Skip to main content

Untuk Cookie, di mana pun kamu sekarang

 

Cookie tersayang,

Hari ini, rumah terasa lebih sunyi. Tidak ada suara langkahmu yang pelan, tidak ada tatapan matamu yang lembut, dan tidak ada sentuhan hangat tubuhmu yang dulu selalu mencari tempat di samping kami. Hari ini, kami harus belajar merelakan, meski hati belum siap.

Kamu sudah lebih dari sekadar kucing. Kamu adalah keluarga. Sepuluh tahun lebih kamu menemani kami — dari pagi yang riuh sampai malam yang hening, dari tawa sampai air mata. Kamu hadir dalam setiap momen kecil kami, diam-diam mengikatkan diri lebih dalam dari yang pernah kami sadari.

Kami ingat betul bagaimana kamu tak pernah sekalipun merepotkan. Kamu anak yang baik. Tidak pernah mencuri makanan, tidak pernah marah, bahkan saat tubuhmu mulai renta dan sakit pun, kamu tetap lembut. Tidak ada cakar, tidak ada gigitan. Hanya tatapan penuh percaya dan cinta yang membuat kami semakin hancur melihatmu lemah.

Istriku, yang dengan sabar menyuapi dan membujukmu makan, menangis hari ini. Tapi juga bersyukur, karena kamu pergi dengan tenang. Dalam pelukan cinta, dalam bisikan lembut, dalam damai yang sepantasnya kamu terima setelah semua kebaikanmu.

Kami tidak ingin mengingatmu sebagai sosok lemah di akhir hayatmu. Tidak, Cookie. Kami ingin mengingatmu seperti dulu — lucu, gembul, dan penuh semangat. Yang selalu ingin dekat, yang membiarkan kakinya dibersihkan sebelum naik ke tempat tidur, yang datang menghampiri saat kami sedang sedih, dan yang tak pernah lelah menghibur dengan caramu yang unik.

Cookie, terima kasih. Untuk segalanya. Untuk cinta yang tidak bersyarat, untuk kesetiaan yang tidak tergoyahkan, untuk semua momen yang sekarang menjadi kenangan paling indah.

Kalau nanti surga benar-benar ada untuk makhluk kecil seperti kamu, kami mohon — tunggulah kami di sana. Kita akan bertemu lagi. Dalam pelukan hangat yang tak akan pernah dipisahkan oleh waktu atau sakit.

Tidurlah, sayang. Dalam damai dan cahaya.

Dengan cinta yang tak akan habis,
Keluargamu

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...