Skip to main content

Reporter 800 Ribu, Tabloid Ruko, dan Kesalahan Klasik di Pameran Komik

Karier jurnalistik saya mulai tahun 1999 di Mandarin Pos. Kantornya di ruko Kelapa Gading, Jakarta. Bukan newsroom glamor. Lebih mirip kantor usaha keluarga yang kebetulan menerbitkan tabloid.

Gaji saya 800 ribu rupiah.

Untuk fresh graduate tahun itu, honestly, masih acceptable. Tidak besar, tapi cukup untuk hidup dan belajar bagaimana dunia kerja sebenarnya berjalan.

Pemilik tabloid ini bukan orang media. Dia pengusaha pakaian dalam wanita. Tapi sumber kekayaannya justru dari pasar saham.

Ceritanya sederhana. Setelah Krisis Moneter Asia 1997–1998, banyak orang panik. Harga saham jatuh. Banyak investor rugi dan buru-buru menjual.

Dia melakukan hal sebaliknya.

Dia membeli saham-saham yang harganya sedang hancur. Murah karena semua orang ingin keluar dari pasar. Ketika ekonomi mulai pulih dan harga naik lagi, saham itu dijual.

Profitnya cukup besar sampai akhirnya dia punya tabloid sendiri.

Di situlah saya bekerja.

Di Mandarin Pos, pekerjaan reporter tidak berhenti di liputan dan menulis berita.

Setelah tulisan selesai dan lolos editor, saya harus menerjemahkannya ke bahasa Mandarin. Tabloid ini bilingual, jadi satu berita harus hadir dalam dua bahasa.

Lalu ada pekerjaan tambahan lagi: saya juga menjadi setter untuk huruf Cina di layout halaman.

Jadi workflow saya waktu itu kira-kira seperti ini: liputan, menulis, menerjemahkan, lalu mengatur karakter Mandarin ke dalam layout.

Reporter, translator, sekaligus layout setter.

Untuk gaji 800 ribu.

Sounds inefficient kalau dilihat dari standar newsroom sekarang. Tapi di media kecil, itu normal. Semua orang multitasking.

Salah satu liputan yang paling saya ingat terjadi di sebuah pameran komik Indonesia.

Masalahnya: saya tidak terlalu memahami dunia komik Indonesia.

Untungnya ketua panitia acara itu adalah teman sekampus saya. Saya wawancara dia untuk mendapatkan gambaran tentang pameran tersebut—siapa pesertanya, tujuan acaranya, dan situasi komik lokal waktu itu.

Setelah wawancara selesai, saya keliling untuk mengambil foto ilustrasi.

Di tengah saya memotret, seseorang mendekati saya. Dia mulai berbicara panjang tentang komik Indonesia. Tentang sejarahnya, tokoh-tokohnya, dan perkembangan industrinya.

Problemnya sederhana: saya tidak meminta penjelasan itu.

Saya sedang fokus mencari foto. Jadi saya mendengarkan sambil setengah perhatian. Half listening mode.

Dia mulai terlihat kesal.

Akhirnya saya bertanya, “Maaf, Anda siapa ya?”

Dia menjawab singkat.

Dia adalah Hans Jaladara.

Kalau kamu mengenal sejarah komik Indonesia, nama itu bukan nama kecil.

Setelah menyebutkan namanya, dia langsung pergi.

Saya berdiri di situ dengan perasaan agak tidak enak.

Tapi kalau dipikir lagi, situasinya juga cukup masuk akal. Pada masa itu buku komik hampir tidak pernah memuat foto komikusnya. Nama ada, wajah tidak.

Pembaca mengenal karya mereka, tapi tidak mengenal orangnya.

Jadi buat reporter yang bukan penggemar komik hardcore, mengenali komikus di dunia nyata tidak selalu mudah.

Dari situ saya belajar satu hal sederhana tentang kerja jurnalistik.

Kadang narasumber penting berdiri tepat di depan kita.

Masalahnya bukan mereka tidak muncul.

Masalahnya kita tidak tahu siapa mereka.

#My_Journey

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Strategi Teh Pucuk Harum Menggeser Teh Botol Sosro: Dari “Pucuk-pucuk” ke Puncak Pasar

Di dunia minuman teh dalam kemasan, satu nama pernah begitu sakral: Teh Botol Sosro . Tagline legendarisnya— “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” —menjadi mantra yang menggema di ruang makan, restoran, hingga warung-warung. Produk ini tak cuma minuman, tapi bagian dari budaya populer. Tapi cerita berubah. Menurut Top Brand Index fase 1 tahun 2022 , posisi puncak tak lagi dipegang Teh Botol Sosro, melainkan Teh Pucuk Harum , pemain yang terhitung baru tapi agresif dan taktis. Bagaimana bisa pemain yang baru diluncurkan pada tahun 2011 ini berhasil menggeser “raja” yang sudah bertakhta sejak 1970-an? Jawabannya adalah kombinasi cerdas antara diferensiasi, konsistensi branding, agresivitas pemasaran, serta kemampuan membaca perubahan perilaku pasar. Mari kita uraikan satu per satu. 1. Diferensiasi: Pucuk Daun, Pucuk Ingatan Teh Pucuk Harum tak datang dengan tangan kosong. Mereka datang dengan satu pesan sederhana tapi kuat: “Teh terbaik ada di pucuknya.” Kalimat ini bukan b...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...