Skip to main content

Menunggangi Kuda Mati: Ketika Indonesia Tetap Berpura-Pura Segalanya Baik-Baik Saja


Dalam dunia manajemen dan pengambilan keputusan, ada satu teori yang seharusnya menjadi alarm peringatan bagi banyak orang: Teori Kuda Mati (Dead Horse Theory). Teori ini secara sederhana berbunyi, "Jika kamu sadar bahwa kamu sedang menunggangi kuda mati, turunlah dan cari kuda lain." Sayangnya, di banyak kasus, orang-orang justru memilih untuk tetap duduk di atas bangkai kuda sambil mencari cara agar terlihat seolah-olah kuda itu masih hidup.

Teori ini sering muncul di dunia bisnis, politik, dan berbagai aspek kehidupan lainnya sebagai representasi dari keputusan yang sudah jelas gagal tetapi tetap dipertahankan dengan penuh keras kepala. Tidak peduli seberapa jelas tanda-tanda kehancuran, banyak orang lebih memilih menghabiskan energi untuk merias bangkai kuda ketimbang mencari solusi baru yang masuk akal.


Asal-Usul Teori Kuda Mati

Konsep ini berasal dari pepatah suku Dakota, penduduk asli Amerika, yang paham bahwa seekor kuda mati tidak akan bisa membawa penunggangnya ke mana pun. Dalam realitas modern, ini berkembang menjadi metafora untuk kebijakan, strategi, atau proyek yang sudah tidak efektif, tapi tetap dipaksakan dengan segala cara.

Alih-alih turun dari kuda mati, banyak pihak justru sibuk dengan langkah-langkah tidak berguna seperti:

  • Mengganti pelana dengan yang lebih mahal, berharap kuda bisa bangkit sendiri.

  • Membentuk tim ahli untuk menganalisis "mengapa kuda ini mati."

  • Membandingkan dengan kuda mati lainnya dan berkata, "Setidaknya kuda kita masih kelihatan bagus."

  • Menggelontorkan lebih banyak dana untuk memberi makan kuda yang sudah jadi bangkai.

Bukan sekadar teori lucu, ini adalah cerminan nyata dari banyak kebijakan di Indonesia yang seharusnya sudah dikubur, tapi masih dipertahankan dengan berbagai alasan.


1. Program Makan Bergizi Gratis: Kuda Mati yang Dipaksa Lari dengan Dana APBN

Makan bergizi untuk semua anak memang terdengar seperti ide brilian. Siapa yang tidak ingin anak-anak Indonesia tumbuh sehat? Masalahnya, kalau program ini membebani APBN hingga pemerintah harus mengorbankan pegawai honorer dan memangkas anggaran sektor lain, ini menjadi tanda tanya besar: Apakah ini solusi atau malah menciptakan masalah baru?

Jika program ini sejak awal tidak memiliki sumber pendanaan jangka panjang yang masuk akal, tetapi dipaksakan dengan cara brutal seperti memangkas tenaga kerja honorer yang hidupnya sudah pas-pasan, maka ini jelas contoh textbook dari menunggangi kuda mati.

Solusinya? Kalau ini memang prioritas nasional, harus ada skema pendanaan yang tidak mengorbankan sektor lain. Kalau tidak, siap-siap melihat rakyat yang kelaparan demi membiayai makanan bergizi bagi anak-anak, sementara orang tua mereka kehilangan pekerjaan. Ironis? Jelas.


2. IKN yang Sulit Menarik Investor: Kuda Mati atau Sekadar Kuda Sakit?

Ibu Kota Nusantara (IKN) dijual ke publik sebagai kota masa depan, pusat ekonomi baru, dan simbol kemajuan. Tapi ada satu masalah fundamental: Investor enggan masuk. Ini bukan soal kurangnya presentasi manis, tapi karena para investor itu seperti calon mertua: mereka butuh kepastian sebelum menggelontorkan uang.

Sejumlah faktor membuat investor memilih menonton dari jauh daripada ikut bermain:

  • Regulasi yang masih abu-abu, berubah-ubah seperti status hubungan anak muda.

  • Infrastruktur dasar yang belum siap, sementara proyek terus dipaksakan maju.

  • Risiko politik yang tinggi, karena siapa tahu pemimpin berikutnya malah menganggap proyek ini cuma mimpi di siang bolong.

Jika dalam beberapa tahun ke depan tetap seperti ini, tapi pemerintah masih memaksa menggunakan dana APBN untuk mempertahankan proyek ini tanpa kepastian investasi dari pihak swasta, maka ini sudah lebih dari sekadar kuda mati—ini sudah tahap membalsem bangkai agar tetap terlihat segar.

Bukannya proyek ini harus ditinggalkan begitu saja, tetapi kalau tidak ada kejelasan dari mana dana swasta akan masuk dan bagaimana kota ini akan benar-benar menjadi pusat ekonomi baru, maka yang terjadi hanya mega proyek mangkrak lain yang menelan uang rakyat tanpa hasil nyata.


3. Kabinet Gemuk: Kuda Mati yang Overload Penumpang

Pernah melihat angkot penuh sesak hingga hampir jungkir balik? Nah, itulah kabinet kita. Jumlah menteri, wakil menteri, dan staf khusus yang luar biasa banyak bukanlah tanda efisiensi, tapi lebih mirip pesta politik di mana semua orang harus dapat jatah kursi.

Seharusnya, semakin ramping birokrasi, semakin cepat kerja pemerintah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya:

  • Semakin banyak pejabat, semakin lambat koordinasi.

  • Anggaran untuk gaji dan fasilitas makin membengkak, sementara rakyat disuruh hidup hemat.

  • Banyak jabatan yang sebenarnya tidak diperlukan tetapi tetap dipertahankan demi kepentingan politik.

Kalau mau jujur, ini bukan lagi soal kuda mati. Ini soal memaksa bangkai kuda membawa beban lebih banyak sambil berharap ia bisa berlari lebih cepat.

Jika kabinet ini ingin bekerja efektif, seharusnya dilakukan perampingan jabatan, bukan menambah posisi yang hanya jadi beban anggaran. Kalau tidak, pemerintah hanya akan terlihat seperti kapal karam yang terus mengangkut lebih banyak penumpang sampai akhirnya tenggelam total.


Akhir Kata: Sampai Kapan Kita Menunggangi Kuda Mati?

Dari ketiga contoh di atas, satu hal yang jelas: terlalu banyak kebijakan di Indonesia yang sebenarnya sudah gagal, tetapi masih dipertahankan mati-matian. Kita terlalu sibuk menjaga ilusi bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di balik layar, yang kita tunggangi hanyalah bangkai.

Solusi terbaik?

  • Berhenti memaksakan kebijakan tanpa perhitungan yang matang.

  • Cari solusi baru yang lebih masuk akal dan berkelanjutan.

  • Akui kalau sesuatu memang gagal dan segera perbaiki, bukan menutupinya dengan propaganda murahan.

Selama kita masih keras kepala menunggangi kuda mati, jangan heran kalau suatu hari kita terjebak dalam reruntuhan yang kita buat sendiri. Saatnya berhenti, melihat kenyataan, dan mencari kuda yang benar-benar bisa berlari. 🚀

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...