Lihatlah gambar itu. Sebuah tram membelah dua kenyataan: di luar, dunia melaju dalam kabur yang mendebarkan; di dalam, manusia duduk dengan tenang, seolah kecepatan hanyalah rumor yang tak perlu dipercaya. Ini bukan sekadar foto — ini cermin. Dan yang memantul bukan sekadar cahaya, tapi pemahaman tentang bagaimana kita hidup di tengah relativitas yang lebih sosial daripada fisikal.
Einstein menulis bahwa tak ada yang benar-benar diam, dan tak ada yang benar-benar bergerak. Semua tergantung dari mana kau melihatnya. Arah bisa berubah hanya karena posisi berpindah. Waktu bisa melambat hanya karena kau melaju terlalu cepat. Dan yang paling lucu: persepsi bisa menipu semua itu, lalu disebut “kenyataan.”
Tapi bukankah begitu pula hidup kita hari ini? Di luar tram kehidupan — di jalanan, di layar berita, di media sosial — segalanya tampak bergerak cepat, gaduh, bahkan gila. Namun di dalam “kerangka acuan” masing-masing, orang-orang duduk tenang di kursinya, yakin bahwa dunia di luar sanalah yang sedang kacau.
Kita semua Einstein dalam versi paling egois: meyakini bahwa sistem acuan kitalah yang benar.
Seseorang yang mendukung penguasa akan berkata negara ini sedang melaju ke arah kemajuan, walau dari luar terlihat seperti sedang tergelincir ke jurang absurditas.
Sementara seorang pengkritik akan menatap ke luar jendela dan berteriak bahwa segalanya telah rusak, padahal dari dalam, orang-orang duduk dengan santai, menikmati perjalanan dengan anggapan bahwa mereka tetap di jalur yang benar.
Keduanya benar, dan keduanya salah — karena kebenaran, seperti kecepatan, ternyata relatif terhadap tempat duduk masing-masing.
Itu sebabnya debat di dunia maya tak pernah selesai. Semua berbicara dari dalam tram-nya sendiri, memandangi dunia luar yang kabur, sambil menuduh yang lain tidak bergerak dengan benar. Tak ada yang benar-benar ingin turun dari kursinya untuk melihat dari luar jendela. Karena di luar sana, udara terlalu dingin, dan kenyataan terlalu tajam.
Einstein barangkali tak pernah bermaksud teorinya jadi metafora sosial, tapi hari ini, relativitas terasa lebih cocok dipakai untuk memahami manusia daripada galaksi.
Kau tahu yang paling menarik dari foto itu? Di dalam tram, lampu menyala hangat, wajah-wajah terlihat tenang. Tapi di luar, dunia terlihat seperti badai kecepatan — gelap, kabur, tak terdefinisi. Itu bukan cuma efek kamera; itu efek dari kenyamanan.
Di dunia yang berjalan cepat, yang paling tenang bukanlah yang paling bijak, tapi yang paling nyaman.
Sementara yang di luar sana, yang melihat kabur, dianggap gelisah, reaktif, bahkan “tidak rasional.” Padahal mungkin mereka hanya melihat dunia dari perspektif yang berbeda — bukan dari kursi empuk yang menenteramkan.
Dan begitulah manusia memelihara ilusi kebenaran. Mereka duduk di gerbongnya masing-masing, percaya bahwa arah yang diambil adalah satu-satunya arah yang mungkin. Sementara itu, yang di luar — yang mencoba berlari mengejar atau menatap dari trotoar — dianggap tak memahami “gerak sebenarnya.”
Padahal kalau kau tanya Einstein, dia akan tertawa kecil dan berkata: “Gerak sebenarnya itu tidak ada.”
Relativitas bukan sekadar tentang ruang dan waktu; ia tentang kesombongan kita. Tentang keengganan manusia untuk mengakui bahwa pandangannya hanyalah salah satu di antara miliaran kerangka acuan yang melayang di alam semesta.
Kita melihat seseorang lambat, padahal mungkin kita yang sedang melaju terlalu cepat.
Kita menuduh orang lain diam, padahal mungkin mereka hanya bergerak dalam arah yang tak kita pahami.
Kita menertawakan orang yang masih percaya pada sesuatu, padahal mungkin dia hanya hidup di frekuensi waktu yang sedikit berbeda — versi ruang dan waktunya sendiri.
Dan di sanalah ironi hidup modern tumbuh subur: semua orang mengaku bergerak menuju masa depan, tapi tak satu pun menyadari bahwa arah itu relatif terhadap tempat duduknya.
Jika Einstein hidup di zaman algoritma, mungkin ia akan menulis teori tambahan: Relativitas Persepsi Online.
Ia akan menjelaskan bahwa waktu di dunia maya berjalan dengan kecepatan berbeda; satu jam di Twitter sama panjangnya dengan satu tahun di kehidupan nyata.
Ia akan menulis bahwa kebenaran pun bisa terdistorsi seperti cahaya di dekat lubang hitam, disedot oleh bias, dibelokkan oleh opini, dan akhirnya lenyap dalam kegelapan ego.
Dan mungkin ia akan berkata bahwa “frame of reference” kini bukan lagi posisi fisik, tapi timeline.
Kau hidup dalam gelembung algoritma, melihat dunia kabur di luar, lalu berkata dengan yakin: “Yang di luar sana salah.”
Foto tram itu sederhana, tapi ia berbicara tentang peradaban kita yang kompleks.
Tentang manusia yang duduk di dalam kenyamanan, memandangi dunia di luar yang tampak kacau, tanpa sadar bahwa mungkin kaca jendelanya sendiri yang kotor.
Tentang betapa mudahnya kita menyalahkan arah, padahal sebenarnya kita hanya sedang mempercepat langkah tanpa tahu tujuan.
Kita hidup di zaman di mana “bergerak cepat” dianggap lebih penting daripada “bergerak benar.”
Padahal jika kau duduk di tram yang salah, semakin cepat kau melaju, semakin jauh pula kau tersesat.
Relativitas mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kecepatan tanpa kesadaran hanyalah bentuk lain dari kebutaan.
Barangkali, di suatu titik, dunia memang akan berhenti berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
Kita hanya perlu menurunkan kaca jendela, merasakan angin, dan mengakui — dengan sedikit kerendahan hati — bahwa yang kita lihat hanyalah versi dunia dari kursi kita sendiri.
Karena di alam semesta ini, tidak ada “diam mutlak,” tidak ada “gerak mutlak,” dan tidak ada “kebenaran mutlak.”
Yang ada hanyalah kita — penumpang di tram besar bernama kehidupan — bergerak dalam arah yang berbeda, tapi tetap berpikir bahwa kitalah yang tidak bergerak.
Dan mungkin, di situlah letak keindahannya: bahwa bahkan dalam kesalahpahaman universal, dunia tetap berjalan.

Comments
Post a Comment