kita perlu sedikit jujur pada diri sendiri.
Tradisi meminta maaf saat Lebaran sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Bahkan ia punya potensi yang sangat besar sebagai momentum rekonsiliasi.
Masalahnya adalah bagaimana tradisi itu dipraktikkan. Ketika ia berubah menjadi sekadar formalitas sosial, maknanya otomatis ikut menipis. Orang meminta maaf bukan karena mereka benar-benar ingin memperbaiki hubungan, tetapi karena it’s the culturally expected thing to do.
Semacam checkbox tahunan.
Sudah sungkeman? Check. Sudah bilang mohon maaf lahir batin? Check. Sudah kirim broadcast Lebaran? Check. And then everyone moves on.
Tidak ada percakapan serius. Tidak ada refleksi. Tidak ada upaya memperbaiki hal-hal yang sebenarnya rusak. Yang tersisa hanya suasana Lebaran yang hangat… selama beberapa hari.
Setelah itu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Bersama semua konflik yang tadi sempat disembunyikan di bawah karpet.
Mungkin inilah ironi kecil dari Lebaran kita.
Hari yang disebut sebagai hari kemenangan justru sering diisi dengan kemenangan simbolik atas ego, bukan kemenangan yang benar-benar mengubah cara kita memperlakukan orang lain.
Kita menang dalam ritual. Tapi belum tentu menang dalam karakter.
Dan selama “maaf” hanya menjadi bagian dari template Lebaran, bukan proses rekonsiliasi yang jujur, kemungkinan besar siklus ini akan terus berulang setiap tahun.
Lebaran datang.
Orang saling memaafkan.
Konflik berhenti sebentar.
Lalu semuanya kembali lagi.
Same script. Different year.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment