Skip to main content

Peri Sampah dan Imajinasi Kolektif Kita

 

Orang yang suka membuang sampah sembarangan, terutama di jalan, sebenarnya punya daya imajinasi yang luar biasa. Mereka percaya pada dunia yang tak kasatmata, dunia di mana ada makhluk mungil bersayap yang bertugas menghapus bekas keacuhan manusia. Dalam kepala mereka, setiap bungkus kopi, tisu bekas, atau puntung rokok yang tergeletak di trotoar akan diambil oleh peri sampah yang datang di malam hari. Lalu esok paginya, jalanan akan kembali bersih seolah tak pernah ada jejak dosa kecil yang mereka tinggalkan.

Ironisnya, sebagian besar dari kita juga percaya hal yang sama. Kita tahu kita membuang, tapi kita yakin akan ada yang memungut. Kita tahu kita mengotori, tapi kita percaya akan ada yang membersihkan. Keyakinan ini begitu kuat, hingga menjadi bagian dari budaya: budaya menyerahkan tanggung jawab kepada pihak yang tak kita kenal, entah itu petugas kebersihan, pemerintah, atau “nanti juga ada yang ngurus.”

Kita hidup di negeri yang religius, tapi anehnya, dosa yang paling sering kita lakukan justru dibungkus dalam bentuk paling sepele: membuang sampah tanpa rasa bersalah. Orang bisa berdebat panjang soal surga dan neraka, tapi enggan menunduk sebentar untuk mengambil bungkus makanan yang ia jatuhkan sendiri. Ia sibuk menilai dosa orang lain, padahal di bawah kakinya sendiri sudah ada bukti kecil dari kemunafikan sehari-hari.

Yang lucu, sebagian orang bahkan punya teori pembenaran spiritual: “Ah, kan ada yang digaji buat bersihin.” Kalimat ini terdengar rasional di permukaan, tapi sebenarnya menyimpan kesombongan kelas yang menjijikkan. Seolah tanggung jawab menjaga lingkungan hanya milik mereka yang memakai seragam oranye, bukan milik manusia yang berpikir dan bernapas. Padahal, setiap kali seseorang membuang sampah sembarangan, ia sedang menumpahkan sebagian beban moralnya ke pundak orang lain, dan itu bentuk kemalasan yang sangat spiritual, karena kita melatih diri untuk percaya bahwa kebersihan bisa dibeli dengan gaji, bukan kesadaran.

Kalau dipikir-pikir, peri sampah itu sebenarnya memang ada. Mereka bukan makhluk halus, tapi manusia nyata: para petugas kebersihan yang bangun sebelum fajar, menyapu tumpukan sisa dari kesombongan kota. Mereka bukan bersayap, tapi bertopi lusuh dan bertangan kasar. Mereka membersihkan apa yang kita buang, dan diam-diam menanggung apa yang kita abaikan. Tapi kita jarang memandang mereka dengan rasa hormat, karena bagi banyak orang, kerja bersih-bersih dianggap rendah, padahal tanpa mereka, peradaban kita akan berbau busuk dalam tiga hari.

Di jalanan, ada paradoks yang menarik: yang berpendidikan sering kali yang paling malas. Mobil-mobil mahal berhenti di pinggir jalan, jendela dibuka, tangan terulur membuang plastik minuman ke luar, lalu melaju seolah tak terjadi apa-apa. Mungkin mereka pikir bumi ini punya sistem auto-cleaning seperti ponsel yang bisa di-reset setiap malam. Padahal yang benar, bumi sedang penuh notifikasi: polusi, banjir, krisis iklim, semua akibat dari kebiasaan kecil yang kita anggap sepele.

Kebersihan, pada akhirnya, bukan sekadar urusan estetika, tapi refleksi dari moralitas. Cara kita memperlakukan sampah menunjukkan bagaimana kita memperlakukan dunia. Dan dunia ini, kalau bisa bicara, mungkin sudah lama ingin berkata, “Aku bukan tempat pembuangan akhir dari egomu.” Tapi karena dunia tidak bisa bicara, ia membalas dengan cara lain: dengan udara yang makin pengap, sungai yang makin hitam, dan kota yang makin penuh bau busuk, bukan hanya dari sampah, tapi dari sikap manusia yang menganggap dirinya terlalu mulia untuk memungut selembar plastik.

Jadi, jika besok kamu melihat seseorang membuang sampah sembarangan, jangan langsung marah. Tatap saja dengan senyum getir. Anggap mereka sedang berkomunikasi dengan imajinasinya sendiri, dengan dunia dongeng di mana peri sampah masih bekerja lembur untuk menambal kesalahan umat manusia. Dunia yang absurd, tapi entah kenapa, kita semua ikut mempercayainya.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...