Ada satu hal yang terus berulang dalam sejarah manusia: kita tidak pernah percaya bahwa bencana itu nyata—hingga ia berdiri di depan pintu, mengetuk dengan kasar, lalu menerjang masuk tanpa permisi.
Setiap kali banjir merendam kota, setiap kali tanah longsor menyapu pemukiman, setiap kali asap kebakaran hutan mengubah langit menjadi neraka jingga, kita heboh, kita marah, kita saling tuduh. Kita menyalahkan cuaca, menyalahkan curah hujan, menyalahkan “fenomena alam.” Seolah-olah alam tiba-tiba berubah menjadi antagonis dalam sebuah film bencana, padahal manusialah yang sudah menulis naskahnya sejak lama.
Yang memalukan adalah: kita tahu akar masalahnya.
Dan kita memilih untuk mengabaikannya—karena membenahinya tidak menghasilkan dividen secepat membangun gedung kaca baru di atas kawasan resapan.
Di negeri ini, peta rawan bencana bukan dijadikan lampu merah, tetapi brosur investasi.
Dua puluh tahun lalu, masih ada pepohonan di banyak bukit kota kita. Masih ada ruang bagi air untuk menghilang ke tanah seperti yang diajarkan alam sejak planet ini masih remaja. Sungai masih punya lekuk, punya lengkung, punya masa depan. Kini, banyak dari mereka disulap menjadi saluran air lurus berlapis beton, seperti kita ingin membuktikan bahwa kita lebih pandai daripada gravitasi.
Lalu ketika sungai, tak lagi punya ruang untuk bernapas, meluaplah ia—yang disalahkan tetap bukan kita.
Air, yang sejak dulu menjadi sahabat peradaban, kini disebut hama.
Ada juga kota-kota yang merasa dirinya harus terus membesar, seperti anak kecil yang iri dengan tinggi badan temannya. Lahan hijau dijadikan apartemen, tepian pantai dijadikan kawasan bisnis, delta sungai yang rawan ambles—disumbat dengan beton. Ketika amblas betulan, para ahli yang dulu diremehkan dipanggil untuk diwawancarai: “Ini sebenarnya kenapa?”
Jawabannya selalu sama: karena bumi sudah lelah menanggung ego kita.
Tetapi jawaban itu tidak akan pernah masuk ke telinga yang penuh desakan “target penjualan” dan “tenggat proyek.”
Di kampung-kampung dekat gunung, pepohonan ditebangi dengan alasan ekonomi: satu pohon dijual, satu bulan dapur ngebul. Logika bertahan hidup yang pahit tak bisa langsung dipersalahkan. Namun, yang salah besar adalah mereka yang memperoleh keuntungan terbesar dari pohon-pohon hilang itu—pengusaha yang mengantongi laba, politisi yang menandatangani izin, pejabat yang pura-pura lupa.
Dan ketika gunung memuntahkan balas dendamnya dalam bentuk longsor, orang kecil lagi yang dihitung sebagai “korban.”
Dalam statistik bencana, nyawa rakyat jelata menjadi angka—sementara keserakahan elit menghilang sebagai catatan kaki yang tak pernah ditulis.
Setiap tahun kita memperbaiki jalan yang retak, memperkuat tanggul yang jebol, membangun kembali rumah yang lapuk dihantam banjir. Kita sibuk memperbaiki akibat, namun tak menyentuh sebab. Kita menunggu tragedi berikutnya sambil membaca doa yang sama, berharap alam bersabar untuk keserampangan kita.
Padahal, kalau mau jujur, kita sedang hidup dalam negosiasi terus-menerus dengan planet ini.
Dan planet ini, pelan-pelan, mulai bosan.
Apakah semuanya sudah terlambat?
Belum. Tapi manusia punya kebiasaan buruk: baru bergerak setelah kehilangan sesuatu yang seharusnya tidak perlu hilang.
Kita sebenarnya sudah tahu apa yang perlu dilakukan.
