Skip to main content

Ketika Prajurit Mengadili Prajurit: Kenapa Rasanya Selalu “Beda Kelas”?

 

Awal 2025, seorang bos rental mobil di Jawa Tengah tewas ditembak. Pelakunya anggota TNI Angkatan Laut. Motifnya karena konflik personal yang berujung fatal. Very civilian crime.

Kasusnya sempat jadi sorotan nasional. Bukan cuma karena brutal, tapi karena langsung masuk ke jalur peradilan militer.

Pengadilan militer menjatuhkan vonis penjara seumur hidup ke pelaku utama. Sekilas, ini terlihat seperti strong message, institusi tidak main-main. Namun, kemudian di tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia mengubah vonis itu menjadi 15 tahun penjara.

Di situlah, trust publik langsung drop.

Bukan semata karena “15 tahun terasa lebih ringan”. Namun, karena pola yang terasa berulang: kasus yang melibatkan aparat, diproses di sistem internal, lalu hasil akhirnya selalu terasa… negotiable.

Kalau kita tarik sedikit ke belakang, ini bukan anomali.

Kasus pembunuhan wartawan Rico Sempurna Pasaribu dan keluarganya di Sumatera Utara juga sempat memicu reaksi serupa. Dugaan keterlibatan aparat, proses hukum yang enggak sepenuhnya transparan, dan publik yang lagi-lagi harus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

Pattern-nya kebaca.

Masalahnya bukan di satu-dua oknum. Masalahnya ada di sistem yang meng-handle mereka. Dan sistem bernama: Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.

UU ini basically memastikan satu hal: prajurit TNI diadili di peradilan militer. Bahkan untuk tindak pidana umum, seperti pembunuhan, penganiayaan atau korupsi, yang kalau dilakukan warga sipil, langsung masuk ke peradilan umum.

On paper, ini kelihatan seperti pengaturan teknis. But in reality, ini menciptakan dualisme hukum.

Dua orang melakukan kejahatan yang sama. Satu diadili di pengadilan umum, satu di pengadilan militer. Prosesnya beda, kultur institusinya beda, bahkan cara publik mengakses informasinya juga beda.

Dan di situ, konsep “equality before the law” mulai retak.

Masuk lebih dalam, ada satu layer lagi yang bikin problem ini makin kompleks: chain of command.

Di peradilan militer, proses hukum enggak sepenuhnya independen dari struktur komando. Penyidik, oditur (jaksa militer), sampai hakim, semuanya bagian dari ekosistem yang sama. Secara struktural, mereka masih berada dalam orbit institusi militer.

Ini bukan tuduhan individu. Ini soal desain.

Dalam teori komunikasi, ini bisa dibaca sebagai masalah institutional framing. Ketika sebuah institusi mengontrol narasi sekaligus proses adjudikasi, maka framing atas “apa yang terjadi” dan “apa yang dianggap adil” berpotensi bias sejak awal. Bukan karena ada niat manipulasi, tapi karena perspektifnya yang enggak pernah benar-benar keluar dari sistem itu sendiri.

Dan publik bisa ngerasain itu.

Makanya, setiap ada kasus seperti ini, reaksi awalnya bukan lagi “kita lihat dulu prosesnya”. Namun, langsung skeptis. Kayak, ya… we’ve seen this before.

Koalisi masyarakat sipil sudah lama mengkritik ini. Argumennya konsisten: selama prajurit masih diadili di peradilan militer untuk kejahatan terhadap warga sipil, maka ruang impunitas akan selalu terbuka.

Bukan berarti setiap putusan pasti melindungi pelaku. Namun, sistemnya enggak cukup memberi jarak untuk memastikan akuntabilitas yang benar-benar independen.

Dan ini yang sering di-miss: impunitas itu bukan selalu hasil dari konspirasi. Kadang, dia cuma hasil dari sistem yang terlalu tertutup dan terlalu self-regulated.

Diskusi revisi UU ini sudah lama ada. Bahkan sejak era reformasi. Namun, selalu stuck di titik yang sama: ada pengakuan bahwa sistemnya bermasalah, tapi enggak pernah ada political will yang cukup kuat untuk benar-benar mengubahnya.

Baru-baru ini, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di DPR, isu ini naik lagi. Koalisi sipil kembali dorong revisi UU Peradilan Militer. Intinya simpel: kalau korbannya warga sipil dan tindakannya pidana umum, maka prajurit harus diadili di peradilan umum.

Clear. No grey area.

Kalau enggak, kita akan terus ada di loop yang sama:
kasus muncul → publik marah → diproses di peradilan militer → vonis keluar → diperdebatkan → lalu hilang tanpa perubahan sistemik.

Dan setiap siklus itu, trust publik terkikis sedikit demi sedikit.

Argumen yang sering muncul untuk mempertahankan sistem ini biasanya soal disiplin dan kekhususan militer. Fair. Militer memang butuh sistem internal untuk menjaga struktur dan komando.

Namun, pertanyaannya: apakah pembunuhan warga sipil itu masih bisa dianggap “urusan internal”?

Kalau jawabannya jujur, harusnya enggak.

Banyak negara sudah shifting ke model yang lebih hybrid: pelanggaran disiplin tetap di peradilan militer, tapi kejahatan terhadap warga sipil masuk ke peradilan umum. Ini bukan soal melemahkan militer, tapi justru memperkuat legitimasi mereka di mata publik.

Indonesia masih di posisi tanggung.

Dan selama posisi itu enggak berubah, setiap kasus seperti pembunuhan bos rental mobil ini akan selalu terasa setengah selesai. Secara hukum, mungkin sudah inkracht. Namun, secara rasa keadilan, masih menggantung.

Karena pada akhirnya, ini bukan cuma soal siapa yang dihukum dan berapa lama.

Ini soal satu hal yang lebih fundamental: apakah hukum kita benar-benar berlaku sama untuk semua orang atau masih tergantung pada seragam yang dipakai.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...