Skip to main content

Negara Serius yang Diperintah dengan Gaya Acara Hobi

 

Satir dan sarkasme sebetulnya lahir dari rahim yang sama: kekecewaan terhadap kebodohan yang dilembagakan. Bedanya, satir memilih menulis elegi, sementara sarkasme memilih melempar batu. Tapi di negeri yang pejabatnya bisa memancing di tengah krisis, garis batas itu semakin kabur, karena realita sendiri sudah lebih lucu dari sindiran manapun.

Lihatlah Gibran Rakabuming. Wakil presiden termuda yang prestasinya, sejauh ini, paling “rakyat banget”: membagikan Minyakita, Beras, dan Gula; menghadiri acara Mancing Mania; lalu entah apa lagi setelahnya, mungkin lomba layangan atau festival burung berkicau. Semua kegiatan itu tentu tampak sederhana, merakyat, dan penuh senyum kamera. Tapi ketika jabatan setinggi itu hanya menghasilkan foto-foto PR yang bisa dilakukan panitia tingkat RT, sulit untuk tidak melihatnya sebagai simbol betapa seriusnya negeri ini bermain-main.

Satir akan memuji dengan lembut:

“Akhirnya kita punya wakil presiden yang benar-benar memahami ekonomi pangan, mulai dari harga gula sampai harga umpan.”

Kalimat itu terdengar hangat, tapi menusuk. Sebab satir tidak pernah berteriak; ia hanya menyalakan lampu di ruangan yang gelap.

Sarkasme, sebaliknya, akan langsung menembak:

“Luar biasa, negara ini punya dua pemimpin: satu sibuk terbang ke luar negeri, satunya sibuk memancing ikan di kolam event.”

Lucu, tapi getir. Sebab kita tahu, bukan ikan yang sedang dipancing, melainkan simpati rakyat yang mulai kering seperti kolam yang tak terurus.

Dan justru di sanalah letak tragedi politik kita: bukan karena pejabatnya tak bekerja, tapi karena pekerjaan itu sendiri telah direduksi jadi content. Sebuah jabatan yang seharusnya menavigasi masa depan bangsa, kini bergeser menjadi pameran citra, seolah republik ini hanya butuh figur lucu untuk menutupi absurditasnya sendiri.

Satir adalah cermin; sarkasme adalah retakan di cermin itu. Tapi di negara yang wajahnya sudah lama pecah oleh pencitraan, mana yang tersisa untuk kita lihat? Mungkin hanya bayangan seorang pemimpin muda yang sedang memancing, sementara bangsa di belakangnya tenggelam perlahan dalam tawa yang makin hambar.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...