Tapi selama ini rencana-rencana itu sekadar menjadi jargon di seminar yang catering-nya lebih mahal dari anggaran konservasinya.
Hutan harus kembali tumbuh — tak cukup hanya di foto kampanye atau di spanduk CSR. Sungai harus dihormati sebagai makhluk hidup yang menentukan kehidupan kota — bukan sekadar jalur pembuangan yang kita tuntut tetap bersih sementara kita terus mencemarinya. Kota harus dirancang dengan logika ekologis, bukan logika siapa yang paling kuat membayar izin mendirikan bangunan.
Dan berhentilah membangun di lokasi yang sudah sejak pertama kali dilihat pun terlihat seperti tempat kematian massal menunggu giliran.
Ini bukan permintaan yang muluk.
Ini adalah syarat minimal untuk tetap tinggal di bumi yang semakin sinis melihat kelakuan kita.
Namun, kita tahu skenarionya:
Bencana datang → drama di televisi → pejabat meninjau lokasi sambil memamerkan rompi.
Konferensi pers → janji perbaikan → warganet saling debat → waktu berlalu.
Sampai kemudian siklus yang sama diputar lagi seperti kaset kusut.
Di antara dua bencana, hanya ada jeda kemunafikan.
Kita—bangsa yang tinggal di atas cincin api dan garis patahan bumi—adalah bangsa yang seharusnya paling rendah hati terhadap alam. Namun nyatanya, kita justru paling lantang memamerkan keangkuhan pembangunan yang menantang maut.
Logika kita absurd:
kita memperluas kota ke arah laut, lalu terkejut ketika kota makin sering tenggelam.
Kita mencukur pegunungan, lalu menangis ketika rumah tertimbun.
Kita meluruskan sungai, lalu protes ketika air tidak tahu lagi ke mana harus pergi.
Alam bekerja dengan hukum fisika.
Kesombongan bekerja dengan hukum karma.
Ketika keduanya bertemu—tebak siapa yang menang?
Ada satu kalimat sederhana yang dunia ingin kita pahami:
Kita bukan penguasa bumi. Kita hanya penyewa tanpa kontrak panjang.
Kalau pemilik rumah murka dan memutuskan mengusir kita, ia tak perlu menggembok pintu atau menendang kita keluar.
Ia cukup menaikkan muka air laut beberapa sentimeter. Ia cukup mengirim awan gelap sehari lebih lama. Ia cukup membuat tanah sedikit bergeser.
Dan seluruh pencapaian teknokratis kita berubah menjadi monumen kesombongan yang tenggelam.
Kota modern sering dianggap puncak peradaban.
Tapi peradaban yang tidak akur dengan alam adalah ironi paling besar dalam sejarah evolusi.
Jika nenek moyang kita melihat bagaimana kita memperlakukan bumi yang dulu mereka hormati, mungkin mereka akan bertanya:
“Kalian menyebut ini kemajuan? Atau kalian hanya mempercepat akhir kalian sendiri?”
Kabar baiknya: kita masih bisa memilih.
Kabar buruknya: kita semakin ahli memilih yang salah.
Namun selama kita belum sepenuhnya tenggelam — baik oleh air maupun oleh kebodohan — kesempatan masih ada. Alam masih memberi waktu. Meski waktunya semakin mahal, semakin pendek, semakin sering ia melirik jam tangan kosmiknya.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah:
Apakah kita akan mengambil kesempatan itu?
Atau menunggu sampai hanya ada museum yang mengenang betapa cerdasnya peradaban kita—hingga ia dihancurkan oleh kesombongannya sendiri?
Karena akhirnya, bencana bukan sekadar tragedi alam.
Ia adalah rapor merah dari planet yang sudah terlalu lama menahan diri.
Dan jika kita tetap keras kepala, bumi akan berhenti menahan.
Saat itu, editorial seperti ini tidak lagi berguna.
Yang tersisa hanyalah sejarah tentang spesies yang melihat datangnya kehancuran—
dan memilih untuk sibuk membangun mal baru.

Comments
Post a Comment