Skip to main content

Rupiah Lagi Mental Breakdown, Negara Masih Sok “We’re Fine”

 

Masuk 2026 harusnya hidup menjadi glow up. New year, new me, new money. Tapi rupiah literally bangun pagi terus bilang, “Bestie, I’m tired.”

Tanggal 20 Januari 2026, kurs nyentuh Rp16.988 per dolar AS. Rekor terlemah sepanjang sejarah. Not “salah satu yang terlemah”. Yang paling lemah. Ever.

Dan jangan mulai dengan, “Ini karena global”. Because plot twist-nya, dolar AS lagi melemah secara global. So, kalau rupiah tetap jatuh? Yes bestie, this is a local issue.

Sepanjang 2025, rupiah udah turun 3,5% dan jadi runner-up paling ambyar di Asia. Di situ harusnya negara udah pasang alarm. Tapi vibes-nya lebih ke, “Tenang, nanti juga stabil sendiri.”

Problem-nya, negara belanja kayak lagi healing phase: impulsif, emosional, dan nggak ngecek rekening. Defisit anggaran 2025 tembus Rp697,1 triliun. Hampir 3% PDB. Terlebar dalam 20 tahun kalau pandemi kita skip.

Pemasukan seret. Pajak nggak nyampe target. Tapi belanja? Gas terus. Program jumbo tetap masih jalan, salah satunya MBG. Niatnya mulia, tapi budgeting-nya bikin keringetan.

Secara vibes, negara tuh kayak orang gajian UMR tapi lifestyle-nya Citayam-SCBD setiap hari.

Terus masuk arc Bank Indonesia drama series.

BI harusnya jadi karakter paling waras di cerita ini. Yang nggak ikut emosi, nggak ikut politik, nggak ikut drama. Tapi sejak 2025, dia mulai diajak main burden sharing, bantu danain program pemerintah.

Terus DPR mulai bahas revisi UU BI biar BI bukan cuma jaga stabilitas, tapi juga “support growth”. Yang artinya:

“BI, lo jangan kebanyakan idealis, ikut aja maunya kita.”

Investor langsung mikir, “Oh jadi BI sekarang bisa diatur ya?”

Dan puncaknya, episode nepotism drop:

Presiden Prabowo nominasi keponakannya sendiri, Thomas Djiwandono, jadi calon Deputi Gubernur BI.

Legal? Mungkin.
Smart secara trust market?
Absolutely not.

Ini tuh kayak bilang ke pasar:

“Tenang, BI independen kok… tapi orangnya dari keluarga saya.”

Which is not the reassurance you think it is.

Di situ trust market langsung kayak WiFi kos-kosan: connect–disconnect–lost signal. Investor nggak debat, nggak diskusi, nggak nunggu talkshow ekonomi. Mereka langsung exit. Jual aset rupiah. Cabut pelan-pelan tapi konsisten.

Permintaan rupiah turun.
Kurs jatuh.
Rupiah collapse in silence.

Terus pemerintah bingung: “Kok bisa?”

Cuk… Kalau fiskal boros, moneter bisa dipegang, kebijakan makin politis, dan teknokrasi makin kosmetik, pasar nggak akan marah, tapi pasar akan langsung cabut.

Dan pasar yang pergi itu lebih bahaya daripada pasar yang protes.

So no, ini bukan soal dunia jahat. Ini bukan soal ekonomi global. Ini bukan soal spekulan.

Ini soal negara yang pengen kelihatan kuat, tapi nggak mau kelihatan disiplin.

Rupiah cuma korban. Yang rusak itu trust. And once trust is gone, no press conference can fix it.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...