Satir dan sarkasme sebetulnya lahir dari rahim yang sama: kekecewaan terhadap kebodohan yang dilembagakan. Bedanya, satir memilih menulis elegi, sementara sarkasme memilih melempar batu. Tapi di negeri yang pejabatnya bisa memancing di tengah krisis, garis batas itu semakin kabur, karena realita sendiri sudah lebih lucu dari sindiran manapun.
Lihatlah Gibran Rakabuming. Wakil presiden termuda yang prestasinya, sejauh ini, paling “rakyat banget”: membagikan Minyakita, Beras, dan Gula; menghadiri acara Mancing Mania; lalu entah apa lagi setelahnya, mungkin lomba layangan atau festival burung berkicau. Semua kegiatan itu tentu tampak sederhana, merakyat, dan penuh senyum kamera. Tapi ketika jabatan setinggi itu hanya menghasilkan foto-foto PR yang bisa dilakukan panitia tingkat RT, sulit untuk tidak melihatnya sebagai simbol betapa seriusnya negeri ini bermain-main.
Satir akan memuji dengan lembut:
“Akhirnya kita punya wakil presiden yang benar-benar memahami ekonomi pangan, mulai dari harga gula sampai harga umpan.”
Kalimat itu terdengar hangat, tapi menusuk. Sebab satir tidak pernah berteriak; ia hanya menyalakan lampu di ruangan yang gelap.
Sarkasme, sebaliknya, akan langsung menembak:
“Luar biasa, negara ini punya dua pemimpin: satu sibuk terbang ke luar negeri, satunya sibuk memancing ikan di kolam event.”
Lucu, tapi getir. Sebab kita tahu, bukan ikan yang sedang dipancing, melainkan simpati rakyat yang mulai kering seperti kolam yang tak terurus.
Dan justru di sanalah letak tragedi politik kita: bukan karena pejabatnya tak bekerja, tapi karena pekerjaan itu sendiri telah direduksi jadi content. Sebuah jabatan yang seharusnya menavigasi masa depan bangsa, kini bergeser menjadi pameran citra, seolah republik ini hanya butuh figur lucu untuk menutupi absurditasnya sendiri.
Satir adalah cermin; sarkasme adalah retakan di cermin itu. Tapi di negara yang wajahnya sudah lama pecah oleh pencitraan, mana yang tersisa untuk kita lihat? Mungkin hanya bayangan seorang pemimpin muda yang sedang memancing, sementara bangsa di belakangnya tenggelam perlahan dalam tawa yang makin hambar.

Comments
Post a Comment