Ada ironi yang tak lekang oleh zaman: manusia mencintai pahlawan, tapi tidak pernah benar-benar siap hidup bersama mereka. Kita memuja keberanian, tapi gemetar ketika keberanian itu datang mengetuk pintu rumah kita dan menuntut ikut berjuang. Dalam setiap zaman, selalu ada orang-orang yang berjuang melawan ketidakadilan — dan selalu pula ada yang mengkhianati mereka, bukan karena benci, melainkan karena takut kehilangan kenyamanannya.
Suatu hari, Che Guevara ditangkap setelah diserahkan oleh seorang gembala. Seorang prajurit yang heran bertanya, “Bagaimana bisa kau mengkhianati seorang pria yang seumur hidup membela hak-hakmu?”
Dan gembala itu menjawab dengan tenang, “Perjuangannya melawan musuh membuat dombaku ketakutan.”
Kalimat itu sederhana, tapi pahit. Di sanalah letak wajah sejati banyak dari kita. Kita ingin dunia lebih adil, tapi jangan terlalu ribut. Kita ingin perubahan, tapi jangan sampai domba-domba kita resah. Domba bisa berarti apa saja: pekerjaan tetap, bisnis kecil, reputasi sosial, atau sekadar rasa aman di tengah sistem yang bengkok.
Che tidak dikalahkan oleh tentara yang menembaknya. Ia dikalahkan oleh kepengecutan yang menjalar seperti kabut — halus, dingin, tapi mematikan. Kabut yang membuat orang lebih memilih ketenangan palsu daripada keadilan yang gaduh.
Bertahun-tahun sebelum Che, ada kisah lain dari Mesir.
Mohamed Karim, seorang panglima, memimpin perlawanan terhadap invasi Napoleon. Ia berjuang bukan demi tahta, bukan demi emas, tapi demi kehormatan tanah air. Namun ketika tertangkap, peradaban memperlihatkan wajah aslinya: tidak selalu yang gagah menang, dan tidak selalu yang kalah hina.
Napoleon, dengan kesombongan khas penakluk yang berbalut kecerdasan, berkata kepadanya:
“Aku menyesal harus membunuh seorang yang begitu berani membela negerinya. Aku tak ingin sejarah menulisku sebagai pembunuh pahlawan. Aku akan memaafkanmu jika kau bisa membayar sepuluh ribu keping emas.”
Karim tertawa. “Aku tak punya uang sebanyak itu. Tapi para pedagang Alexandria berutang padaku lebih dari seratus ribu keping emas.”
Napoleon memberinya waktu. Maka Karim, masih dirantai dan dijaga prajurit, dibawa ke pasar untuk menagih. Ia berharap orang-orang yang dulu ia lindungi akan menebus nyawanya dengan sedikit balas budi. Tapi pasar hanya hening. Tak ada yang datang.
Para pedagang menunduk, menghindar, lalu berbisik, “Dialah penyebab kehancuran kota ini.”
Mereka menuduhnya pembawa sial — bukan pahlawan.
Karim kembali kepada Napoleon dengan dada kosong, tapi hati yang sudah remuk.
Napoleon memandangnya dan berkata pelan,
“Aku tidak akan membunuhmu karena kau melawan kami, tapi karena kau mengorbankan hidupmu untuk bangsa pengecut yang lebih mencintai perdagangan daripada kebebasan.”
Kalimat itu terdengar kejam, tapi juga jujur. Dan mungkin, itulah paradoks abadi yang menyelimuti banyak bangsa: kita ingin pahlawan, tapi kita tidak ingin harga yang harus dibayar untuk menjadi bangsa yang layak punya pahlawan.
Sejarawan dan pemikir Mesir, Mohamed Rashid Rida, kemudian menuliskan kalimat yang mengiris hati:
“Barang siapa berjuang untuk bangsa yang bodoh, sama seperti orang yang membakar dirinya untuk menerangi jalan bagi yang buta.”
Di sana, pengorbanan berubah menjadi absurditas. Orang bijak yang menyalakan cahaya justru dibenci karena silau. Orang jujur yang bersuara justru dibungkam karena mengganggu tidur nyenyak. Orang yang berani berperang demi martabat negerinya malah disebut penyebab kekacauan ekonomi.
Dan orang yang memperjuangkan kebenaran dianggap ekstrem hanya karena dia tidak memilih diam.
Kadang, bangsa yang ingin bebas justru paling takut pada kebebasan.
Bangsa yang ingin makmur justru paling rajin menyembah kenyamanan semu.
Bangsa yang menginginkan perubahan justru paling cepat menuduh siapa pun yang mencoba mengubah sesuatu sebagai pembuat onar.
Kita mungkin tidak lagi hidup di zaman Napoleon, tapi bayangannya masih panjang.
Masih banyak “gembala modern” yang lebih takut kehilangan dombanya — uang, posisi, ketenangan, atau pengikut di media sosial — daripada kehilangan kehormatan.
Masih banyak “pedagang Alexandria” yang menolak menolong karena takut laba mereka menurun.
Dan masih banyak “Che” dan “Karim” di sekitar kita yang berjuang sendirian, diserang bukan oleh musuh, tapi oleh bangsanya sendiri.
Yang tragis, manusia selalu terlambat dalam mencintai pahlawannya.
Kita membiarkan mereka disalib, lalu menyesal setelah salibnya berdiri.
Kita biarkan mereka mati miskin, lalu menulis biografinya dengan tinta emas.
Kita diam ketika mereka difitnah, lalu berkata “betapa mulia perjuangannya” setelah semuanya selesai.
Seolah-olah waktu kematian memberi izin bagi kita untuk bersih dari rasa bersalah.
Che dipuja setelah mati, bukan saat ia masih hidup di hutan.
Karim dikenang sebagai patriot, tapi tak seorang pun yang menolongnya di pasar.
Begitulah manusia: selalu ingin jadi penonton dalam drama kepahlawanan, tapi tak mau jadi pemeran di atas panggung.
Namun dari dua kisah itu, ada satu pelajaran penting — yang pahit tapi mencerahkan.
Bahwa berjuang demi kebenaran tidak boleh bergantung pada siapa yang akan berdiri di sisimu. Karena mereka mungkin berbalik arah di tengah jalan.
Berjuang bukan karena rakyat pantas dibela, tapi karena kebenaran itu sendiri pantas diperjuangkan.
Kita hidup di zaman yang canggih, tapi penyakitnya masih kuno: apatisme, kepengecutan, dan rasa aman yang disembah seolah dewa.
Di hadapan itu, kisah Che dan Karim seolah berkata: “Jangan takut jika perjuanganmu membuat domba-domba ketakutan. Karena lebih baik dombamu gemetar daripada nuranimu membeku.”
Dan mungkin, di sinilah letak keindahan yang paling sunyi dari sebuah perjuangan:
Ia tak membutuhkan sorak-sorai, hanya keyakinan bahwa api yang dinyalakan bukan untuk menerangi orang lain, tapi untuk menjaga agar jiwa sendiri tidak padam.
Selebihnya — biarlah sejarah yang menilai,
karena waktu selalu berpihak pada mereka yang kalah dengan terhormat.

Comments
Post a Comment