“Darurat LGB*, darurat HIV.”
Kalimatnya tegas. Kenceng. Viral banget.
Masalahnya… realitanya enggak sesederhana itu.
Kita tuh gampang banget marah sama angka. Lihat grafik naik dikit, langsung panik, langsung cari kambing hitam. Padahal angka itu konteksnya panjang: testing makin luas, awareness naik, pelaporan lebih rapi. Namun, ya sudahlah. Lebih satisfying kalau ada “musuh” yang jelas.
Dan di situlah biasanya kita mulai oversimplify.
Isu kesehatan publik kayak HIV itu bukan soal label identitas. Itu soal perilaku berisiko, edukasi yang minim, dan akses layanan kesehatan yang seringkali… ya, let’s be honest, masih ribet dan penuh stigma.
Kalau orang takut diperiksa karena dihakimi duluan, ya mereka bakal sembunyi. Dan kalau mereka sembunyi, penyebaran makin susah dikontrol. Simple logic, but somehow kita sering skip bagian ini.
Now, soal yang lebih dekat: rumah.
Narasi tentang “fatherless” itu actually ada poinnya. Bukan soal ayahnya nggak ada secara fisik, tapi enggak hadir secara emosional. Pulang kerja, capek, buka HP, scroll, tidur. Repeat.
Technically hadir. Praktically… ya enggak juga.
Anak laki-laki butuh figur. Bukan figur yang sempurna, tapi yang bisa dilihat, ditiru, diajak ngobrol tanpa di-judge. Kalau itu enggak ada di rumah, ya mereka cari di luar. Internet, komunitas, siapa aja yang available.
Anak perempuan juga sama. Mereka butuh rasa aman, validasi, dan perhatian yang konsisten. Kalau itu bolong, ya mereka akan cari. Dan dunia luar enggak selalu kasih versi yang sehat.
Ini bukan tuduhan. Ini realita yang sering kita ignore.
Lucunya, kita lebih sibuk debat di timeline daripada nanya hal basic:
“Kapan terakhir kali saya beneran hadir buat anak saya?”
Bukan cuma bayar sekolah. Bukan cuma tahu nilai rapor. Namun, tahu mereka lagi takut apa. Lagi bingung apa. Lagi nyari jawaban tentang hidup ke mana.
Kalau bagian ini kosong, ya jangan kaget kalau “dunia luar” masuk dan mengisinya.
And ironically, kita sering berharap solusi datang dari atas, yaitu undang-undang, aturan, dan larangan. Padahal pertahanan pertama itu rumah. Selalu.
Tradisi kita sebenarnya udah kasih blueprint lama banget. Dalam Al-Qur'an, ada gaya komunikasi yang intimate banget antara orang tua dan anak. “Yaa bunayya”, wahai anakku, diulang, diajak ngobrol, bukan cuma disuruh. Bahkan figur seperti Nabi Ibrahim ngajak anaknya diskusi, bukan sekadar ngasih perintah satu arah.
Dan Nabi Muhammad juga nunjukin hal yang sama, presence, affection, sabar. Bukan cuma otoritas.
So maybe, instead of teriak “darurat” ke luar, kita cek dulu ke dalam.
Bukan berarti isu kesehatan atau sosial itu enggak penting. Penting banget. Namun, kalau fondasinya rapuh, ya setiap badai kecil bakal terasa kayak kiamat.
Dan jujur aja, kita ini sering merasa sudah memberi segalanya ke anak. Padahal yang mereka butuh, seringkali cuma satu: kita. Hadir. Beneran hadir.
Sisanya? Itu bonus.
- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment