Skip to main content

Perang Propaganda: Bagaimana Zionis Membungkam Dunia dan Mengubur Kebenaran


Perang bukan hanya soal rentetan tembakan atau deru pesawat tempur yang melayang di langit. Ada perang yang lebih senyap namun mematikan: perang propaganda. Ini adalah perang di mana kebenaran dipelintir, fakta dibengkokkan, dan opini publik diarahkan sesuai agenda tertentu. Dan di medan perang ini, zionis telah lama memainkan peran utama dengan mahir, mengaburkan kenyataan pahit yang dialami bangsa Palestina.

Baru-baru ini, memo internal dari The New York Times bocor ke publik. Dalam memo tersebut, para jurnalis dilarang menggunakan kata "genosida," "pembersihan etnis," dan "wilayah pendudukan" dalam pemberitaan tentang Gaza. Ini adalah bagian dari upaya sistematis untuk mengontrol narasi, menutup rapat fakta kejam yang menimpa rakyat Palestina. Bayangkan, kata-kata yang menggambarkan realitas justru dianggap tabu demi menjaga citra zionis tetap bersih di mata dunia.

Senjata Tertajam di Era Modern: Informasi

Sejak awal berdirinya, gerakan zionis paham betul bahwa perang propaganda adalah kunci keberhasilan mereka. Mereka tahu bahwa mengontrol opini publik jauh lebih efektif daripada sekadar mengandalkan kekuatan militer. Maka tak heran jika media internasional besar kerap menggambarkan penjajahan brutal sebagai "pertahanan diri," dan rakyat Palestina yang berjuang justru distempel sebagai "teroris."

Fakta tentang bagaimana warga Palestina terusir dari tanah mereka, bagaimana rumah-rumah dihancurkan, anak-anak dibunuh, dan masjid-masjid dihancurkan sering kali disamarkan atau bahkan dihilangkan dari pemberitaan. Sementara itu, narasi zionis dipoles sedemikian rupa agar mereka tetap terlihat sebagai korban, bukan pelaku. Inilah kekuatan propaganda: membalikkan realitas dengan kata-kata yang dikemas rapi.

Palestina dan Keterikatan Hati Nurani

Perang ini bukan hanya soal geopolitik atau perseteruan dua bangsa. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang seharusnya menyentuh nurani siapa saja. Siapa pun yang memiliki hati tentu akan miris melihat bagaimana anak-anak Palestina tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan, bagaimana ibu-ibu Palestina menatap kosong puing-puing rumah mereka yang rata dengan tanah, dan bagaimana generasi muda Palestina terpaksa mengubur impian mereka di reruntuhan Gaza.

Sebagai manusia, rasa empati seharusnya otomatis muncul. Jika di jalan kita melihat seseorang tertimpa batu besar, apakah kita akan berpaling begitu saja? Tentu tidak. Begitu pula yang terjadi di Palestina. Meski jaraknya ribuan kilometer dari Indonesia, rasa kemanusiaan memanggil kita untuk bertindak. Sekecil apa pun aksi kita, itu adalah bagian dari perjuangan membela mereka yang tertindas.

Amanat Allah dan Kewajiban Muslim

Lebih dari sekadar panggilan nurani, membela Palestina adalah amanat langsung dari Allah kepada umat Islam. Perintah ini jelas tertera dalam firman-Nya:

"Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan." (QS. Al-Anfal: 72)

Palestina bukan hanya sekadar tanah. Di sana berdiri Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam, masjid yang Rasulullah SAW singgahi dalam peristiwa Isra Mi'raj. Membela Palestina adalah bagian dari membela tanah suci yang menjadi simbol akidah umat Islam.

Dalam sejarah, Indonesia pun memiliki catatan emas tentang solidaritas kepada Palestina. Bung Karno pernah menolak mengakui Israel sebagai negara karena sikapnya yang menindas Palestina. "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel," tegas Bung Karno pada tahun 1962. Sebuah sikap berani yang kini patut kita teladani.

Bertempur di Era Digital: Setiap Tindakan Berarti

Medan tempur kita saat ini bukan lagi hanya di garis depan peperangan fisik. Di era digital ini, pertempuran terjadi di media sosial, di ruang-ruang diskusi daring, dan di berita-berita yang kita konsumsi sehari-hari. Bertempur di sini tidak berarti kita harus berdebat habis-habisan dengan para buzzer atau agen propaganda. Ada banyak cara yang lebih efektif namun tetap bermakna.

Menyebarkan kebenaran tentang Palestina, menulis artikel kecil, membagikan video informatif, atau bahkan sekadar mengetik "#FreePalestine" di kolom komentar sudah menjadi bagian dari perjuangan. Sama seperti kisah semut kecil yang membawa setetes air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Mungkin tampak sepele, tapi semut itu tahu bahwa di sisi Allah, setiap tindakan dihitung.

Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan:

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Al-Zalzalah: 7)

Maka, jangan anggap kecil langkah-langkah sederhana ini. Jangan remehkan kekuatan sebuah unggahan, komentar, atau doa yang kita panjatkan. Semua itu adalah bentuk perlawanan terhadap upaya propaganda yang ingin membungkam kebenaran.

Bangsa Indonesia dan Tanggung Jawab Moral

Sebagai bangsa yang pernah merasakan pahitnya penjajahan, sudah sepatutnya kita memiliki solidaritas yang kuat kepada Palestina. UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Sikap ini bukan hanya soal politik, melainkan bagian dari identitas bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.

Kini, perjuangan ini menanti kita semua. Kita tidak harus menjadi ahli debat, pakar politik, atau jurnalis kawakan untuk ikut berjuang. Setiap langkah kecil yang kita lakukan—mulai dari membagikan berita yang jujur, menyuarakan dukungan melalui media sosial, hingga mendoakan keselamatan rakyat Palestina—adalah bentuk kepedulian yang berarti.

Saat dunia berusaha membungkam kebenaran dengan propaganda yang licik, kitalah yang bertugas menjaga nyala cahaya kebenaran itu tetap hidup. Karena pada akhirnya, kebenaran tidak akan pernah bisa benar-benar dikubur. Ia hanya menunggu orang-orang berani untuk kembali mengangkatnya ke permukaan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...