Tadi pagi, seorang rekan kerja membawa kabar gembira. Istrinya positif hamil, anak kedua sedang dalam perjalanan. Satu ruangan ikut senang, doa pun mengalir dengan tulus. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bertambahnya kehidupan dalam keluarga.
Saat kami duduk di meja kopi langganan, di sela kepulan uap dan obrolan ringan, saya sempat berpesan padanya: perbanyak peluk anakmu selagi mereka masih kecil. Saya ceritakan sedikit tentang masa lalu saya sendiri, tentang anak-anak yang dulu selalu berlari menyambut saya pulang kerja, seperti dua malaikat kecil yang mampu menyapu pergi semua penat dari kantor, kemacetan panjang, atau masalah yang tak pernah benar-benar selesai. Begitu pintu rumah terbuka dan tubuh mungil itu memeluk kaki saya, seolah dunia ikut kembali baik-baik saja.
Sayangnya, masa itu kini tinggal kenangan. Anak-anak saya telah tumbuh besar. Tangan mereka tak lagi otomatis meraih tubuh saya begitu saya pulang. Pelukan kini menjadi barang langka; sesuatu yang hanya terjadi di momen spesial atau setelah diminta. Seiring mereka bertumbuh, jarak pelan-pelan diciptakan, bukan oleh benci atau marah, tapi oleh kedewasaan dan dunia yang mulai mereka miliki sendiri.
Di tengah percakapan itu, saya dan rekan kerja saya menemukan satu persamaan lain: kami berasal dari masa kecil yang serupa. Kami tumbuh dalam rumah yang dikelilingi tembok—tembok kukuh bernama patriarki. Ayah kami keras, kaku, dan percaya bahwa kasih sayang tak perlu ditunjukkan lewat pelukan atau kata-kata lembut. Tidak ada tangan yang membersamai bahu saat kami terluka, tidak ada rangkulan hangat yang menyambut kami pulang.
Kami belajar bertahan, tapi tidak belajar memeluk.
Dan entah kenapa, di titik tertentu dalam hidup, kami sama-sama merasa: pola itu harus dihentikan. Ada generasi yang perlu diselamatkan dari warisan emosional yang kering dan dingin.
Maka dimulailah perubahan kecil itu.
Sebuah pelukan—yang mungkin bagi sebagian orang hanya kebiasaan biasa—bagi kami adalah keputusan besar. Sebuah deklarasi bahwa kasih sayang tidak akan lagi dikurung dalam diam. Bahwa kehangatan bukan kelemahan. Bahwa anak-anak kami harus tahu, sejak dini, bahwa dipeluk adalah hak mereka, bukan hadiah yang harus diperjuangkan.
Kami ingin anak-anak kami tumbuh dengan cerita yang berbeda dari kami.
Jika kelak mereka dewasa dan menjaga jarak, kami ingin mereka tetap tahu bahwa cinta selalu punya ruang untuk pulang.
Dan itu semua dimulai dari satu hal sederhana:
sebuah pelukan.
Comments
Post a Comment