Beberapa tahun terakhir pemerintah punya satu storyline besar yang terus diputar: hilirisasi nikel.
Narasinya keren. Indonesia berhenti jadi penjual bahan mentah, mulai naik kelas, bangun smelter, masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Dari tambang di Sulawesi sampai mobil listrik yang nanti dipakai orang di Los Angeles atau Berlin.
Kalau didengar sekilas, ini terdengar seperti plot film ekonomi yang perfect.
Dunia lagi sibuk ngomongin transisi energi. Negara-negara berlomba meninggalkan bahan bakar fosil. Mobil listrik diposisikan sebagai masa depan transportasi. Dan Indonesia, yang kebetulan duduk di atas cadangan nikel besar, tiba-tiba punya tiket masuk ke permainan global itu.
Sounds like a jackpot.
Tapi seperti banyak cerita industrial policy, bagian yang terlihat di panggung biasanya bukan seluruh cerita. Karena di balik semua talk tentang baterai, EV, dan green economy, ada satu bahan kimia yang hampir tidak pernah muncul di diskusi publik: sulfur.
Yes. Sulfur. Bukan sesuatu yang seksi. Tapi tanpa dia, banyak smelter baterai itu literally tidak bisa kerja.
Baterai EV Itu Tidak Tiba-tiba Jadi
Sering kali narasi kendaraan listrik terdengar sangat clean.
Mobil listrik → baterai → masa depan rendah karbon.
End of story.
Padahal di tengah-tengahnya ada proses industri yang jauh lebih messy. Bijih nikel yang ditambang di Indonesia tidak langsung berubah jadi bahan baterai. Ia harus diproses dulu menggunakan teknologi yang disebut High Pressure Acid Leach atau HPAL. Nama teknologinya saja sudah terdengar seperti sesuatu yang tidak akan pernah masuk ke iklan mobil listrik.
Intinya sederhana: bijih nikel dimasukkan ke dalam reaktor tekanan tinggi, lalu diproses menggunakan asam sulfat supaya bisa berubah menjadi nikel sulfat. Dari nikel sulfat itulah kemudian dibuat katoda baterai lithium-ion.
Jadi kalau disederhanakan, jalurnya kira-kira begini:
Tambang nikel → HPAL → nikel sulfat → katoda → baterai → mobil listrik.
Dan di tengah proses itu ada satu bahan yang absolutely critical: asam sulfat.
Yang dibuat dari… sulfur.
No sulfur, no acid.
No acid, no HPAL.
No HPAL, no battery supply chain.
Simple as that.
Plot Twist: Sulfurnya Banyak Datang dari Dunia Minyak
Sekarang bagian yang agak awkward.
Sebagian besar sulfur industri global bukan ditambang seperti mineral biasa. Ia justru berasal dari industri minyak dan gas, sebagai produk sampingan dari proses pemurnian bahan bakar fosil.
Yes, the irony is real.
Baterai kendaraan listrik yang sering dipromosikan sebagai simbol masa depan bebas karbon ternyata masih sangat bergantung pada produk turunan industri fosil.
Transisi energi ternyata tidak benar-benar “bersih”. Dia cuma shift dependencies. Dan untuk Indonesia, dependensinya bahkan lebih global lagi. Karena sebagian sulfur yang kita pakai masih impor.
Jalurnya Lewat Salah Satu Area Paling Tegang di Planet Ini
Banyak sulfur yang masuk ke Indonesia berasal dari kawasan Teluk seperti Saudi Arabia, United Arab Emirates, dan Qatar. Secara industri ini masuk akal. Kawasan itu adalah salah satu pusat petrokimia terbesar di dunia.
Tapi ada satu detail logistik kecil yang suddenly jadi penting. Sebagian besar kapal dari kawasan tersebut harus melewati Strait of Hormuz sebelum masuk ke jalur perdagangan global. Kalau kamu sedikit saja mengikuti geopolitik, kamu pasti tahu reputasi tempat ini.
Selat Hormuz itu bukan cuma jalur laut biasa. Ini salah satu energy chokepoint paling sensitif di dunia. Setiap kali Timur Tengah mulai panas, pasar global langsung tegang.
Biasanya Orang Panik Soal Minyak
Kalau ketegangan antara Iran dan Israel meningkat, dengan bayangan keterlibatan United States, headline global hampir selalu fokus pada satu hal: minyak.
Harga minyak naik.
Pasar energi gonjang-ganjing.
Analis CNBC mulai muncul dengan grafik.
It’s the usual script.
Tapi minyak bukan satu-satunya komoditas yang lewat jalur itu. Sulfur juga lewat sana. Dan buat Indonesia yang sedang all-in di proyek hilirisasi nikel, itu bukan detail kecil.
Karena kalau rantai pasok sulfur terganggu, yang kena bukan cuma industri kimia. Smelter HPAL juga bisa ikut tersendat. Dan kalau smelter melambat, rantai produksi bahan baku baterai EV ikut goyang.
So yes, transisi energi ternyata juga bisa terganggu oleh geopolitik Timur Tengah. Not exactly the brochure version of green economy.
Ini Bukan Cuma Soal Nikel
Masalahnya lagi, sulfur tidak hanya dipakai untuk nikel. Dia juga dipakai untuk produksi pupuk, berbagai produk kimia, bahkan beberapa bahan di industri kosmetik.
Artinya kalau pasokan sulfur global terganggu, dampaknya bisa menyebar ke sektor lain juga. Pertanian dan industri kimia bisa kena. Semua karena satu bahan yang jarang sekali masuk headline berita.
Realita yang Jarang Masuk Presentasi
Transisi energi global sering dijual seperti cerita teknologi.
Solar panel.
Mobil listrik.
Baterai.
Smart grid.
Seolah-olah masa depan energi cuma soal inovasi dan investasi. Padahal sebenarnya ini juga cerita tentang geologi dan geopolitik.
Indonesia mungkin punya cadangan nikel besar. Tapi untuk mengubah nikel itu menjadi baterai kendaraan listrik, kita tetap membutuhkan bahan kimia yang sebagian berasal dari industri minyak dan harus melewati salah satu kawasan paling tegang di dunia.
Jadi ironinya agak lucu. Mobil listrik mungkin tidak lagi minum bensin. Tapi jalan menuju baterainya masih lewat peta lama dunia energi, minyak, petrokimia, dan Timur Tengah.
Welcome to the messy reality of the energy transition. ⚡
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment