Skip to main content

Lebaran, Opor, dan Negara yang Tidak Pernah Sepakat Soal Besok

 

Setiap tahun kita akan disuguhi drama ini. Padahal ini bukan kejadian langka, ini annual episode yang literally bisa dijadwalkan. Bedanya cuma tanggalnya doang, konfliknya sama: “jadi besok lebaran nggak?”

Di satu sisi ada Muhammadiyah, very confident, very calculated, vibes-nya kayak orang yang sudah booking tiket dari 3 bulan lalu. Hisab, angka, data, selesai. Mereka sudah sampai tahap, “see you di 1 Syawal hari Jumat ya guys,” sementara yang lain masih, “hmm kita lihat nanti.”

Di sisi lain ada Pemerintah dan NU, yang approach-nya lebih… situasional. Rukyat, observasi, nunggu hilal muncul kayak nunggu chat dibalas. Bisa cepat, bisa lama, bisa juga nggak muncul sama sekali. Jadi ya, keputusan diambil last minute lewat sidang isbat yang somehow selalu terasa kayak season finale.

Dan di antara dua kubu yang very intellectually sound ini, ada kelompok yang paling tidak siap secara emosional: ibu-ibu yang pegang santan.

Ini serius. Karena semua teori falak runtuh di depan satu pertanyaan sederhana: opor dimasak kapan?

Coba bayangin, ini bukan sekadar masak ayam. Ini project. Ada timeline, ada resource management, ada risiko spoilage. Santan itu bukan teman yang forgiving. Sekali kamu salah timing, dia berubah. Hari pertama creamy, hari kedua mulai questionable, hari ketiga sudah kayak, “ya sudah sih, makan saja kalau berani.”

Jadi ketika Muhammadiyah sudah fix Jumat, tapi Pemerintah masih pending, ibu-ibu itu ada di posisi yang sangat tidak strategis. Masak sekarang, takut kelamaan. Nunggu, takut mepet dan chaos di dapur.

Ini bukan lagi soal ibadah, ini supply chain issue.

Sementara itu, bapak-bapak di masjid juga nggak kalah bingung. Mereka datang dengan satu niat, tarawih, tapi universe belum kasih kepastian. Jadi ada momen awkward di parkiran masjid, orang-orang saling lihat, kayak, “ini kita lanjut atau pulang aja?”

Kamu bisa lihat ekspresi mereka, setengah siap ibadah, setengah siap menerima kenyataan bahwa malam ini cuma isya. Kalau ternyata besok lebaran, tarawih auto batal. Rasanya kayak sudah niat diet, sudah nolak gorengan, terus tiba-tiba dikasih tahu, “eh santai saja, cheat day kok.” Bingung mau senang atau kesel.

Sebaliknya, kalau kamu memutuskan nggak tarawih karena yakin besok lebaran, eh ternyata masih puasa, itu lebih parah. Itu bukan sekadar salah prediksi, itu kayak kamu sudah closing laptop jam 5 sore, terus bos bilang, “meeting jam 7 ya.”

Trust issues langsung muncul.

Yang menarik, dua metode ini sebenarnya sama-sama valid. Ini bukan cerita siapa benar siapa salah. Ini lebih ke preferensi: kamu tim kepastian atau tim pengalaman langsung. Muhammadiyah bilang, “kita bisa tahu dari sekarang,” Pemerintah dan NU bilang, “kita lihat nanti saja.”

Masalahnya, kehidupan sehari-hari itu nggak selalu compatible sama konsep “kita lihat nanti.” Terutama kalau sudah masuk dapur. Karena dapur itu nggak kenal konsep imkanur rukyat. Dapur kenalnya api, waktu, dan santan yang bisa pecah kapan saja. Dan Indonesia, sebagai negara yang sangat kreatif, berhasil menggabungkan dua sistem ini tanpa benar-benar memilih salah satu. Hasilnya? Kita hidup di dua timeline sekaligus.

Satu timeline sudah takbiran, satu lagi masih tarawih. Satu rumah bisa beda versi lebaran. Bahkan satu grup WhatsApp keluarga bisa pecah jadi dua kubu, yang satu kirim ucapan Idulfitri, yang satu masih kirim menu sahur.

Ini bukan disorganisasi, ini multiverse. Dan somehow, kita survive. Selalu survive.

Opor tetap habis, entah dimakan di hari pertama atau dijadikan leftovers strategis. Bapak-bapak tetap ke masjid, entah buat tarawih atau cuma isya plus bingung. Anak-anak tetap dapat THR, yang sebenarnya satu-satunya kepastian dalam seluruh sistem ini.

Jadi mungkin masalahnya bukan di metode. Bukan juga di perbedaan. Mungkin kita saja yang terlalu berharap hidup ini bisa sinkron. Padahal kenyataannya, Indonesia itu bukan soal sinkronisasi. Ini soal kompromi terus-menerus dengan chaos yang sudah jadi tradisi.

Tapi ya jujur saja, di balik semua penerimaan itu, ada satu doa yang sangat praktis dan sangat membumi:

Tolong, sekali saja, lebarannya bareng. Bukan demi persatuan umat yang berat itu, bukan demi headline berita yang damai. Tapi demi satu hal yang jauh lebih penting.

Opor yang nggak perlu dipanasin tiga kali.

Karena di titik itu, kita semua tahu, yang rusak bukan cuma rasanya, tapi juga harapan.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...