Skip to main content

Catatan Sore

Tadi pagi, seorang rekan kerja membawa kabar gembira. Istrinya positif hamil, anak kedua sedang dalam perjalanan. Satu ruangan ikut senang, doa pun mengalir dengan tulus. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bertambahnya kehidupan dalam keluarga.

Saat kami duduk di meja kopi langganan, di sela kepulan uap dan obrolan ringan, saya sempat berpesan padanya: perbanyak peluk anakmu selagi mereka masih kecil. Saya ceritakan sedikit tentang masa lalu saya sendiri, tentang anak-anak yang dulu selalu berlari menyambut saya pulang kerja, seperti dua malaikat kecil yang mampu menyapu pergi semua penat dari kantor, kemacetan panjang, atau masalah yang tak pernah benar-benar selesai. Begitu pintu rumah terbuka dan tubuh mungil itu memeluk kaki saya, seolah dunia ikut kembali baik-baik saja.

Sayangnya, masa itu kini tinggal kenangan. Anak-anak saya telah tumbuh besar. Tangan mereka tak lagi otomatis meraih tubuh saya begitu saya pulang. Pelukan kini menjadi barang langka; sesuatu yang hanya terjadi di momen spesial atau setelah diminta. Seiring mereka bertumbuh, jarak pelan-pelan diciptakan, bukan oleh benci atau marah, tapi oleh kedewasaan dan dunia yang mulai mereka miliki sendiri.

Di tengah percakapan itu, saya dan rekan kerja saya menemukan satu persamaan lain: kami berasal dari masa kecil yang serupa. Kami tumbuh dalam rumah yang dikelilingi tembok—tembok kukuh bernama patriarki. Ayah kami keras, kaku, dan percaya bahwa kasih sayang tak perlu ditunjukkan lewat pelukan atau kata-kata lembut. Tidak ada tangan yang membersamai bahu saat kami terluka, tidak ada rangkulan hangat yang menyambut kami pulang.

Kami belajar bertahan, tapi tidak belajar memeluk.

Dan entah kenapa, di titik tertentu dalam hidup, kami sama-sama merasa: pola itu harus dihentikan. Ada generasi yang perlu diselamatkan dari warisan emosional yang kering dan dingin.

Maka dimulailah perubahan kecil itu.

Sebuah pelukan—yang mungkin bagi sebagian orang hanya kebiasaan biasa—bagi kami adalah keputusan besar. Sebuah deklarasi bahwa kasih sayang tidak akan lagi dikurung dalam diam. Bahwa kehangatan bukan kelemahan. Bahwa anak-anak kami harus tahu, sejak dini, bahwa dipeluk adalah hak mereka, bukan hadiah yang harus diperjuangkan.

Kami ingin anak-anak kami tumbuh dengan cerita yang berbeda dari kami.

Jika kelak mereka dewasa dan menjaga jarak, kami ingin mereka tetap tahu bahwa cinta selalu punya ruang untuk pulang.

Dan itu semua dimulai dari satu hal sederhana:
sebuah pelukan.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...