Di jalan protokol Jakarta, Minggu pagi berubah jadi ritual paling sakral abad ini: Car Free Day. Bukan lagi soal olahraga, tapi semacam festival keagamaan baru, di mana kamera jadi nabi, dan “vibe estetik” jadi kitab sucinya.
Orang-orang berlari bukan untuk menyehatkan jantung, tapi untuk memastikan wajah mereka terekam dengan pencahayaan yang tepat, kontras yang pas, dan latar belakang yang instagramable. Mereka menyebutnya “lari pagi”. Tapi kalau diperhatikan, langkahnya lebih sering berhenti di depan lensa ponsel daripada melaju di aspal.
Maka lahirlah spesies baru urban: pelari kalcer.
Mereka bukan pelari jarak jauh, tapi pelari jarak sorotan.
Peluhnya bukan hasil perjuangan, tapi efek cahaya.
Dan tujuan akhirnya bukan garis finish, melainkan feed aesthetic consistency.
Ketika Tubuh Jadi Aset Visual
Yang menarik, atau ironis, dari ritual ini bukan hanya narsisme massal yang menyaru sebagai gaya hidup sehat, tapi bagaimana tubuh manusia kini beralih fungsi: dari makhluk hidup menjadi aset visual. Tubuhmu bukan lagi milikmu. Begitu terekam kamera orang lain, baik disengaja maupun tidak, wajahmu bisa menjadi property publik, masuk ke galeri stok foto, reels, hingga dataset AI yang melatih algoritma mengenali “wajah Asia berenergi positif di pagi hari”.
Lucunya, semua terjadi tanpa perlu ada kata “setuju”.
Karena di era digital, persetujuan itu sudah dianggap otomatis, terselip di balik syarat dan ketentuan yang panjangnya melebihi naskah Hamlet.
Kamu jalan, kamu terekam, dan tiba-tiba kamu jadi bagian dari iklan vitamin, AI training data, atau NFT wajah random di marketplace gelap.
Maka, di antara semua peluh dan kamera itu, muncul pertanyaan paling sederhana tapi paling diabaikan: apakah etis memotret wajah orang asing di jalan tanpa izin?
Sebagian mungkin berkata: “Ah, itu kan ruang publik.”
Ya, tapi ruang publik bukan berarti ruang bebas moral.
Sekadar karena seseorang terlihat, bukan berarti dia rela ditampilkan.
Sekadar karena wajahnya ada di frame-mu, bukan berarti hidupnya pantas jadi dekorasi di reels-mu.
Privasi yang Lari Terlebih Dahulu
Sebelum tubuh kita berkeringat, privasi kita sudah lebih dulu berlari, kabur dari genggaman tanpa pernah sempat berpamitan. Foto-foto yang kita unggah, atau yang orang lain ambil tanpa kita sadari, kini jadi komoditas terselubung. Platform fotoyu, shutterstock versi rakyat, bahkan dataset AI internasional, bisa memperdagangkan wajah-wajah manusia seperti komoditas piksel.
Dulu, manusia ditindas karena kelas dan ras.
Sekarang, kita diperas oleh algoritma dan estetika.
Semuanya tetap bermuara pada hal yang sama: tubuh manusia dijadikan sumber nilai tanpa restu manusianya.
Momen Estetik vs Martabat Etik
Yang lucu, atau tragis, adalah bagaimana orang yang dulu marah karena data pribadinya disadap, kini dengan riang rela mengunggah setiap sisi wajahnya dengan caption, lokasi, bahkan jam presisi. Kita hidup di zaman ketika etika kalah cepat dari filter. Ketika martabat dikalahkan oleh “momen candid yang aesthetic banget!”.
CFD, yang dulunya wadah publik untuk napas lega dari polusi, kini malah jadi polusi baru, polusi visual. Ratusan wajah, ribuan ponsel, dan tak satu pun bertanya: bolehkah aku mengambil fotomu? Mungkin karena di kepala kita, etika sudah kalah oleh algoritma yang lapar konten.
Akhirnya, Semua Sekadar Postingan
Kita hidup di dunia di mana setiap langkah jadi potensi konten, dan setiap senyum bisa jadi data. Pelari kalcer mungkin berlari untuk kebugaran, tapi dunia di balik lensanya berlari lebih cepat: menuju era di mana manusia hanya bernilai sejauh resolusi wajahnya bisa diproses mesin.
Jadi, jika suatu hari kamu berjalan di CFD dan seseorang memotretmu tanpa izin, tenang saja. Mungkin wajahmu akan hidup abadi, bukan di ingatan manusia, tapi di server perusahaan yang kamu bahkan tak tahu namanya.
Sementara kamu? Kamu mungkin masih berlari, mencoba menjaga “vibe estetik” agar tak kalah dari algoritma yang diam-diam sudah menyalin wajahmu.

Comments
Post a Comment