Skip to main content

Keracunan Makanan Bergizi

 

Di negeri yang penuh dengan jargon “kesejahteraan”, tragedi bisa lahir dari piring makan. Ironisnya, bukan dari santapan liar di warung remang, bukan pula dari jajan sembarangan di pinggir jalan, melainkan dari sebuah program negara yang diberi label suci: Makan Bergizi Gratis.

Entah siapa yang pertama kali menyusun istilah ini—mungkin tim humas dengan niat mulia atau sekadar kreator slogan yang keranjingan kata manis—tapi hari ini kita menyaksikan ironi yang begitu telanjang: ribuan murid sekolah, anak-anak yang seharusnya sedang belajar menulis masa depan, malah masuk rumah sakit dengan perut mual dan kepala pusing. Semua karena apa? Karena mereka taat makan bergizi, sesuai instruksi negara.

Negara tampak lupa satu hal sederhana: gizi bukan sekadar soal label, tapi soal rantai panjang kualitas. Dari dapur ke panci, dari panci ke kotak makan, dari kotak makan ke perut anak. Dan dalam rantai itu, kerakusan, korupsi, dan ketergesaan bisa jadi racun yang jauh lebih cepat membunuh daripada bakteri salmonella.

Yang membuat lebih getir adalah reaksi para penguasa. Ketika laporan demi laporan keracunan massal mencuat—dari Jawa Barat, Sulawesi Tengah, hingga provinsi lain—apa yang kita dengar? Bukan jeda refleksi, bukan seruan untuk berhenti sejenak demi evaluasi, melainkan kalimat kepala batu: program harus jalan terus. Seolah-olah ribuan tubuh anak yang tergeletak di UGD hanyalah “biaya sampingan” dalam proyek mercusuar gizi nasional.

Bukankah ini absurd? Di dunia filsafat, absurditas lahir ketika janji dan kenyataan saling membentur tanpa jembatan. Camus menulis tentang manusia yang mencari makna di dunia yang bisu. Di Indonesia hari ini, absurditas itu hadir dalam bentuk keracunan makan bergizi: program yang katanya menyehatkan justru melahirkan penderitaan. Inilah Sisifus modern, bukan mendorong batu ke puncak bukit, melainkan mendorong ribuan anak ke ruang IGD demi menjaga agar program tak berhenti di tengah jalan.

Pemerintah tampak lebih takut pada citra gagal ketimbang kenyataan pahit di lapangan. Seolah-olah menghentikan program sementara adalah aib besar, padahal terus memaksakan diri dengan korban nyata jauh lebih memalukan. Filosofi apa yang sedang dipraktikkan di sini? Barangkali ini filsafat kekuasaan versi Nusantara: selama laporan bisa dipoles, rakyat bisa dibiarkan menanggung mual.

Kita harus berani menyebut ini dengan nama yang tepat: bukan sekadar “insiden”, bukan sekadar “kasus yang sedang ditangani”, melainkan tragedi yang lahir dari kebijakan tergesa-gesa. Tragedi yang tak seharusnya dibiarkan berulang.

Mungkin, suatu hari nanti, buku pelajaran sejarah akan menuliskan bab kecil tentang sebuah era ketika bangsa ini berhasil melahirkan istilah paling ironis sepanjang masa: “Keracunan Makan Bergizi.” Sebuah kalimat yang mestinya jadi lelucon pahit, tapi hari ini adalah kenyataan getir.

Dan kita, rakyat yang masih punya akal sehat, wajib terus mengingatkan: gizi sejati tidak pernah lahir dari politik pencitraan, tapi dari keberanian mengakui kesalahan, menata ulang, dan menaruh keselamatan manusia di atas harga diri penguasa.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...