Skip to main content

Ketika Jujur Cari Duit Jadi Dosa di Mata HR


Suatu hari di negeri antah-berantah, seorang HR Manager merasa dirinya seperti dewa, mengontrol nasib setiap pencari kerja dengan pertanyaan magis, "Kenapa Anda ingin bekerja di sini?" Jawaban jujur, "Cari uang," dianggap seperti dosa besar.

Memangnya apa yang diharapkan oleh HR Manager ini? Mungkin mereka ingin mendengar bahwa kandidat ingin menyelamatkan dunia dari kehancuran, membawa kedamaian abadi, atau mungkin menjadi pahlawan super yang mampu mengangkat perusahaan ke langit ketujuh.

Bayangkan jika seorang kandidat berkata, "Saya ingin bekerja di sini untuk memperbaiki ketidakadilan sosial, menghapus kemiskinan, dan menciptakan utopia modern." Pasti HR Manager akan tersenyum lebar seperti baru saja menemukan batu filosof yang hilang.

Apa yang sebenarnya bisa diberikan kepada perusahaan? Nyawa? Jiwa? Atau mungkin sepotong dari hati? Waktu, tenaga, dan pikiran sudah pasti. Tetapi tidak, itu belum cukup bagi HR yang terobsesi dengan pengabdian tanpa batas. Mereka mungkin berharap kita juga bersumpah setia kepada perusahaan seumur hidup, dengan tinta emas di atas kertas surgawi.

Dan ketika HR Manager meminta kita untuk "membantu mengembangkan perusahaan," apakah mereka menawarkan kita saham atau jabatan dewa? Tentu tidak. Kita hanya disuruh bekerja dengan loyalitas tingkat dewa, tetapi dengan gaji manusia biasa.

Ironisnya, ketika generasi Z mulai bicara tentang kesehatan mental dan keseimbangan hidup, HR Manager generasi X menuduh mereka lemah. Padahal, HR ini sendiri mungkin terlalu banyak menonton drama TV dan membaca novel fantasi, hingga lupa bahwa kandidat juga manusia, bukan robot pencari nafkah abadi.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...