Skip to main content

Someday I’ll Be Saturday Night: Lagu Tentang Jatuh, Bangkit, dan Bertahan


Dalam hidup, ada masa-masa di mana semuanya terasa berat. Seakan-akan dunia ini tidak berpihak, dan setiap langkah yang kita ambil malah terasa semakin membawa kita ke jurang yang lebih dalam. Dalam momen seperti itu, sebuah lagu bisa menjadi sahabat yang mengerti tanpa perlu banyak bicara. Salah satu lagu yang penuh makna dan bisa menjadi pelipur lara adalah "Someday I'll Be Saturday Night" dari Bon Jovi. Lagu ini bukan sekadar lagu rock biasa, melainkan sebuah pesan tentang harapan di tengah keputusasaan.

Ketika Hidup Terasa Seperti Hari Senin yang Panjang

Lagu ini dimulai dengan kisah seorang pria bernama Jim yang merasa hidupnya berantakan:

"Hey, my name is Jim, where did I go wrong?
My life's a bargain basement, all the good shit's gone."

Dari awal saja, lagu ini sudah menampilkan realitas pahit. Jim merasa hidupnya seperti toko diskon murah—semua yang bagus sudah diambil orang lain, menyisakan sisa-sisa yang tidak berharga. Ini adalah metafora yang akrab bagi banyak orang yang merasa tertinggal dalam kehidupan. Apakah itu karena kegagalan karier, kehilangan orang yang dicintai, atau sekadar merasa tidak ada harapan, lirik ini berbicara langsung kepada mereka yang pernah merasa hidupnya tidak seperti yang diimpikan.

Tapi di sinilah letak keindahan lagu ini—meskipun awalnya terdengar muram, ia tidak tenggelam dalam kesedihan. Sebaliknya, lagu ini secara perlahan membawa kita ke arah harapan.

Ketika Pikiran Gelap Menghantui, Tapi Harapan Masih Ada

Ada bagian dalam lagu ini yang cukup gelap dan menyentuh sisi terdalam manusia yang sedang putus asa:

"I want to blow myself away, don't know if I can."

Kalimat ini secara gamblang menunjukkan bahwa tokoh dalam lagu ini pernah berada di titik terendah, bahkan sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ada satu frasa yang menarik: "don’t know if I can". Ini menunjukkan bahwa meskipun keputusasaan itu begitu kuat, ada bagian dalam dirinya yang masih ragu, yang masih ingin bertahan, yang masih mencari alasan untuk tetap hidup.

Dan di sinilah letak pesan penting dari lagu ini: harapan tidak selalu berupa cahaya terang yang menyilaukan. Kadang, harapan hanya berupa percikan kecil di tengah kegelapan. Dan percikan itu, sekecil apa pun, bisa menjadi awal untuk bangkit kembali.

Perlahan, Tapi Pasti, Semua Akan Lebih Baik

Bagian paling kuat dari lagu ini adalah lirik yang menjadi inti dari pesan optimisme yang dibawanya:

"I'm feelin' like a Monday, but someday I'll be Saturday night."

Senin sering dianggap sebagai hari yang berat, penuh beban kerja, dan terasa lama. Sebaliknya, Sabtu malam adalah waktu di mana orang bisa bersantai, tertawa, dan menikmati hidup. Metafora ini menggambarkan bahwa meskipun hari ini hidup terasa seperti hari Senin yang panjang dan melelahkan, suatu saat nanti kita akan sampai di Sabtu malam yang penuh kebebasan dan kebahagiaan.

Lagu ini mengajarkan bahwa perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada tombol ajaib yang bisa langsung mengubah keadaan. Tapi selama kita masih mau melangkah, sekecil apa pun langkah itu, kita sedang bergerak menuju hari yang lebih baik.

Tidak Perlu Sempurna, Cukup Bertahan dan Percaya

Banyak orang berpikir bahwa untuk bisa merasa bahagia, mereka harus mencapai sesuatu yang besar: sukses dalam karier, memiliki hubungan yang sempurna, atau menjadi seseorang yang diidolakan banyak orang. Tapi kenyataannya, harapan bisa datang dari hal-hal kecil—dari secangkir kopi di pagi hari, dari senyuman orang asing di jalan, atau dari sebuah lagu yang mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.

"Someday I'll Be Saturday Night" bukan lagu tentang kemenangan besar, melainkan tentang bertahan dan terus melangkah meskipun keadaan belum sempurna. Tentang menerima kenyataan bahwa hidup bisa sulit, tapi tetap memilih untuk percaya bahwa suatu hari nanti, semuanya akan lebih baik.

Untuk Kamu yang Sedang Terpuruk: Kamu Tidak Sendiri

Jika hari ini kamu merasa hidup ini terlalu berat, ingatlah bahwa kamu tidak sendiri. Setiap orang memiliki masa-masa sulit, tapi itu bukan akhir dari segalanya. Seperti yang dikatakan dalam lagu ini, mungkin saat ini kamu merasa seperti Senin yang melelahkan, tapi Sabtu malam itu akan datang. Kamu hanya perlu bertahan, melangkah meskipun pelan, dan percaya bahwa di depan sana, ada kebahagiaan yang menunggu.

Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu selalu kuat. Cukup bernapas, bertahan, dan percaya bahwa someday, you'll be Saturday night.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...