Skip to main content

Tarif Trump Dibatalkan, Deal Indonesia–AS Jadi Plot Twist? 🤨📦

 

Jadi gini.

Di saat Indonesia lagi ngerasa, “Oke, finally… this is it. Deal dagang sama Amerika Serikat udah di tangan. Ekspor bisa gaspol,” tiba-tiba dari Washington DC muncul kabar yang vibes-nya kurang lebih kayak:

“Eh, btw… kebijakan tarif global-nya Donald Trump dibatalin sama Mahkamah Agung Amerika Serikat ya.”

Loh?

Bukannya itu tarif yang kemarin jadi salah satu basis negosiasi dagang antara Indonesia dan AS? Bukannya itu yang bikin produk Indonesia, dari sawit sampai kopi, bisa masuk ke pasar AS dengan napas agak lega, karena tarifnya katanya mau diturunin dari 32% ke sekitar 19%?

Ya… selamat datang di geopolitik. Tempat di mana MoU bisa berubah jadi FYI dalam semalam.


Tarif Itu Apaan Sih? Kenapa Semua Tiba-Tiba Panik?

Simplenya gini.

Tarif itu pajak yang dikenakan pemerintah AS ke barang impor. Jadi kalau Indonesia ekspor produk ke sana, entah itu minyak sawit, kopi Gayo, kakao Sulawesi, sampai pala dan cengkeh, tarif ini bakal nentuin:

➡️ Produk kita masuk sebagai “best deal”
atau
➡️ Produk kita masuk sebagai “meh… next please”

Kalau tarif tinggi → harga barang Indonesia di pasar AS ikut naik → kalah saing sama produk dari negara lain.

Makanya waktu kemarin Indonesia deal sama AS buat:

  • Nurunin tarif jadi sekitar 19%

  • Bahkan 0% buat lebih dari 1.800 produk (including sawit, kopi, kakao, rempah)

Itu tuh harusnya jadi momen:

“ASEAN who? Kita mau jadi anak kesayangan pasar Amerika nih.”


Tapi Terus… Plot Twist Terjadi

Baru juga tinta kesepakatan dagang kering, eh… Mahkamah Agung Amerika Serikat bilang:

“Kebijakan tarif global Trump ini melampaui kewenangan presiden.”

Alias:
Secara hukum, cara dia naik-turunin tarif kemarin itu questionable.

Dan boom, kebijakan tarif global yang sebelumnya dipakai sebagai payung hukum negosiasi… dibatalkan.

Tapi ya namanya juga Donald Trump, responnya bukan:

“Baik, mari kita refleksi diri.”

Melainkan:

“Oke, kita pakai undang-undang lain.”

Katanya sekarang mau pakai dasar hukum dari Trade Act of 1974, dengan rencana tarif baru di kisaran 10–15%. Yang artinya… Rules of the game lagi-lagi berubah.


Indonesia: “Lah, Jadi Deal Kemarin Gimana Dong?”

Masalahnya, Indonesia tuh literally baru aja tanda tangan kesepakatan dagang besar sama AS.

Deal yang isinya antara lain:

  • Penurunan tarif untuk produk Indonesia

  • Nol persen tarif buat ribuan komoditas

  • Indonesia buka 99% tarif impor buat produk AS

  • Plus komitmen investasi dan pembelian barang senilai puluhan miliar dolar

Sounds fair?

Atau sounds like kita udah keburu buka pintu, sementara mereka masih debat di dalam rumah soal aturan mainnya?

Presiden Prabowo Subianto sendiri bilang pemerintah siap menghadapi berbagai kemungkinan dan bakal terus monitor situasi.

Which is diplomat-speak for:

“Kita juga lagi nunggu ini sebenarnya maunya ke mana…”


Ini Peluang atau Justru Red Flag?

Di satu sisi, pembatalan kebijakan tarif lama bisa jadi:

💡 Peluang renegosiasi.

Karena kalau dasar hukum tarif yang lama aja dianggap nggak valid, bisa aja Indonesia punya ruang buat bilang:

“Yaudah, kita revisit aja term deal-nya. Siapa tahu bisa lebih cuan.”

Tapi di sisi lain…

Perubahan tarif yang:

  • Hari ini pakai regulasi A

  • Besok dibatalin

  • Lusa pakai regulasi B

  • Minggu depan mungkin digugat lagi

Itu nightmare buat eksportir.

Karena dunia bisnis itu nggak suka kejutan. Apalagi kejutan yang bentuknya:

“Tarif ekspor kamu minggu depan mungkin beda. Good luck!”

Buat pelaku industri non-komoditas, misalnya produk olahan sawit, kopi kemasan, cokelat artisanal, sampai makanan olahan, ketidakpastian kayak gini bisa bikin:

  • Pricing strategy berantakan

  • Kontrak dagang jadi riskan

  • Bahkan shipment bisa ditunda

Karena nobody wants to ship a container across the Pacific cuma buat nyadar di pelabuhan tujuan:

“FYI, tarifnya sekarang naik lagi ya.”


So… Indonesia Harus Ngapain?

Ini pertanyaan besarnya sekarang:

Apakah Indonesia harus:

A. Stay calm, wait and see
B. Renegotiate sebelum semuanya keburu fixed
C. Diversifikasi pasar ekspor (alias: stop putting too many eggs in the American basket)
D. Semua jawaban benar 😌

Karena kalau kebijakan tarif di AS bisa berubah tergantung:

  • interpretasi hukum

  • dinamika politik domestik

  • atau bahkan hasil pemilu

Maka strategi dagang Indonesia ke depan nggak bisa lagi berbasis:

“AS janji kok.”

Tapi harus berbasis:

“Worst case scenario-nya apa?”


Welcome to global trade.

Tempat di mana kesepakatan internasional kadang rasanya lebih tentative daripada janji mantan. 💔📉

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...